Dua wartawan Barat tewas di Homs

Marie Colvin

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Marie Colvin dari Sunday Times termasuk salah seorang dari dua wartawan yang tewas di Homs.

Dua wartawan Barat tewas di kota Homs, Suriah terkena serangan bom yang menghantam gedung tempat mereka tinggal.

Para pejabat Prancis menyebut nama kedua wartawan itu Marie Colvin dari koran Inggris, Sunday Times, dan juru kamera Prancis, Remi Ochlik.

Beberapa orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan bom yang menghantam pusat media di kawasan Baba Amr.

Kawasan yang diduduki pihak oposisi itu dikepung pasukan keamanan selama lebih dari dua minggu dan menyebabkan ratusan roang meninggal.

Para aktivis mengatakan lebih dari 40 orang meninggal hari Selasa termasuk Rami al-Sayed yang menyiarkan melalui video langsung dari Homs dan digunakan oleh media dunia.

Sayed mengalami luka parah karena pecahan bom yang menghantam kawasan Baba Amr. Saudaranya memasang video berisi tayangan jenazahnya di tenda-tenda yang dijadikan rumah sakit.

Wartawan menyamar

Palang Merah menyerukan kepada pemerintah dan kelompok perlawanan untuk menyepakati gencatan senjata dan mengizinkan pasok medis ke kawasan yang paling parah. Namun belum ada tanda-tanda seruan itu dipenuhi.

Dua wartawan Barat yang meninggal dilaporkan tinggal di dalam satu rumah yang digunakan oleh para aktivis sebagai pusat media.

Roket-roket juga dilaporkan menghantam pekarangan gedung saat sejumlah orang berusaha menyelamatkan diri.

Homs

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sekitar 500 tentara dilaporkan membelot dari pasukan pemerintah di propinsi Idlib.

Para aktivis mengatakan paling tidak tiga wartawan asing lain terluka.

Wartawan Barat dilarang masuk Suriah sejak pemberontakan melawan Presiden Bashar al-Assad bulan Maret lalu.

Namun banyak yang masuk ke negara itu secara menyamar dengan bantuan jaringan aktivis dan mereka melaporkan langsung dari garis depan.

Bulan lalu, wartawan televisi Prancis, Gilles Jacquier, tewas di Homs saat mengunjungi kota itu dalam lawatan yang diorganisir pemerintah.

'Pembantaian' di Idlib

Sementara itu, video yang ditayangkan melalui internet oleh aktivis di Idlib menyebutkan para penentang Presiden Bashar al-Assad menjadi korban pembantaian.

Sejumlah aktivis menyebutkan korban di propinsi itu lebih dari 50 orang.

Salah satu tayangan video menunjukkan penduduk di desa Abdita tengah menyaksikan sekitar 12 mayat yang disemayamkan di tanah. Sebagian meninggal karena luka tembak di kepala.

Suara dalam tayangan video menyebutkan jenazah-jenazah itu adalah korban pembantaian.

Media resmi Suriah menyebutkan pasukan keamanan beroperasi di daerah itu dan mengejar "kelompok teroris bersenjata" dan sejumlah di antara mereka tewas.

Dalam video lain dari Idlib disebutkan sekitar 500 tentara Suriah mengumumkan mereka membelot dari pasukan pemerintah. Namun tayangan itu tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Sebelumnya Amerika Serikat melaporkan tidak akan mengesampingkan untuk mengambil langkah lebih lanjut terhadap Suriah bila Presiden Assad tidak menghentikan aksi kekerasan.

Juru bicara departemen luar negeri Amerika, Victoria Nuland, mengatakan, "Bila kami tidak dapat menekan Assad melakukan apa yang kita semua minta, kami mungkin akan mempertimbangkan langkah tambahan."