Amerika harus berbuat lebih atasi utang

Dollar AS

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Cina menilai AS kecanduan utang untuk membiayai anggaran militernya.

Amerika Serikat "harus berbuat lebih" dalam upaya mengatasi persoalan tekanan ekonominya, kata Gedung Putih, setelah lembaga pemeringkat berpengaruh, Standard and Poor's, menurunkan rating AS dari posisi paling atas AAA menjadi AA+.

Juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan negosiasi untuk mengatrol pagu defisit AS demi menghindari status bangkrut berjalan terlalu lama dan memecah belah.

Pernyataan ini muncul sehari setelah pengumuman penurunan rating dari Standard and Poor's.

Ketidakpastian di pasar AS telah menyeret pasar keuangan di seluruh dunia ke dalam situasi kacau sepekan terakhir.

Muncul kekhawatiran AS akan terjerat dalam situasi resesi ganda sementara krisis utang negara-negara pengguna mata uang Euro atau Zona Euro, bisa meluas ke Italia dan Spanyol.

Kompromi untuk mengatasi persoalan utang AS akhirnya lolos di Senat hari Selasa (2/8), dan menaikkan pagu defisit hingga $2,4 triliun dari semula $14,3 triliun, serta memproyeksikan adanya penghematan sedikitnya $2,1 triliun dalam 10 tahun mendatang.

Carney mengatakan kesepakatan tersebut "sebuah langkah penting ke arah yang tepat", namun menambahkan "jalan menuju kesepakatan itu sulit dan kadang kala memecah belah".

Kecanduan utang

Gedung Putih juga mengatakan Amerika Serikat kini harus "berbuat lebih untuk mempertegas kemauan bangsa kita, kapasitas dan komitmen kita untuk bekerja bersama mengatasi tantangan fiskal dan keuangan".

Presiden Barack Obama selanjutnya akan mendorong dibentuknya komite fiskal bipartisan serta para anggota kongres untuk "meletakkan komitmen bersama ke arah pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan jalur fiskal jangka panjang yang lebih mantap diatas perbedaan politik dan ideologi masing-masing", said Mr Carney.

Dalam laporan yang diterbitkan Jumat petang, lembaga pemerintah S&P mengatakan kesepakatan utang AS tidak cukup memadai dan bahwa "politik cari untung" yang muncul dalam berbagai arena debat menunjukkan bahwa "efektivitas, stabilitas dalam hal pembuatan kebijakan dan institusi politik di Amerika telah melemah".

Turunnya rating kredit AS ini, merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah ekonomi AS, banyak dilihat mempermalukan pemerintahan Obama dan bisa jadi negara itu harus mengeluarkan dana lebih untuk keperluan utang pemerintahnya.

John Chambers, kepala komite rating negara-negara S&P, mengkritik tata cara pemerintah AS mengelola ekonominya sehingga mencapai tingkat utang seperti sekarang ini.

Dia menegaskan bahwa "cara tersebut bukan tata kelola yang biasa dilakukan oleh negara dengan tingkat rating tinggi".

Sementara kritik juga diarahkan Cina ke pada Amerika, dimana pemegang surat utang AS terbesar di dunia ini, mencela AS yang dianggap "kecanduan utang".

Kantor berita negara Cina Xinhua menulis kecuali AS bisa mengurangi "anggaran militer super besar serta belanja kesejahteraan yang menggelembung", maka penurunan rating berikutnya tak akan terhindarkan.