'Jalanan di Gaza Dipenuhi Penderitaan, Dibanjiri Air Mata'
Israel mengancam warga Palestina agar segera meninggalkan daerah Khan Younis di Gaza.

Perang di Gaza memasuki fase baru yang mengerikan, warga sipil kelelahan menghabiskan hari-hari mereka berpindah dari satu tempat pengungsian sementara ke tempat lainnya.
Pekan lalu, tentara Israel mengunggah pengumuman di media sosial yang berisi perintah agar penduduk Gaza meninggalkan wilayah Khan Younis sebelum “serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Pernyataan tersebut memerintahkan warga Palestina untuk pergi melarikan diri ke arah barat menuju al-Mawasi. Israel menyebut Khan Younis akan dianggap sebagai “Zona pertempuran berbahaya”. Perintah tersebut disertai dengan peta lingkungan Khan Younis yang sebagian besar telah diarsir dengan warna merah. Terdapat juga tanda panah yang menunjuk ke arah “zona kemanusiaan” Mawasi.
Beberapa saat setelah peringatan itu diunggah, jalan-jalan dipenuhi dengan puluhan ribu orang yang berkeliaran tanpa tujuan. Seorang jurnalis bernama Saleh al-Natour mengatakan apa yang ia lihat hari itu sangat sulit dijelaskan.
“Saya melihat penderitaan dan penindasan sedang terjadi sekali lagi dalam bentuk manusia melalui kota ini,” kata Natour, seperti dikutip dari Middle East Eye pada Selasa (27/5).
“Mereka melarikan diri secara berkelompok, dari arah timur ke barat, seperti banjir manusia yang tak memiliki ujung. Tubuh-tubuh yang lemah dan kelelahan terhuyung-huyung seperti kain compang-camping, tertutup debu kehancuran di sekitarnya.”
“Saya mendengar orang-orang berkeliaran di jalan, tak tahu harus berkata apa atau ke mana harus pergi,” tambahnya seraya mengatakan, “dalam kondisi lapar dan haus, mereka mencari air dan pingsan di jalan karena kelelahan dan ketakutan.”
Natour mengatakan banyak orang berdesakan di area sempit saat pesawat tempur Israel terbang di atas mereka, “Orang-orang berlarian di jalan-jalan dengan banyak pesawat yang terbang di atas kepala mereka.”
Jalanan ‘Tercekik Kesedihan’
Satu adegan yang terekam dalam sebuah video menunjukkan seorang pemuda mendorong kursi roda untuk seorang anak yang cacat. Di lehernya tergantung sebuah tas kecil, sementara tas lain diikatkan di punggungnya. Ia menggenggam kantong plastik berisi dua potong roti.
Di antara puing-puing jalan yang rusak oleh kerasnya hantaman Israel, di bawah terik matahari yang membakar kulitnya, pemuda itu akhirnya tak sanggup lagi. Ia berhenti mendorong kursi roda dan duduk di tengah jalan.
Di sampingnya ada seorang wanita yang mengenakan mukena. Wanita itu menggenggam selimut di tangannya, ia mendekati pemuda itu, lalu mengulurkan tangan dan mencoba membantunya untuk berdiri.
Dalam kejadian lain, seorang perempuan sakit terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ditutupi setumpuk selimut. Salah satu kakinya menjuntai di sisi ranjang, yang ditarik oleh empat orang di atas jalanan yang hancur dan dipenuhi puing-puing. Mereka berjuang membawanya menjauhi zona bahaya.
Tidur di Pinggir Jalan Raya
Jurnalis Middle East Eye, Iman Baroud, mengatakan besarnya tragedi ini melampaui batas kemampuan kata-kata untuk dapat menggambarkannya.
“Saya merasa mual karena kengerian yang saya saksikan di jalanan. Saya benar-benar tidak bisa menggambarkannya,” ucap Baroud.
“Hatiku hancur menyaksikan para ibu dan saudara memilih tidur di pinggir jalan raya karena terlalu lelah berjalan, bahkan mereka tidur di dalam kios-kios pedagang yang sudah kosong tak berpenghuni.”
“Gambaran anak-anak yang tidur bukanlah tidur dalam ketenangan, mereka berada dalam penderitaan. Kepala mereka bersandar di pangkuan ibu, sementara tubuh mungil mereka yang rapuh, kurus, dan kelaparan tergeletak di atas aspal,” lanjut Baroud.
Setelah menyaksikan setiap babak dari perang yang mengerikan ini secara berulang, ia menambahkan bahwa tragedi horor yang terjadi saat ini benar benar tidak pernah dirasakan sebelumnya oleh masyarakat Gaza.
“Jalanan dipenuhi dengan penderitaan, dibanjiri oleh air mata,” kata dia.
“Tak ada yang mampu melihat kelelahan orang lain. Setiap orang di sini memanggul beban dan kesedihan sendiri, tapi harus terus melangkah.”
Reporter Magang: Devina Faliza Rey



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)























