Mohammad Merah mengatakan ingin tewas

Sumber gambar, Reuters
Tersangka pembunuhan tujuh orang di selatan Prancis mengatakan kepada polisi yang mengepung apartemennya di Toulouse bahwa dia ingin meninggal dengan "senjata ada ditangan", seperti disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Claude Gueant.
Gueant mengatakan belum ada kontak sejak semalam dengan Mohammed Merah dan tidak dapat memastikan apakah dia masih hidup.
Polisi memasang peledak sepanjang malam untuk meningkatkan tekanan terhadap pemuda berusia 23 tahun itu.
Dia menjadi tersangka penembakan terhadap tujuh orang dalam tiga serangan terpisah.
"Kami memiliki satu prioritas: untuk membawa dia dalam keadaan hidup jadi dia dapat diadili. Kami berharap dia masih hidup," kata Gueant.
Bagaimanapun, dia mengatakan sangat "aneh bahwa dia tidak beraksi" terhadap ledakan yang dipasang untuk mengintimidasinya.
"Kami mendengar dua tembakan, kami tidak tahu dari mana itu," kata Gueant.
"Meskipun ada upaya sepanjang malam, tidak ada kontak dengan dia."
Ledakan pertama, dilakukan pada Rabu, dan Wakil Walikota Jean-Pierre Havrin mengatakan kepada media bahwa "perundingan telah selesai dan serangan dimulai".
Bagaimanapun, sumber dari kementerian dalam negeri Prancis mengatakan bahwa ini merupakan dimulainya operasi untuk menekan Merah.
"(Ledakan) dilakukan untuk menekan tersangka, yang nampaknya tidak ingin menyerah," kata juru bicara menteri dalam negeri Pierre-Henry Brandet kepada Reuters.
Membawa senjata
Pejabat mengatakan bahwa Merah menggunakan senjata Kalashnikov, pistol mesin mini-Uzi 9mm, sejumlah senjata tangan dan kemungkinan granat.
Lampu jalanan dimatikan disekitar bangunan pada Rabu malam. Kepolisian juga memindahkan penduduk di gedung lain di daerah tersebut.
Polisi mengepung kediaman Merah, setelah dua orang polisi tertembak ketika berupaya mencapai flatnya pada Rabu pagi.
Polisi juga mencoba mencari dan menahan sejumlah anggota keluarga Merah, yang berada di tempat lain di kota tersebut.
Ibunya dibawa ke lokasi pada Rabu (21/3) dan berharap dapat meminta anaknya menyerah, tetapi dia mengatakan kepada polisi bahwa dia tidak dapat mempengaruhi anaknya.
Selain menewaskan empat orang dalam aksi penembakan di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse, Merah juga melakukan serangan yang menewaskan tiga tentara asal Prancis di dua tempat berbeda.
Sebelumnya, Merah mengatakan tindakannya adalah untuk membalas kematian anak-anak Palestina dan akan menyerahkan diri ke pihak berwajib.
Dia juga mengklaim pernah menerima pelatihan dari Al-Qaeda di Waziristan, Pakistan dan mengatakan pernah berada di Afghanistan.
Namun sejauh ini belum diperoleh informasi lengkap terkait kegiatan Merah di Afghanistan.
Sumber di pemerintahan Afghanistan kepada BBC mengatakan Merah pernah ditahan di penjara Kandahar karena aksi pengeboman pada 2007.
Tetapi dia berhasil meloloskan diri setelah kabur dari penjara Kandahar pada 2008.





























