Oposisi Rusia ancam unjuk rasa berskala besar

Sumber gambar, AP
Beberapa jam setelah hasil pemilu legislatif Rusia diumumkan, kelompok oposisi menyatakan akan menggelar unjuk rasa yang diklaim terbesar dalam 20 tahun terakhir.
Pada Sabtu (10/12) pagi waktu setempat, puluhan ribu orang diperkirakan akan berkumpul di pusat kota Moskow, untuk sebuah acara yang disebut sebagai kemarahan atas hasil pemilu parlemen.
Unjuk rasa dalam skala kecil juga disiapkan di beberapa kota di seluruh Rusia.
Menghadapi rencana unjuk rasa ini, sedikitnya 50.000 polisi dan tentara anti huru-hara telah dikerahkan di Moskow.
Demonstrasi ini disiapkan sebagai reaksi atas hasil pemilu legislatif yang dianggap penuh kecurangan.
Komisi Pemilu Rusia sebelumnya mengumumkan kemenangan Partai Rusia Bersatu pimpinan Perdana Menteri Vladimir Putin, yang disebutkan memperoleh 49% suara.
Selama penghitungan hasil pemilu ini, kalangan oposisi dan pengamat internasional menganggap ada kecurangan, sehingga mereka menuntut pemilu harus digelar ulang.
Mereka menentang hasil pemilu, dengan menggelar unjuk rasa sejak awal pekan ini, yang kemudian dihadapi aparat keamanan dengan menangkap beberapa orang pimpinan pengunjuk rasa, utamanya di Moskow dan St Petersburg.
Tempat unjuk rasa dipindah
Seperti dilaporkan wartawan BBC di Moskow, Daniel Sandford, semenjak unjuk rasa digelar awal pekan ini, Moskow menyerupai negara polisi ketimbang negara demokrasi.
Sejauh ini aparat berwenang telah menangkap ratusan orang, yang dianggap melanggar aturan berunjuk rasa, meskipun polisi telah mengijinkan unjuk rasa tersebut.

Sumber gambar, AP
Sesuai kesepakatan antara pemimpin oposisi dan aparat kepolisian, lokasi unjuk rasa akhirnya boleh dilanjutkan, namun lokasinya dipindahkan dari pusat pemerintahan ke tempat lain.
Sementara itu, sebanyak 13.000 warga kota St Petersburg melalui jejaring sosial, menjanjikan untuk kembali turun ke jalan, bersama 20.000 orang lainnya yang sebelumnya telah melakukan unjuk rasa sejak awal pekan ini.
Wartawan BBC di Moskow menyebutkan, protes jalanan yang melibatkan kelompok oposisi ini merupakan yang terbesar semenjak Vladimir Putin berkuasa belasan tahun silam. "Ini hal yang luar biasa di masa Putin berkuasa," kata Daniel Stanford.
Namun demikian, belum diketahui apakah unjuk rasa yang diprakarsai kelompok kelas menengah ini kelak akan makin menyebar dan membesar





























