Kerusakan reaktor nuklir Jepang lebih parah

Sumber gambar, BBC World Service
Kerusakan reaktor nuklir Jepang menyusul gempa Maret lalu lebih parah dari perkiraan awal, kata operator Tepco.
Juru bicara operator pembangkit itu mengatakan air bocor akibat tekanan di seputar reaktor 1 dan kebocoran ini diperkirakan akibat melelehnya bahan bakar batangan.
Air yang terkontaminasi juga telah merembes ke laut dari lubang di dekat reaktor 3 namun rembesan telah dihentikan, kata juru bicara itu.
Pembangkit itu rusak parah dalam gempa dan tsunami yang terjadi tanggal 11 Maret lalu.
Sistem pendingin di reaktor juga rusak dan mengakibatkan bahan bakar batangan memanas. Hal ini menimbulkan ledakan di bangunan tempat reaktor nuklir itu.
Tiga reaktor beroperasi saat gempa terjadi.
Para teknisi memompa air ke reaktor untuk memulihkan sistem pendingin.
Tepco (Tokyo Electric Power Company) mengatakan diperlukan sekitar sembilan bulan untuk menutup pembangkit itu.
Sampel air laut

Sumber gambar, BBC World Service
Upaya untuk mendinginkan reaktor paling banyak dilakukan di reaktor 1, yang paling kecil dan paling tua.
Tetapi juru bicara pembangkit itu mengatakan kerusakan telah diperbaiki dan tingkatan air dalam tekanan reaktor berada pada tingkat 5 meter di bawah level yang diperlukan untuk menutup bahan bakar batangan.
Para pakar mengatakan pengumuman Tepco itu tidak berarti kondisi di pembangkit semakin parah karena diperkirakan bahan bakar anjlok segera setelah gempa bumi tanggal 11 Maret.
Tetapi mereka mengatakan evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah upaya menstabilkan reaktor akan terpengaruh.
Sementara itu, Tepco mengatakan tumpahan limbah air dari reaktor 3 telah ditampung di lubang beton.
Sampel air laut di daerah itu mengandung konsentrasi caesium-134 pada tingkatan 18.000 kali dari level yang diizinkan, kata Tepco.
Lebih dari 80.000 orang yang tinggal pada radius 20km dari pembangkit itu telah diungsikan dari rumah-rumah mereka.
Sektor bisnis dan pertanian terhantam sementara belum ada batas waktu untuk penduduk dapat kembali.
Jumlah ganti rugi masih belum diketahui, namun analis memperkirakan lebih dari US$100 miliar.
Pemerintah membicarakan rencana untuk membantu Tepco memenuhi kewajiban ganti rugi setelah perusahaan itu mengatakan memerlukan suntikan dana.
Pengumuman nilai bantuan itu dijadwalkan hari Kamis (12/5) namun Perdana Menteri Naoto Kan mengatakan diskusi lebih lanjut diperlukan.





























