Penyerang di Toulouse akan ulangi aksinya

korban penembakan

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Salah satu peti korban penembakan tengah dibawa kerabatnya untuk dimakamkan di Israel.

Pelaku penembakan yang telah menewaskan tujuh orang di selatan Prancis kemungkinan akan melakukan penembakan lagi.

Jaksa yang memimpin penyelidikan kasus ini, Francois Molins kepada wartawan menjelaskan bahwa selama ini pelaku melakukan aksi penembakan dari jarak dekat dan mengarahkan senjatanya ke arah kepala korban.

Dalam penjelasannya kepada wartawan, Molins tidak terlalu melihat pentingnya keberadaan kamera yang kemungkinan dibawa pelaku saat melakukan aksinya tersebut.

Selain menewaskan empat orang dalam aksi penembakan di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse, pelaku juga melakukan serangan yang menewaskan tiga tentara asal Afrika Utara pada dua tempat berbeda.

Untuk mengenang para korban penembakan di Toulouse, seluruh sekolah di Prancis melakukan aksi mengheningkan cipta pada hari Selasa (20/03) pagi.

Seluruh jenazah korban penembakan di sekolah Yahudi telah diterbangkan ke Israel untuk dimakamkan pada hari Rabu (21/03).

Hasil penyelidikan sementara dalam kasus penembakan ini menunjukkan bahwa semua korban penembakan tewas setelah ditembak dengan senjata jenis Colt 45.

Pelaku dalam melancarkan aksinya di ketiga lokasi juga diduga menggunakan kendaraan yang sama yaitu skuter Yamaha jenis TMAX 130.

Siaga merah

Namun soal penggunaan skuter ini Molins masih akan menyelidiki lebih jauh lagi apakah kesamaan hanya pada jenisnya atau bukan karena laporan menyebutkan pada serengan pertama pelaku menggunakan skuter warna hitam sementara pada serangan kedua laporan menyebutkan pelaku menggunakan skuter warna putih.

Polisi Prancis

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Prancis menerapkan siaga merah, status siaga tertinggi terhadap serangan terorisme.

Molins juga membantah kabar yang menyebutkan bahwa tim penyidik telah mengetahui nomor plat skuter yang digunakan pelaku penembakan.

Untuk menuntaskan penyelidikan dan mengantisipasi aksi serangan lanjutan, pemerintah Perancis telah menerapkan status "siaga merah" terhadap aksi serangan teroris.

Dengan demikian untuk pertama kalinya dalam sejarah menerapkan status tertinggi terhadap serangan teroris.

Molins mengatakan "siaga merah" memungkinkan penegak hukum "mengusik" warga dan menerapkan peraturan penggeledahan keamanan.

Pasukan keamanan pemerintah juga mempunyai kewenangan untuk menggelar patroli gabungan antara polisi dan militer, menghentikan perjalanan kendaraan umum sewaktu-waktu dan melakukan penutupan sekolah.

Saat ini ada 250 penyidik yang mengejar dua fokus utama penyelidikan, yaitu kelompok ekstrimis kanan atau Islam.