Mantan presiden Tunisia akan diadili

Sumber gambar,
Mantan Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali, yang melarikan diri ke Arab Saudi Januari silam dijadwalkan akan segera diadili.
Persidangan itu akan berlangsung secara in absentia pada tanggal 20 Juni mendatang.
Pelaksana tugas Perdana Menteri, Beji Caid Essebsi, mengatakan persidangan in absentia dilakukan karena Arab Saudi tidak menanggapi permintaan untuk menyerahkan Ben Ali ke Tunisia.
"Saya umumkan untuk pertama kalinya, persidangan akan dimulai tanggal 20,'' kata Essebsi kepada Al Jazeera TV.
"Dia akan disidangkan dalam pengadilan militer dan sipil.''
Serangkaian tuntutan telah disiapkan untuk Ben Ali, mulai dari konspirasi melawan negara hingga penyelundupan narkoba. Pihak berwenang Tunisia mengatakan tuntutan awal terkait dengan penemuan uang tunai, senjata, dan narkoba di istana presiden.
Narkoba yang ditemukan adalah sejenis ganja seberat 2kg, dan uang tunai sebesar US$27 juta yang diduga hasil penyelewengan.
Ben Ali juga diselidiki dalam kasus pembunuhan, penyalahgunaan kekuatan, penyelundupan artifak arkeologi bersejarah, dan pencucian uang.
Istrinya Leila Trabelsi juga menghadapi tuntutan serupa.
'Domba kurban'
Kepada kantor berita AFP, Jean Yves Le Borgne, kuasa hukum Ben Ali, menolak semua tuduhan.
Dia menyebut pengadilan tersebut sebagai 'pesta topeng'.
''Mantan pemimpin ini dijadikan domba korban dengan kepalsuan dan ketidakadilan,'' katanya.
"Penggeledahan yang dilakukan di kantornya merupakan bagian dari rencana untuk mendiskreditkannya,'' tambahnya.
Ben Ali memerintah Tunisia selama 23 tahun sebelum akhirnya digulingkan massa, dan penggulingannya menginspirasi hal serupa sepanjang dunia Arab, dari Mesir hingga Yaman.
Sejumlah anggota keluarga Ben Ali dan beberapa orang terdekatnya ditangkap sesaat setelah dia melarikan diri ke Arab Saudi.
Sebagian negara Eropa juga telah membekukan aset Ben Ali.





























