Abbas desak pengakuan PBB atas Palestina

Sumber gambar, Reuters
Presiden Palestina Mahmoud Abbas hari Selasa (17/5) mendesak masyarakat internasional mengakui negara Palestina di PBB bulan September ini.
Di halaman opini surat kabar Amerika The New York Times, Abbas mengatakan tekanan politik Amerika Serikat gagal menghentikan program pemukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Palestina "tidak dapat menunggu tanpa batas waktu" memiliki negara sendiri, tulisnya.
"Perjuangan kami untuk pengakuan sebagai sebuah negara jangan dipandang sebagai pertunjukkan, terlalu banyak pria dan wanita berkorban bagi kami untuk melakukan pementasan politik seperti ini," katanya seperti dikutip Reuters dari tulisan tersebut.
Tulisan ini muncul tiga hari sebelum Presiden Barack Obama menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih.
"Kami menyerukan kepada semua sahabat kami, negeri-negeri cinta damai untuk bergabung dengan kami dalam rangka mewujudkan aspirasi nasional kami dengan mengakui Negara Palestina sesuai perbatasan 1967 dan dengan mendukung keanggotaan kami di PBB," tulis Abbas merujuk kepada wilayah meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Perundingan terhenti
Kunjungan mencolok Netanyahu ke Washington di mana dia akan menyampaikan pidato di sidang gabungan Kongres 24 Mei yang dipandang sebagai bagian dari manuver diplomatik Israel guna membujuk negara besar menentang keanggotaan Palestina di PBB.
Amerika Serikat bersikap dingin soal pengakuan PBB ini dan mendesak Palestina serta Israel tidak mengambil langkah sepihak yang merusak penyelesaian akhir perdamaian.
Perundingan damai yang ditengahi Amerika terhenti tidak lama setelah dimulai di Washington delapan bulan lalu karena perselisihan soal pembangunan pemukiman untuk warga Yahudi di Tepi Barat.
"Pengakuan keanggotaan (Palestina) di PBB akan memberi jalan bagi internasionalisasi konflik sebagai masalah hukum, bukan masalah politik," tulis Abbas.
Menurut Abbas, pengakuan bulan September ketika Majelis Umum PBB menggelar sidang akan memungkinkan Palestina berunding "dari posisi sebagai anggota PBB yang wilayahnya diduduki secara militer oleh negara lain dan bukan rakyat bisu yang siap menerima syarat apapun yang diajukan kepada kami".
Abbas juga membela kesepakatan dengan Hamas, kelompok yang menguasai Jalur Gaza pada 2007.
Hamas dituduh Israel akan menggagalkan perdamaian.





























