Inggris terus hadapi ancaman serangan teroris

serangan di london, juli 2005

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, London menjadi sasaran serangan teroris pada Juli 2005.

Inggris menghadapi rencana serangan teroris besar setidaknya sekali setahun sejak serangan di Amerika Serikat pada 2011.

Pola ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena Inggris akan menggelar pesta olahraga Olimpiade bulan Juli 2012.

Hal ini disampaikan Direktur Badan Intelijen Nasional Inggris (MI5), Jonathan Evans, dalam pidato yang jarang dilakukan di London.

"Penilaian kami adalah setidaknya ada satu rencana serangan besar setiap tahun di Inggris sejak 11 September," kata Evans.

"Olimpiade akan menjadi sasaran yang menarik bagi musuh-musuh kita dan mereka akan menjadi pusat perhatian dunia selama satu bulan," paparnya.

Namun ia menambahkan tidak mudah melakukan serangan ketika Olimpiade digelar di London.

Keberhasilan Inggris dan beberapa negara lain membongkar rencana serangan teroris dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan Inggris bukan sasaran empuk kelompok teroris.

Ia menjelaskan 75% ancaman teroris yang menjadi prioritas MI5 berasal dari individu atau kelompok yang memiliki kaitan dengan Afghanistan atau Pakistan.

Belakangan kerja sama Inggris dengan sejumlah negara membuat ancaman turun menjadi di bawah 50%.

Serangan cyber

Menurut Evans data ini bukan berarti kegiatan teroris berkurang. "Ini lebih disebabkan oleh keberhasilan badan keamanan Inggris membongkar rencana teror," jelas Evans.

Ancaman teror, kata Evans, tidak hanya berasal dari kelompok yang berpusat di Afghanistan atau Pakistan. Dewasa ini sumber ancaman bertambah dan mencakup kelompok-kelompok binaan al Qaida di Mali, Yaman, Somalia, dan beberapa negara Timur Tengah.

Ia juga memperingatkan potensi negatif gerakan demokrasi di Timur Tengah karena anggota dan simpatisan al Qaida bisa memanfaatkan situasi yang berkembang sekarang untuk berlindung.

"Mereka masuk lagi ke Dunia Arab. Sejumlah anggota kelompok militan Inggris misalnya sudah masuk ke negara-negara Arab untuk mencoba mengikuti latihan teror," ungkap Evans.

"Mereka akan kembali ke Inggris dan bagi kami mereka adalah sumber ancaman. Ini perkembangan yang mengkhawatirkan," imbuhnya.

Evans juga mengungkapkan peningkatan serangan cyber dengan sasaran pemerintah dan dunia usaha di Inggris.

Tanpa menyebut nama ia mengatakan serangan cyber terhadap perusahaan menyebabkan kerugian sebesar US$1,2 miliar.

Ia mengatakan dalam kasus semacam ini, yang menjadi pertaruhan tidak hanya rahasia negara, tetapi juga kelangsungan berbagai infrastruktur, dan hak atas kekayaan intelektual Inggris.