Assad peringatkan Barat soal intervensi

Sumber gambar, Reuters
Presiden Suriah Bashar al-Assad memperingatkan negara barat akan terjadinya "gempa" jika muncul campur tangan dalam masalah dalam negerinya.
Dalam sebuah wawancara dengan koran Inggris Sunday Telegraph, Presiden Assad mengatakan keterlibatan negara barat akan berisiko mengubah Suriah menjadi "Afghanistan baru".
Komentarnya muncul setelah terdengar seruan dari Sekretaris Jenderal PBB agar represi di negera itu dihentikan.
"Suriah kini telah menjadi simpul di wilayah ini. Ini titik pantul dan jika Anda bermain-main dengan tanahnya maka akan terjadi gempa bumi," katanya seperti dikutip koran terbitan London itu.
"Masalah apapun di Suriah akan membakar seisi wilayah. kalau ada rencana untuk membelah Suriah berarti rencana itu akan memacah seisi wilayah," tambah Assad
"Anda mau melihat ada Afghanistan lain, atau puluhan Afghanistan (baru)?" tanyanya.
Presiden Assad mengakui "banyak kesalahan" dibuat pasukan militernya pada bagian awal aksi menentang penguasa, namun kepada Telegraph dia menegaskan "cuma teroris" yang sekarang jadi target pasukannya.
Korban bertambah
Dalam wawancara yang sama Presiden Assad juga mengakui memberi respon berbeda terkait gelombang unjuk rasa pro demokrasi di dunia Arab (Arab Spring), dibanding para pemimpin negara Arab lain yang sudah tumbang.

Sumber gambar, BBC World Service
"Kami tidak memlih jalan untuk jadi pemerintah yang keras kepala," dia berkeras. "Enam hari setelahnya (sejak gelombang protes dimulai), saya memulai reformasi."
Menurut Presiden Assad gelombang unjuk rasa itu merupakan cerminan "pergolakan antara Islamisme dan pan-Arabisme."
"Kami sudah melawan kelompok Persaudaraan Muslim sejak tahun 1950an dan sampai sekarang masih kami lakukan," katanya.
Kalangan pegiat mengatakan tiga lagi korban tewas akibat serbuan aparat keamanan pada hari Sabtu (29/10), saat tank dikerahkan menghadapi aksi protes di distrik bersejarah kota Homs.
Insiden ini merupakan buntut dari salah satu aksi protes paling berdarah yang pernah terjadi dalam tujuh bulan sejak aksi dimulai, dimana 40 tewas dalam aksi demo pasca sholat Jumat.
Sepanjang aksi dimulai sudah lebih dari 3.000 orang diduga tewas sejak Maret lalu.
Pernyataan terakhir dari PBB mendesak agar Presiden Assad menanggapi tuntutan perubahan dengan reformasi serius, bukan dengan represi dan kekerasan serta menyerukan dihentikan segera seluruh operasi militer.
Seruan yang sama sebelumnya dilayangkan negara-negara anggota Liga Arab yang pada Jumat lalu mengirim "pesan darurat" kepada pemerintah Suriah, mengutuk "berlanjutnya pembunuhan warga sipil" yang berunjuk rasa.





























