Cina akan mengirimkan utusan senior ke Suriah

Tank pemerintah Suriah di Homs

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sekjen PBB mengatakan ada potensi kejahatan atas kemanusiaan di Suriah.

Cina akan mengirimkan seorang utusan senior ke Suriah untuk mencoba menengahi konflik berkepanjangan di negara itu.

Wakil Menteri Luar Negeri, Zhai Jun, akan terbang ke Damaskus pada Jumat 17 Februari.

Dalam pernyataan di situs Kementrian Luar Ngeri Cina hari ini (Kamis 16 Februari), Zhai menegaskan bahwa Cina tidak mendukung intervensi militer untuk perubahan rezim di Suriah.

Dia menambahkan bahwa sanksi maupun ancaman sanksi atas Suriah tidak mendukung penyelesaian yang tepat atas masalah Suriah.

Bagaimanapun Zhai juga mengecam kekerasan atas warga sipil dan meminta pemerintah untuk menghormati keinginan yang sah untuk reformasi politik.

Memveto resolusi

Cina bersama Rusia menggunakan veto atas rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam kekerasan aparat keamanan Suriah atas para pengunjuk rasa.

Resolusi itu juga mendukung resolusi Liga Arab yang mendesak agar Presiden Bashar al-Assad mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden.

Seorang juru bicara Kemenlu Cina tidak bisa memastikan apakah Zhai Jun akan bertemu juga dengan perwakilan oposisi dalam kunjungan dua harinya ke Suriah.

Pekan lalu, Zhai sudah bertemu dengan seorang utusan oposisi Suriah di Beijing.

Majelis Umum PBB hari ini akan melakukan pemungutan suara atas resolusi Liga Arab yang mengutuk pelanggaran hak asasi oleh pemerintah Suriah.

Prioritas penghentian kekerasan

Sekjen PBB, Ban Ki-Moon, sudah menyatakan ada potensi kejahatan atas kemanusiaan berlangsung di Suriah dan menghentikan pembunuhan warga sipil.

"Kita melihat pemukiman dibom secara serampangan, rumah sakit digunakan sebagai pusat penyiksaan, dan anak-anak yang masih berusia 10 tahun dibunuh maupun diserang. Kita melihat dengan hampir pasti tingkat kejahatan atas kemanusiaan," katanya kepada para wartawan usai bertemu dengan Presiden Austria, Heinz Fischer.

Ban Ki-Moon menambahkan sudah membaca rencana Presiden Bashar al-Assad untuk menggelar referendum atas konstitusi baru dalam waktu 90 hari, seperti yang diumumkan pa hari Rabu.

Namun ditegaskannya bahwa prioritas saat ini adalah menghentikan pertumpahan darah dalam aksi unjuk rasa menentang Presiden Bashar al-Assad.

Para pegiat demokrasi Suria menyebutkan warga yang tewas akibat kekerasan sejak unjuk rasa Maret tahun lalu sedikitnya mencapai 6.000 jiwa.

Hari Kamis laporan-laporan menyebutkan tentara pemerintah melancarkan serangan baru di kota Deraa.