Suriah janji balas aksi bom dengan tangan besi

Sumber gambar, AP
Kementerian dalam negeri Suriah berjanji untuk ''melawan dengan tangan besi'' atas apa yang disebut sebagai ''peningkatan eskalasi'' serangan teror yang dilakukan anti pemerintahan.
Pernyataan ini keluar setelah sebuah bom meledak di ibukota, Damaskus, menewaskan 26 warga sipil dan anggota pasukan keamanan.
Kelompok oposisi menuduh pemerintah yang meledakkan bom untuk mencemarkan lawan politik dan mempengaruhi pengawasan Liga Arab.
Pengawasan ini dilakukan untuk menilai kemajuan rencana perdamaian kawasan.
Bagaimanapun, aktivis mengatakan langkah kekerasan yang dilakukan pemerintah terus berlanjut dengan jumlah korban yang terus meningkat sejak tim pengawas tiba.
PBB menyebut lebih dari 5.000 warga sipil tewas sejak aksi anti Presiden Bashar al-Assad dimulai 10 bulan lalu.
Permainan kotor
Ledakan di Damaskus terjadi di sebuah perempatan yang sibuk di distrik Midan, Damaskus.
TV negara menayangkan jendela pecah dengan bercak darah yang diketahui sebagai bus yang membawa anggota polisi.
Otoritas mengatakan kebanyakan yang tewas adalah warga sipil, tetapi sejumlah anggota pasukan keamanan ikut menjadi korban.
Menteri Dalam Negeri Ibrahim al-Shaar menyatakan serangan dilakukan oleh seorang pembom bunuh diri. yang dia sebut ''meledakkan diri sendiri dengan tujuan untuk membunuh banyak orang.''
"Kami akan melawan balik dengan tangan besi ke setiap orang yang berupaya mengganggu keamanan dalam negeri atau warga negaranya,'' katanya.
Koalisi oposisi utama Suriah, Komisi Nasional Suriah, SNC, mengatakan serangan itu dilakukan sendiri oleh pemerintahan Assad untuk mencemarkan para lawan politiknya.
"Ini adalah kelanjutan dari permainan kotor rezim sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari aksi demonstrasi besar,'' kata juru bicara Omar Idlibi.
"Kami mendesak pembentukan komite independen internasional untuk menyelidiki kejahatan ini yang kami yakini direncanakan dan dilaksanakan oleh rezim.''
Mayor Maher al-Naimi, seorang juru bicara militer anti pemerintahan, Tentara Bebas Suria, FSA, mengatakan ledakan bom sebuah ''rencana dan tindakan teroris sistematis yang dilakukan oleh pasukan keamanan Presiden Bashar al-Assad''.
Pemimpin FSA Kolonel Riad al-Asaad dilaporkan membantah terlibat dalam serangan.





























