AS klaim Suriah bertanggung jawab atas kematian ribuan warganya

Syria protest

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Aksi menentang Presiden Assad berlangsung sejak pertengahan Maret.

Amerika Serikat menyebut pemerintah Suriah bertanggung jawab atas kematian 2.000 warganya saat meredam aksi demonstrasi.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton saat berbicara menanggapi serangan terbaru di Hama yang dilaporkan menewaskan lusinan orang dalam beberapa hari terakhir.

Warga kota ini menyatakan para penembak jitu dan tank menembaki warga sipil dan mengalami kekurangan persediaan makanan dan obat-obatan.

Para aktivis juga mengindahkan dekrit pemerintah yang mengijinkan partai oposisi setelah puluhan tahun dikuasai partai Baath.

Kebijakan banyak partai merupakan salah satu permintaan penting para pendemo yang telah turun ke jalan dalam jumlah yang besar di Suriah sejak pertengahan Maret silam yang menuntut Presiden Bashar al-Assad mundur.

Amerika Serikat berulang kali menyatakan Assad telah kehilangan legitimasi di Suriah.

"Kami melihat rezim Assad masih berlanjut dan terus secara meningkat menyerang warganya sendiri pada pekan ini,'' kata Hillary Clinton.

"Kami rasa hingga saat ini pemerintah Suriah bertanggung jawab atas kematian lebih dari 2.000 warganya dari berbagai usia.''

Dia menambahkan, AS dan sekutunya kini memberikan tekanan lebih kepada Suriah dengan menambah sejumlah individu yang masuk dalam daftar cekal.

Kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari 1.600 warga sipil terbunuh sejak demo menentang pemerintahan pecah di bulan Maret.

Assad selama ini menuduh kekerasan yang terjadi dilakukan oleh ''gerombolan kriminal bersenjata'' yang didukung oleh kekuatan asing.

Takdir buruk

syrian tanks

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Suriah mengerahkan tank untuk meredam aksi massa di Hama.

Tekanan internasional terhadap Suriah semakin meningkat sejak Dewan Keamanan PBB mengutuk pemerintahan Presiden Assad karena ''melanggar hak asasi manusia secara meluas dan menggunakan kekuatan militer terhadap warga sipil''.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang dikenal sebagai sekutu lama Suriah mengatakan kalau Assad bisa ''menghadapi takdir buruk'' kecuali mau mereformasi dan rekonsiliasi dengan oposisi.

Dan Uni Eropa memperpanjang sanksi terhadap Suriah, dengan menambah sejumlah nama dalam daftar cekal termasuk Presiden Assad dan 34 orang terdekatnya yang masuk dalam lingkaran militer.

Dalam perkembangan terbaru di Hama, lusinan orang dipercaya tewas akibat serangan militer yang telah berlangsung selama lima hari, dengan sejumlah pernyataan yang mengatakan tank menembaki warga yang bergerak menuju Lapangan Assi, di pusat kota berpenduduk 800.000 orang ini.

Pegiat HAM memperkirakan peningkatan serangan terbaru di Hama ini setidaknya menewaskan 150 orang.

Komunikasi dengan kota ini juga diputus, termasuk jaringan listrik dan air.

Seorang warga yang berhasil melarikan diri dari Hama pada rabu (03/08) mengatakan kepada BBC kalau kota itu terlihat ''seperti medan pertempuran, seperti kota Gaza. Sama dengan sejumlah desa di Irak ketika invasi pasukan AS.''

Dia mengatakan tentara menembaki bangunan dan para penembak jitu menembaki setiap orang yang melintas di jalan.

Seorang saksi mata lain mengatakan''orang dibantai seperti domba kurban saat melintas di jalan.''

"Saya melihat dengan mata saya sendiri, seorang anak lelaki mengendarai sepeda motor, membawa sayuran, dilindas oleh tank,'' katanya kepada kantor berita AP.