AS dorong putus hubungan dengan Suriah

Pegiat mengatakan semakin banyak korban tewas karena tembakan tentara

Sumber gambar, none

Keterangan gambar, Pegiat mengatakan semakin banyak korban tewas karena tembakan tentara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton mendorong semua negara untuk memutuskan hubungan ekonomi dan politik dengan Suriah.

Dia mengatakan pembelian minyak dan gas dari Suriah dan mengekspor senjata akan memberikan Presiden Bashar al-Assad "kenyamanan untuk melakukan kekejaman".

Pernyataan Clinton disampaikan sementara unjuk rasa skala besar terus terjadi meskipun militer telah bertindak keras.

Pegiat mengatakan paling tidak 16 orang tewas hari Jumat (12/8) saat pengunjuk rasa ditembak di beberapa kota Suriah.

Lebih 1.700 orang tewas dan puluhan ribu dilaporkan ditangkap sejak terjadinya kerusuhan menentang kekuasaan keluarga Assad yang telah berlangsung selama 41 tahun sejak bulan Maret.

Wartawan melaporkan tidak banyak yang dapat AS lakukan dalam kaitannya dengan menekan langsung rezim Suriah karena hanya sedikit hubungan diantara keduanya.

Karena itulah Washington meningkatkan tekanan terhadap Eropa, Rusia dan Cina untuk menggunakan pengaruh mereka.

Perluasan tekanan

Hari Jumat, Clinton memperluas himbauannya dengan mendorong semua pihak yang berhubungan dengan Damaskus.

"Kami mendorong negara-negara yang masih membeli minyak dan gas Suriah, negara-negara yang masih mengirim senjata ke Assad, negara-negara yang memberikan dukungan politik dan ekonomi sehingga dia dapat dengan nyaman melakukan kekejaman, untuk berada di pihak yang benar," katanya.

Washington tidak mendesak Assad turun, tetapi berusaha menghimpun kesatuan masyarakat dunia agar Assad tidak bisa mengatakan hanya AS atau pihak Barat yang menentangnya.

Clinton mengulangi pandangan bahwa Assad "kehilangan legitimasi untuk memimpin dan jelas bahwa Suriah menjadi negara yang lebih baik tanpanya".

AS menerapkan sanksi terhadapa Damaskus dan mengatakan hal ini dapat diperkuat dengan meminta negara-negara lain melakukan hal yang sama.

Arab Saudi, Bahrain dan Kuwait sudah menarik duta besar mereka dari Damaskus sementara Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menyatakan metode yang dipakai keamanan Suriah "tidak dapat diterima".