Visi Presiden Obama atas Timur Tengah

Sumber gambar, AP
Presiden Barack Obama menyampaikan pidato yang menjelaskan visinya atas Timur Tengah, setelah unjuk rasa di kawasan itu selama beberapa bulan belakangan.
Dalam pidatonya di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dia mengatakan babak baru dalam diplomasi Amerika berubah setelah unjuk rasa di Timur Tengah yang sering disebut dengan istilah Arab Spring atau musim semi Arab.
Menurutnya, masa depan Amerika Serikat terikat dengan Timur Tengah melalui kekuatan ekonomi, keamanan, sejarah, dan juga suratan tangan.
"Akan menjadi kebijakan Amerika Serikat untuk mempromosikan reformasi di seluruh ilayah dan juga untuk demokrasi," kata Obama.
"Peristiwa selama enam bulan belakangan ini memperlihatkan kita bahwa strategi penekanan dan strategi pengalihan tidak berguna lagi. Televisi satelit dan internet memberikan kita jendela ke dunia yang lebih luas, sebuah dunia yang maju secara mengagumkan seperti di India, Indonesia, dan Brasil."
Para pengamat mengatakan bahwa pidato ini dimaksudkan sebagai tanggapan menyeluruh Obama atas revolusi yang melanda dunia Arab.

Sumber gambar, BBC World Service
Wartawan BBC di Washington, Kim Ghattas, melaporkan bahwa dengan tewasnya Osama bin Laden, Presiden Obama menginginkan awal baru dengan dunia Muslim.
Paket bantuan
Dia juga antara lain akan mengumumkan paket bantuan untuk Mesir dan Tunisia, yang berhasil memulihkan demokrasi lewat unjuk rasa yang menjatuhkan Presiden Husni Mubarak serta Presiden Ben Ali.
Untuk Mesir, Obama akan menghapus sebagian hutang negara itu kepada Amerika Serikat sebagai upaya untuk meningkatkan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, Obama membela sanksi baru yang diberlakukan terhadap presiden Suriah, Bashar al-Assad, sehubungan dengan tindakan keras pemerintahnya atas pengunjuk rasa.
"Pemerintah Suriah harus menghentikan penembakan terhadap pengunjuk rasa dan membiarkan unjuk rasa damai," kata Obama.
Dia juga mendesak pembebasan tahanan politk dan mengizinkan pengawas hak asasi manusia dan memberikan akses ke kota-kota seperti Deraa, yang menjadi salah satu tempat unjuk rasa antipemerintah.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan sudah saatnya bagi presiden Suriah untuk memimpin transisi politik atau mundur.
Amerika Serikat untuk pertama kali menjatuhkan sanksi secara pribadi kepada pemimpin Suriah itu karena aksi kekerasan aparat keamanannya.
Sejak unjuk rasa di Suriah marak pada bulan Maret, sedikitnya 850 orang tewas akibat tindakan aparat keamanan negara itu.
Dalam proses perdamaian Israel-Palestina yang terhenti, Obama akan menyampaikan peringatan kepada kedua belah pihak tentang risiko besar jika tidak mencapai kesepakatan damai.
Obama menurut rencana akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Jumat 20 Mei 2011.





























