Bentrokan akibatkan 23 tewas di Suriah

Aktivis Suriah menyebutkan 23 orang tewas dalam bentrokan senjata terbaru antara tentara pembelot dengan pasukan yang loyal terhadap Presiden Bashar al-Assad.
Sejauh ini angka tersebut masih belum bisa dikonfirmasi kepada pemerintah Suriah karena pihak keamanan negara itu membatasi wartawan asing melakukan peliputan di negara tersebut.
Peristiwa bentrokan terakhir ini terjadi di tengah kunjungan Wakil Presiden AS, Joe Biden ke Turki yang tengah memperingati dampak kasus kekerasan di Suriah.
Biden mengatakan kekerasan di Suriah jika terus berlanjut akan memicu konflk sektarian.
Dia juga menggambarkan apa yang terjadi di Suriah ini sebagai "represi yang brutal."
"Kami bersama dengan Turki akan terus menyuarakan supaya Presiden Bashar al-Assad mundur dari jabatannya," kata Biden.
Biden juga menyambut langkah Komisi HAM PBB yang mengutuk kekerasan yang masih terus berlangsung di Suriah.
Bulan maut
Kekerasan bersenjata yang menimbulkan korban jiwa juga terjadi pada Sabtu (3/12) pagi waktu setempat.
Lembaga Pemantau HAM Suriah mengatakan tujuh tentara pemerintah, lima anggota pasukan pemberontak dan tiga warga sipil tewas dalam pertempuran di kota Idlib yang berbatasan dengan Turki.
Mereka juga melaporkan dua orang pengunjuk rasa yang tewas, saat pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah kelompok pengunjuk rasa yang melakukan aksinya di kota Ariha.
Dari pemantauan lembaga tersebut menunjukkan bahwa bulan November sebagai bulan maut di mana korban paling banyak jatuh yaitu sekitar 950 orang tewas akiabat pengejaran, bentrokan dan sejumlah kekerasan lainnya.
Sementara itu kantor berita pemerintah Suriah, Sana melaporkan pasukan keamanan telah berhasil meledakan sejumlah bom di pinggir jalan yang diletakan teroris dan menjinakkan sejumlah bom lainnya.
Sana juga menyebutkan pasukan Suriah telah menangkap 14 orang bersenjata yang menurut mereka telah melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan warga sipil dan tentara pemerintah.
Penangkapan juga dilakukan terhadap sejumlah orang yang dituduh menyelundupkan senjata dan obat bius di kota Tel Kalakh.
Obat bius dan senjata ini menurut pemerintah dimasukan dari wilayah Libanon.





























