Negara-negara Barat usir dubes Suriah

Sumber gambar, william hague
Sejumlah negara Barat mengusir duta besar dan diplomat senior Suriah sebagai bentuk kemarahan internasional terkait pembunuhan massal yang menelan 108 orang di Houla pada hari Jumat.
Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Australia, dan Kanada. Mereka menempuh tindakan serempak guna memprotes pembunuhan warga termasuk anak-anak.
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan Suriah perlu menentukan pilihan mengenai apa yang akan dilakukan.
Hague menambahkan pengusiran Kuasa Usaha Suriah Ghassan Dalla dan diplomat-diplomat lain akan mengirimkan pesan tegas bahwa Presiden Suriah Bashar al Assad berpacu dengan waktu.
"Hari ini kita kembali memanggil Kuasa Usaha Suriah di London ini ke Kementerian Luar Negeri. Dia diberi waktu tujuh hari untuk meninggalkan negeri ini. Diplomat-diplomat lain Suriah akan diusir, dua diplomat lain akan diusir pada waktu yang sama," kata Hague di London, hari Selasa (29/5).
Sejumlah negara, kata Hague, juga mengusir duta besar dan diplomat Suriah.
Perundingan
Pengumuman pengusiran juga dilakukan pemerintah Kanada.
"Hari ini Kanada mengusir semua diplomat Suriah yang masih berada di Ottawa. Mereka dan keluarga diberi waktu lima hari untuk meninggalkan Kanada," kata Menteri Luar Negeri John Baird.
Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle menjelaskan keputusan mengusir diplomat Suriah dari negaranya.
"Kami berusaha memastikan bahwa pesan-pesan tegas kami diindahkan di Damaskus," kata Westerwelle.
Di Paris, Presiden Francois Hollande mengatakan keputusan mengusir Duta Besar Lamia Shakkur ditempuh di tengah perundingan dengan Inggris, Rusia, dan PBB tentang langkah-langkah yang akan ditempuh terkait krisis Suriah.
Pembunuhan massal di Houla, Provinsi Homs, Suriah, tercatat sebagai salah satu peristiwa tunggal paling berdarah dalam 15 bulan pergolakan menentang kekuasaan Presiden Bashar al Assad.
Menurut PBB, di antara korban tewas adalah 49 anak-anak dan 34 perempuan. Pemerintah Suriah mengatakan pembantaian itu merupakan ulah pemberontak yang dikatakan sebagai "teroris".
Rusia, yang memasok senjata ke pemerintah Suriah dan memblokir resolusi PBB, menyalahkan pemberontak dan pemerintah Suriah atas pembunuhan massal itu.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan keprihatinan bahwa "negara-negara tertentu" mulai menggunakan peristiwa Houla "sebagai dalih untuk menyuarakan tuntutan perlunya aksi militer".
Sementara itu di Damaskus, utusan khusus PBB Kofi Annan telah mengadakan pertemuan dengan Presiden Assad. Annan mengatakan rencana perdamaian yang diusungnya memerlukan tindakan nyata guna menghentikan kekerasan.





























