PBB selidiki bentrok berdarah di Sudan

Rumah-rumah penduduk di Abyei yang dijarah dan dibakar pasukan Sudan.

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Rumah-rumah penduduk di Abyei yang dijarah dan dibakar pasukan Sudan.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melakukan penyelidikan terkait pecahnya bentrokan berdarah di daerah kaya minyak Sudan, Kordofan Selatan.

Ketegangan di kawasan ini meningkat menjelang Sudan Selatan secara resmi menjadi negara merdeka Juli mendatang.

Sejumlah masalah kerap memicu ketegangan seperti soal posisi perbatasan dan masa depan kawasan Abyei.

Para pejabat PBB di Sudan mengatakan sekelompok orang bersenjata merampok senjata dari sebuah kantor polisi di ibukota Kordofan Selatan, Kadugli.

Beberapa jam kemudian terjadi tembak menembak di sebuah desa yang berjarak 48km dari Kadugli.

Meski terdapat dua fakta ini, namun belum bisa dipastikan apakah kedua peristiwa itu saling berkaitan.

Kordofan Selatan sebenarnya berada di bawah kendali Sudan, namun di tempat ini banyak ditinggali veteran perang saudara Sudan, terutama yang berasal dari Sudan Selatan.

Partai berkuasa di Sudan Selatan, Partai Gerakan Pembebasan Sudan (SPLM) menuding militer Sudan Utara sebagai penyebab terjadinya bentrokan.

Sudan Selatan mengatakan bentrokan itu melibatkan pasukan utara yang melawan perintah untuk melucuti persenjataan pasukan selatan.

Sejumlah pengamat mengatakan pemerintah di Khartoum mencoba untuk mengumpulkan aset mereka di seberang perbatasan menjelang kemerdekaan Sudan Selatan, Juli mendatang.

Referendum kemerdekaan Sudan Selatan Januari lalu merupakan hasil dari perjanjian damai 2005 yang mengakhiri perang saudara.

Pada 21 Mei lalu, pasukan utara dan milisi bersenjata memasuki perbatasan Abyei yang masih disengketakan. Puluhan ribu orang mengungsi saat rumah mereka dijarah dan dibakar.

Sementara itu Khartoum tidak mengindahkan seruan Dewan Keamanan PBB untuk menarik pasukannya dari Abyei.