Pegiat Malaysia masih ditahan

Sumber gambar, ap
Lebih 30 pegiat Malaysia masih ditahan setelah ditangkap pada akhir pekan menjelang rencana aksi unjuk rasa menuntut reformasi pemilu.
Kelompok pegiat dan partai-partai oposisi merencanakan demonstrasi tanggal 9 Juli untuk menentang sistem saat ini yang mereka anggap telah disalahgunakan.
Polisi mengatakan unjuk rasa yang akan dilakukan di Kuala Lumpur tersebut melanggar hukum dan memperingatkan masyarakat untuk tidak ikut serta.
Perdana Menteri Najib Razak dijadwalkan akan mengumumkan bahwa pemilihan umum akan digelar tahun ini.
Razak meminta kelompok oposisi untuk bersaing di tempat pemungutan suara bukannya di jalan. Dia menyangkal terjadi pelanggaran pemilu.
"Jangan menciptakan kekacauan hanya karena menginginkan kekuasaan. Jika terjadi kekacauan maka (pihak penyelenggara) yang bertanggung jawab," katanya dalam wawancara dengan surat kabar Star hari Minggu.
Tuduhan Komunisme
Polisi menahan sejumlah orang akhir minggu lalu dan menghentikan sejumlah bis yang membawa para pegiat, yang sebagian besar berasal dari Partai Sosialis Malaysia (PSM) di bagian utara dan selatan.
Sebagian besar memang sudah dibebaskan tetapi 31 orang masih ditahan di Penang utara, kata juru bicara PSM, Y. Kohila.
Wartawan BBC di Kuala Lumpur, Jennifer Pak, melaporkan para pegiat menuntut perpanjangan masa kampanye, pendaftaran pemilih otomatis dan persamaan akses terhadap media, yang pada umumnya dikontrol pemerintah.
Polisi menuduh pihak-pihak yang ditahan itu membawa selebaran dan kaus oblong yang mendukung unjuk rasa dengan "kata-kata menghasut".
Pemerintah mengatakan mereka berusaha menyebarkan ideologi komunisme, yang berarti "menyatakan perang terhadap raja".





























