Saingan Presiden Peru beri selamat

Presiden Peru terpilih Ollanta Humala berfoto dengan keluarganya.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Presiden Peru terpilih Ollanta Humala berfoto dengan keluarganya.

Keiko Fujimori yang menjadi saingan Presiden Peru terpilih, Ollanta Humala, mengakui kemenangan mantan perwira angkatan darat yang berasal dari sayap kiri.

Fujimori -politisi sayap kanan yang merupakan putri mantan Presiden Alberto Fujimori yang kini sedang dipenjara- kalah tipis dalam putaran kedua pemilihan presiden Peru.

Humala sendiri sudah merayakan kemenangannya Minggu malam kemarin.

"Saya mengakui kemenangannya," ujar Fujimori dalam pesan pendeknya ke media.

Fujimori dan Humala berjabat tangan setelah melakukan pertemuan empat mata.

Dalam pidato kemenangannya Humala berjanji, kaum miskin akan mendapatkan bagian yang lebih besar atas kekayaan sektor pertambangan di negara Pegunungan Andes itu.

Dia juga berjanji menghormati pasar bebas, tetapi mendahulukan kepentingan rakyat.

Pendekatan moderat

Menyusul kemenangan Humala, bursa saham di ibukota Lima, sempat melorot lebih dari 10% di sesi pembukaan Senin dan sempat memaksa pejabat bursa untuk menghentikan sementara perdagangan selama dua jam.

Humala akan menggantikan Presiden Alan Garcia yang tidak mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

Humala adalah mantan perwira angkatan darat yang pernah memimpin gerakan pemberontakan melawan Alberto Fujimori di tahun 90-an dan kalah dari Presiden Garcia dalam pemilihan presiden tahun 2006.

Sementara Alberto Fujimori kini sedang menjalani hukuman penjara 25 tahun atas tuduhan korupsi dan membentuk pasukan pembunuh Peru.

Ollanta Humala, yang berusia 48 tahun, berasal dari sayap kiri dengan tradisi intervensi yang negara yang besar.

Kampanye berpusat pada janji untuk meningkatkan peran negara yang lebih besar dalam perekonomian dan redistribusi kekayaan kepada mayoritas miskin warga Peru.

Para pengkritiknya khawatir dia akan menerapkan kebijakan yang mirip dengan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, walaupun Humala mengatakan dia lebih bersimpati pada pendekatan moderat sayapi kiri seperti di Brasil.

Humala juga membantah dugaan bahwa dia terlibat hak asasi manusia dalam perang melawan pemberontakan Shining Path pada masa 1990-an ketika dia masih berpangkat sebagai kapten.