Raphinha Tolak Gelar Pemain Terbaik El Clasico, Alasannya Bikin Respect
Raphinha menolak menerima penghargaan Pemain Terbaik Pertandingan usai Barcelona mengalahkan Real Madrid.

Raphinha menjadi salah satu pahlawan dalam kemenangan dramatis Barcelona atas Real Madrid, meskipun winger asal Brasil ini secara mengejutkan menolak penghargaan Man of the Match setelah laga El Clasico yang berakhir dengan skor 4-3 untuk Blaugrana. Dalam pertandingan yang diadakan pada Minggu lalu, Barcelona sempat tertinggal 0-2 akibat dua gol kontroversial dari Kylian Mbappe. Namun, mereka berhasil membalikkan keadaan dengan gol dari Eric Garcia, Lamine Yamal, dan dua gol tambahan dari Raphinha, yang memastikan tiga poin berharga bagi Los Cules.
Kemenangan ini membuat Barcelona berada dalam posisi yang menguntungkan dalam perburuan gelar La Liga. Dengan hanya tersisa tiga pertandingan, mereka kini unggul tujuh poin dari Real Madrid. Satu kemenangan lagi akan cukup untuk mengamankan gelar juara. Hal ini menunjukkan performa yang sangat baik dari tim asuhan Xavi Hernandez, yang berhasil mengatasi tekanan dan meraih hasil positif di laga penting ini.
Raphinha Merasa Tidak Pantas untuk Menerima

Meskipun Raphinha memberikan kontribusi yang signifikan, termasuk mencetak dua gol dalam pertandingan El Clasico yang sangat penting, ia merasa tidak layak menerima penghargaan sebagai pemain terbaik di laga tersebut. Setelah pertandingan, ia menyampaikan pendapatnya kepada media, seperti yang dikutip oleh Metro, dan mengkritik performanya sendiri. Raphinha berpendapat bahwa meski berhasil mencetak dua gol, penampilannya secara keseluruhan tidak memenuhi standar yang diharapkannya.
"Saya tidak bermain bagus hari ini. Saya tidak pantas menerima penghargaan Man of the Match. Saya akan memberikannya kepada pemain lain," ungkap Raphinha.
Walaupun Raphinha tidak menyebutkan nama secara spesifik, banyak pihak yang beranggapan bahwa Lamine Yamal seharusnya menjadi penerima penghargaan tersebut. Pemain muda ini berhasil meraih rating 9.1 menurut Sofascore, yang menunjukkan penampilan luar biasanya. Selain itu, Ferran Torres juga menjadi kandidat kuat untuk penghargaan itu setelah berhasil mencatatkan tiga assist dan tampil sangat baik menggantikan posisi Robert Lewandowski. Dengan performa yang mengesankan dari kedua pemain tersebut, Raphinha merasa keputusan untuk tidak menerima penghargaan tersebut adalah langkah yang tepat.
Statistik Raphinha

Di sisi lain, jika dilihat dari statistik, performa Raphinha bisa dibilang kurang menggembirakan, meskipun ia berhasil mencetak dua gol. Ia tidak berhasil menyelesaikan satu pun dribel, hanya mencatatkan akurasi umpan sebesar 74% dengan 29 umpan sukses dari 39 percobaan, serta kehilangan bola sebanyak 19 kali sepanjang pertandingan. Selain itu, Raphinha melepaskan empat tembakan yang tidak tepat sasaran, gagal memanfaatkan tiga peluang emas, dan mencatatkan expected goals (xG) sebesar 2,26. Angka ini menunjukkan bahwa ia mencetak lebih sedikit gol dibandingkan dengan jumlah peluang yang seharusnya dapat dikonversi menjadi gol.
| Statistik Raphinha vs Real Madrid | |
| Gol | 2 |
| Tembakan tepat sasaran | 2 |
| Tembakan meleset | 4 |
| Peluang besar yang terlewat | 3 |
| Kepresisian umpan (%) | 74% |
| Dribble berhasil | 0 |
| Umpan silang (berhasil) | 8 (2) |
| Duels yang dimenangkan | 5 |
| Kehilangan penguasaan bola | 19 |
Memberikan yang Terbaik bagi Barcelona

Raphinha kini lebih memilih untuk berkonsentrasi pada usaha membawa Barcelona meraih gelar juara di musim ini. Ia menegaskan bahwa tujuannya bukan sekadar mendapatkan penghargaan individu, melainkan lebih pada keberhasilan tim secara keseluruhan.
Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan, "Saya tidak mau terlalu memikirkan Ballon d'Or saat ini. Fokus saya hanya untuk membawa Barcelona meraih semua trofi juara di musim ini."
Pada musim ini, Raphinha menunjukkan performa yang mengesankan di bawah bimbingan pelatih Hansi Flick. Ia telah berhasil mencetak sejumlah gol dan assist, menjadikannya salah satu pemain terbaik di dunia saat ini.
Walaupun dukungan untuknya dalam meraih Ballon d'Or mulai berdatangan, ia tetap mengutamakan tujuan tim di atas segalanya. Komitmennya terhadap tim menunjukkan bahwa ia lebih memprioritaskan keberhasilan kolektif dibandingkan pencapaian pribadi.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)





















