Bin Hammam: saya beri hadiah bukan suap

Sumber gambar, AFP
Mantan pengurus FIFA Mohamed bin Hammam kembali menegaskan dirinya tidak melakukan suap untuk membeli suara, seperti dituduhkan FIFA.
Bin Hammam mengatakan ia memberi hadiah, bukan suap.
Ia mengatakan saling memberi hadiah adalah hal yang biasa dilakukan di FIFA. Mantan presiden Federasi Sepak Bola Asia ini mengatakan tuduhan korupsi dari FIFA terhadap dirinya akibat kesalahpahaman budaya.
"Saling memberi hadiah biasa dilakukan di FIFA dan bertukar hadiah dengan pengurus FIFA seharusnya tidak dikategorikan sebagai upaya melakukan suap," kata Bin Hammam dalam wawancara dengan Sky Sport yang ditayangkan hari Senin (25/7).
"Ini normal, praktek yang normal," kata Bin Hammam. "Saya katakan lagi, saya tidak memberi uang kontan kepada siapa pun," tegasnya.
Ia kemudian menunjukkan jam tangannya dan menambahkan, "Jam tangan ini adalah pemberian."
Ditanya soal amplop berisi uang yang diduga dibagikan kepada pengurus sepak bola Karibia, Bin Hammam mengatakan tidak tahu-menahu.
Banding
Keanggotaannya di FIFA dibekukan pada 29 Mei yang membuatnya mundur dari bursa pencalonan presiden FIFA. Keputusan Bin Hammam membuat Sepp Blatter menjadi calon tunggal dan akhirnya terpilih untuk masa jabatan keempat.
Pada hari Sabtu (23/7) komite etik FIFA memutuskan Bin Hammam tidak diperbolehkan aktif di kegiatan sepak bola selama seumur hidup. Ia dituduh memberi uang US$40.000 kepada setiap anggota delegasi pengurus sepak bola Karibia.
Dalam pernyataan tertulis hari Minggu malam, Bin Hammam mengatakan FIFA tidak memiliki bukti kuat.
"Menjadi tugas FIFA untuk membuktikan tuduhan mereka. Saya tegaskan saya tidak melakukan suap," kata Bin Hammam.
"Saya yakin tidak ada satu bukti pun yang menunjukkan saya memberi uang agar bisa mendapatkan suara delegasi," tandasnya.
Ia mengatakan akan mengajukan banding ke komite banding FIFA. Namun ia tidak begitu yakin apakah komite ini akan menjalankan tugas secara adil.
Jika upaya banding gagal, ia akan membawa kasusnya ke pengadilan arbitrase olahraga (CAS) di Lausanne, Swiss.
"Di CAS inilah saya yakin bisa mendapatkan keadilan," kata Bin Hamam kepada BBC, hari Minggu (24/7).
Bin Hammam juga bisa membawa kasusnya ke pengadilan federal Swiss meski proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.





























