Kedubes AS dan Prancis diserang di Suriah

Sumber gambar, BBC World Service
Para pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad menyerang kedutaan Amerika Serikat dan Prancis di Damaskus.
Seorang pejabat kedutaan Amerika Serikat mengatakan kepada BBC bahwa sekelompok orang telah menyerang kedutaan Senin siang yang menimbulkan kerusakan namun tidak ada korban luka.
Pejabat itu mengatakan pemerintah Suriah telah memberikan jaminan perlindungan yang memadai bagi kedutaan namun kali ini mereka lamban memberikan tanggapan.
Para saksi mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa para demonstran memecah jendela-jendela dan mengibarkan bendera Suriah di komplek kedutaan.
Sebelumnya para penjaga di kedutaan Prancis menembak ke udara untuk membebaskan massa.
Ganti rugi
Dalam pernyataannya, Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan kembali tentang kewajiban sebuah negara untuk melindungi fasilitas diplomatik sesuai dengan Konvensi Wina.
"Dalam hal ini dan juga dalam sektor lain, seperti perlindungan hak asasi manusia, pemerintah Suriah gagal."
"Kami mengecam keras penolakan pemerintah Suriah untuk melindungi kedutaan besar kami dan menuntut ganti rugi kerusakan."
Seorang pejabat Kedutaan Besar AS mengatakan kepada BBC bahwa berita yang muncul dari Suriah adalah kenyataan tentang pemerintah yang tetap memenjarakan, menyiksa, serta membunuh warga sipil karena mereka melancarkan protes.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan sedikitnya 1.400 warga sipil dan 350 aparat keamanan tewas sejak unjuk rasa antipemerintah berlangsung di sejumlah wilayah Suriah pada bulan Maret.
Pemerintah Suriah membantah menjadikan warga sipil sebagai sasaran namun sedang mengatasi kelompok bersenjata.
Tuntutan mundur
Aksi protes itu dilancarkan beberapa hari setelah duta besar Amerika Serikat dan Prancis mengunjungi kota Hama di Suriah tengah yang menjadi ajang aksi protes besar antipemerintah pada hari Jumat.
Protes-protes ini bertepatan dengan konperensi yang diorganisasikan pemerintah di Damaskus, yang diboikot oleh banyak pemimpin oposisi.
Pertemuan itu membicarakan kemungkinan reformasi politik yang diharapkan pemerintah akan mengakhiri pergolakan yang sudah berlangsung empat bulan.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan setidaknya 1.400 warga sipil dan 350 personel keamanan tewas sejak demonstrasi dimulai pertengahan bulan Maret.
Demonstrasi di Suriah mendapat ilham dari pemberontakan rakyat di Tunisia serta Mesir dan mulai bergulir pertengahan Maret di kota kecil Deraa sebelum kemudian merembet ke kota-kota lain.
Presiden Suriah Bashar Assad mencoba melindungi kekuasaan keluarganya - yang telah berlangsung empat dasawarsa- dengan janjikan reformasi tapi massa demonstran menyatakan janji-janji itu tidak memadai dan menuntut agar dia mundur.





























