Gaddafi siap kobarkan perang gerilya

Sumber gambar, reuters
Mantan pemimpin Libia, Kolonel Muammar Gaddafi, bersumpah akan mengobarkan perang gerilya untuk waktu yang lama.
Pernyataan Gaddafi ini disiarkan televisi al-Rai di Damaskus, Suriah yang merupakan saluran televisi kelompok loyalis Gaddafi.
"Rakyat (Libia) tidak akan membiarkan kalian merampok minyak yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada Libia," kata Gaddafi seraya mengklaim dirinya masih mendapat dukungan 2.000 suku.
"Siapkan diri kalian untuk perang gerilya dan perang kota di setiap kota untuk mengalahkan musuh," tambah dia.
Sumpah Gaddafi itu adalah diklaim adalah pernyataan kedua Gaddafi dalam satu hari. Sementara itu keberadaan Gaddafi hingga kini masih belum diketahui.
Gaddafi juga menjanjikan Tripoli akan direbut kembali dan untuk saat ini kota kelahiran Gaddafi, Sirte, menjadi ibukota Libia.
Namun saat ini dikabarkan pasukan pemberontak sudah mengepung Sirte dan siap untuk melakukan serangan besar-besaran.
Pemberontak memberi ultimatum agar pasukan pro Gaddafi menyerah paling lambat Sabtu (3/9).
Ditolak Aljazair
Di saat keberadaan Gaddafi belum kunjung terdeteksi, dikabarkan pekan lalu istri, kedua putra dan seorang putri Gaddafi sudah terbang ke negeri tetangga, Aljazair.
Media massa di Aljazair bahkan melaporkan Gaddafi sempat mencoba untuk mencari suaka politik di negeri tetangganya itu.
Sebuah harian Aljazair, El Watan, melaporkan sang kolonel mencoba berbicara kepada Presiden Aljazair, Abdelaziz Bouteflika, dari kota Ghadamis di perbatasan kedua negara.
Namun, dilaporkan, Presiden Bouteflika menolak untuk menerima telepon dari Gaddafi.
Jauh sebelum Tripoli direbut pasukan anti Gaddafi, sang kolonel sudah lama tak terlihat di muka publik.
Berbagai spekulasi menyebut Gaddafi sudah berada di luar negeri, namun berulang kali pula spekulasi itu dibantah para loyalisnya.
Pencairan dana

Sumber gambar, AP
Sementara itu, para anggota senior Dewan Transisi Nasional (NTC) Libia bertemu para diplomat internasional dalam pertemuan tingkat tinggi yang membahas masa depan Libia pasca Gaddafi.
Dalam pertemuan yang disponsori Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, dan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, disepakati pencairan aset-aset Libia di luar negeri yang selama ini dibekukan.
"Setelah melakukan pembicaraan, aset Libia di negeri kami sebesar US$15 miliar (sekitar Rp129 triliun) segera dicairkan," kata Presiden Sarkozy.
Pekan ini, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat sudah mencairkan aset Libia yang dibekukan sebesar US$5 miliar atau hampir Rp46 triliun. Langkah ini juga diikuti sejumlah negara lainnya.
Di sisi lain, keberadaan NTC sebagai representasi pemerintahan Libia semakin mendapatkan pengakuan. Rusia menjadi negara terakhir yang mengakui NTC sebagai pemerintah Libia yang sah saat ini.
Sedangkan Uni Afrika meski belum secara resmi mengakui NTC, namun beberapa negara anggotanya secara individu sudah memberi pengakuan untuk NTC.
Dan Uni Afrika masih menyayangkan intervensi NATO dalam konflik Libia.
Bahkan salah satu negara utama Uni Afrika, Afrika Selatan, memboikot pertemuan Paris yang membahas masa depan Libia.





























