Pemogokan di Nigeria terus berlanjut

Sumber gambar, Reuters
Pembicaraan terakhir antara Presiden Nigeria Goodluck Jonathan dan serikat pekerja berakhir tanpa adanya tanda-tanda kesepakatan soal kebijakan pencabutan subsidi BBM.
Meski tak menemukan kata sepakat, serikat pekerja meminta para pengunjuk rasa tidak turun ke jalan demi alasan keamanan.
"Kami sepakat untuk tinggal di rumah agar kami tidak menjadi kelompok yang membahayakan hidup orang lain terkait situasi keamanan di Nigeria," kata Presiden Kongres Buruh Nasional Nigeria Abdulwaheed Omar kepada televisi lokal.
Pernyataan Omar ini terkait rangkaian bentrok sektarian yang mengakibatkan puluhan orang tewas di berbagai wilayah Nigeria.
Meski demikian, Omar menegaskan aksi pemogokan nasional yang sempat berhenti pada akhir pekan akan dimulai kembali pada Senin (16/1).
Sejauh ini belum diperoleh kepastian apakah para pekerja perminyakan akan ikut serta dalam aksi mogok ini, setelah mereka dipaksa ikut pemogokan jika kesepakatan tidak tercapai.
Pengaruhi pasar dunia
Jika para pekerja sektor perminyakan bergabung dengan aksi mogok ini dipastikan akan mempengaruhi pasar minyak global.
Sebab Nigeria adalah produsen minyak mentah terbesar keenam di dunia demikian laporan wartawan BBC di Abuja Mark Doyle.
Minyak mentah memasok 80% pendapatan Nigeria, namun karena korupsi dan salah urus negeri itu tak memiliki satupun sarana pengolahan minyak mentah.
Akibatnya Nigeria harus mengimpor seluruh kebutuhan BBM-nya.
Aksi mogok nasional ini dipicu kebijakan pemerintah Nigeria yang mencabut subsidi BBM sejak 1 Januari lalu.
Kebijakan tidak populer ini langsung membuat harga BBM di negeri itu melonjak dua kali lipat.
Sebelumnya satu liter bensin di Nigeria dihargai 65 naira atau sekitar Rp 3.300. Kini harga BBM di negeri itu menjadi 140 naira atau sekitar Rp7.500.
Situasi ini, lanjut Doyle, merupakan pukulan berat bagi sebagian besar penduduk Nigeria yang hidup di bawah garis kemiskinan.





























