Ulama radikal Anwar al-Awlaki tewas di Yaman

Anwar al-Awlaki

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Anwar al-Awlaki disebut sebagai pemimpin kunci al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Seorang ulama Islam radikal kelahiran Amerika Serikat yang diduga pemimpin al-Qaeda, Anwar al-Awlaki, tewas di Yaman.

Namun Kementrian Pertahanan Yaman dalam pernyataannya hanya menyebutkan 'dia tewas bersama beberapa rekannya'.

Tidak ada rincian lebih lanjut atas kematiannya dan belum ada pengukuhan berita ini secara independen.

Anwar al-Awlaki merupakan warga suku Yaman dan diburu oleh aparat keamanan Yaman sejak Desember 2007.

Amerika Serikat menyebut dia sebagai 'teroris dengan spesialisasi global' karena perannya dalam sejumlah serangan dan Presiden Barack Obama dilaporkan langsung memerintahkan agar dia dibunuh.

Kantor berita AFP -yang mengutip sumber-sumber masyarakat suku Yaman- mengatakan al-Awlaki tewas dalam sebuah serangan udara di provinsi Marib, yang disebut sebagai wilayah yang banyak dihuni pendukung al-Qaeda.

Imam di San Diego

Tidak jelas apakah dia tewas akibat serangan udara Angkatan Udara Yaman atau oleh pesawat tak berawak milik Amerika Serikat.

Jika tewasnya Anwar al-Awlaki bisa dikukuhkan maka ini jelas merupakan perkembangan penting karena al-Awlaki mampu mencapai orang-orang yang bisa disisipi ide radikali dengan menggunakan media video.

Para pejabat keamanan Amerika Serikat menagtakan dia merupakan pemimpin kunci al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Dia disebut terlibat dalam aksi pembunuhan di pangkalan militer AS di Ford Hoot, Texas, serta upaya pemboman bom Detroit pada Natal 2009, serta upaya pemboman di Times Square, New York, yang berhasil digagalkan.

Ketika dia masih menjadi imam di masjid San Diego pada tahun 1990-an, kotbahnya dihadiri oleh dua orang yang belakangan terlibat dalam aksi serangan 11 September, Khalid al-Midhar dan Nawaf al-Hazmi.

Dalam video yang ditayangkan November tahun lalu, dia menyerukan pembunuhan warga Amerika Serikat dengan mengatakan mereka berasal dari 'partai setan'.

Beberapa minggu setelah tesebarnya video itu, dia selamat dari serangan di Provinsi Shabwa yang menewaskan 30 militan lebih.