Temuan Amnesty International di Libia

Sumber gambar, AFP
Organisasi hak asasi manusia Amnesty International mengatakan beberapa orang meninggal dunia setelah disiksa oleh milisi di pusat-pusat tahanan Libia.
Amnesty International mengklaim telah melihat pasien-pasien di Tripoli, Misrata dan Gheryan. Mereka menderita luka terbuka antara lain di bagian kepala dan punggung.
"Penyiksaan dilakukan oleh satuan keamanan dan militer yang diakui secara resmi dan juga oleh banyak milisi bersenjata yang beroperasi di luar kerangka hukum," kata Amnesty International.
"Setelah sebelumnya ada janji-janji untuk mengendalikan pusat-pusat tahanan, sangat mengerikan mendapati tidak ada kemajuan untuk menghentikan penggunaan penyiksaan," kata Donatella Rovera dari Amnesty International yang berpusat di London.
Sebelumnya Komisaris Tinggi PBB untuk Hal Asasi Manusia, Navi Pillay mengatakan dia sangat prihatin dengan penahanan yang dilakukan milisi.
Menurut Navi Pillay, lebih dari 8.500 orang ditahan oleh kelompok-kelompok milisi di sekitar 60 pusat tahanan.
Banyak dari mereka yang ditahan dituduh sebagai pendukung Gaddafi termasuk pula warga dari kawasan Sub Sahara Afrika.
Tantangan rekonsiliasi
Sementara itu utusan PBB untuk Libia, Ian Martin mengatakan kelompok-kelompok milisi yang tidak bisa dikendalikan menyebabkan peningkatan kekacauan di Libia dan secara tidak sah menahan ribuan orang di pusat-pusat tahanan.
Kepada Dewan Keamanan PBB di New York, Ian Martin mengatakan berbagai bentrokan antara warga bersenjata di Bani Walid dan pasukan revolusi selama ini diberitakan secara salah sebagai upaya pasukan pro-Gaddafi merebut kembali kantong pendukung mendiang pemimpin Libia, Kolonel Gaddafi itu.

Sumber gambar,
Namun demikian, kata Martin, masalah itu menekankan betapa besar tantangan untuk mendamaikan para pendukung Gaddafi dan kelompok pemberontak yang mengalahkan mereka.
Dia menambahkan milisi-milisi berada di balik serangkaian bentrokan maut di Tripoli dan pertempuran di sejumlah kota selama bulan ini.
"Rezim sebelumnya mungkin saja sudah digulingkan, tetapi ada kenyataan pahit bahwa rakyat Libia terpaksa harus tetap menjalankan hidup mereka dengan warisan yang mengakar sangat dalam," jelas Ian Martin.
Ian Martin mengatakan pemerintah sementara Libia telah menempuh langkah-langkah untuk menonaktifkan mantan-mantan kombatan tetapi pemerintah kesulitan membangun legitimasi di antara kelompok-kelompok bersenjata yang berkembang.





























