Sudan Selatan merayakan hasil referendum

Warga Sudan Selatan

Sumber gambar, Other

Keterangan gambar, Pemisahan akan berdampak pada konsesi minyak di Sudan Selatan

Perayaan dengan tarian, pukulan drum dan sorak-sorai terdengar di ibukota Sudan Selatan, Juba, setelah diumumkannya secara resmi referendum menghasilkan keputusan pemisahan wilayah Selatan dari Utara, Senin (07/02).

Seorang wartawan BBC disana mengatakan warga bertempik sorak saat pengumuman itu dibacakan melalui layar bioskop luar ruang.

Muncul pula kelegaan setelah pihak Utara, yang selama ini bermusuhan, menyatakan penerimaan atas pemisahan ini.

Kantor berita APTN menulis hasil final dari referendum ini disampaikan kepada Presiden Omar al-Bashir serta Presiden Sudan Selatan Salva Kiir di Khartoum, Senin.

Referendum menunjukkan bahwa 98,8 persen pemilih menginginkan pemisahan dari Sudan Utara.

Presiden Al-Bashir menyatakan dukungannya atas hasil referendum itu dan menyatakan ingin jadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat atas berdirinya negeri baru Sudan Selatan.

Pengakuan AS

Menyambut pengumuman ini Presiden AS Barack Obama mengatakan negaranya akan mengakui kemerdekaan Sudan Selatan bulan Juli, saat negara baru itu secara resmi dinyatakan merdeka.

Presiden Obama menyatakan hal ini beberapa jam setelah pengumuman tentang hasil resmi referendum pemisahan Sudan.

Kementrian Dalam negeri AS juga menyatakan Washington akan segera menghapus Sudan sebagai negara sponsor terorisme, sepanjang Khartoum memenuhi kontrak perdamaian serta tidak lagi mendukung terorisme internasional.

Meski demikian negosiasi alot diperkirakan masih akan berlangsung terkait hak sipil warga negara, hak atas penguasaan kekayaan minyak, yang banyak berada di wilayah Selatan, serta garis batas wilayah dua negara.

Dua dekade perang terjadi antara Sudan yang mayoritas Muslim di Utara dan wilayah mayoritas Kristen dan Animisme di Selatan dan telah menelan korban setidaknya dua juta jiwa sebelum perjanjian damai 2005 diteken.

Perang dan kemiskinan membelenggu warga Sudan Selatan sehingga 8,7 juta warganya hidup dalam negara paling miskin di dunia.

Diperkirakan 85 persen populasi setempat buta huruf.