Mencari Tempat Slow Living di Jakarta
Slow living kini makin populer di kalangan Gen Z dan milenial.

Setiap pagi, Zintan (27) tak pernah benar-benar bangun dengan tenang. Belum sempat meregangkan badan, telinganya sudah dijejali suara gesekan wajan tetangga. Klakson motor memecah udara sejak subuh, bersaing dengan tangisan bayi dari kamar seberang.
Di tengah gelombang kebisingan yang nyaris tak pernah reda, Zintan tahu waktunya bersiap. Dia mandi dengan cepat, mengenakan sepatu dengan gerak setengah terburu, lalu melangkah keluar dari kamar kos kecilnya di bilangan Jakarta Barat.
Begitu membuka pintu, dunia langsung menyambutnya dengan jerit klakson, deru mesin, dan teriakan pedagang sayur. Zintan menyalakan motornya. Dia tahu, pertempuran belum usai.
Perjalanan ke kantor bukan sekadar soal jarak, tapi soal adu cepat dan saling serobot di jalanan yang makin padat. Berebut ruang di antara pengendara lain adalah rutinitas yang mau tak mau harus dijalani.
“Hidup di Jakarta serba cepat, bahkan naik transportasi pun harus berebut,” kata Zintan saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (19/6).
Dia mengaku sering iri pada orang-orang yang tinggal di desa, atau kota kecil yang tenang. Di mana pagi hanya diisi suara burung dan langkah ringan di pematang sawah. Kota Solo adalah tempat yang kerap hadir dalam lamunan. Hamparan padi, langit yang bersih, dan warga yang sabar tanpa klakson di lampu merah.
"Di Solo orangnya pada sabar, minimal di lampu merah enggak ada yang sibuk klakson sana sini," ucapnya.
Namun, realitas belum mengizinkannya pergi. Jakarta masih menahannya dengan gaji, peluang, dan pekerjaan. Dia tahu, untuk bisa hidup lambat seperti mimpinya, mungkin dia harus bekerja lebih keras lagi di kota yang tak pernah tidur ini.
Karena bagi Zintan, slow living bukan sekadar tren, tapi kerinduan akan hidup yang lebih manusiawi. Slow living, konsep hidup lambat yang mengutamakan kesadaran, keseimbangan, dan kesederhanaan, kini makin populer di kalangan Gen Z dan milenial.
Mencari Slow Living di Tengah Riuh Ibu Kota
Pengamat infrastruktur dan tata kota Yayat Supriatna menilai, slow living bukan sekadar tren estetik di media sosial. Slow living adalah gaya hidup yang lahir dari pilihan, bukan keterpaksaan.
Namun di kalangan Gen Z dan milenial urban, slow living mengalami pergeseran makna. Dia bukan hanya tentang hidup tenang, tapi juga dibalut harapan, bekerja dari mana saja, punya waktu fleksibel, dan tetap berpenghasilan besar. Sebuah mimpi tentang keseimbangan hidup, tanpa harus berdamai dengan riuh ibu kota.
“Secara prinsip, slow living bisa berjalan jika seseorang tak lagi terdesak rutinitas: bangun pagi, berangkat jauh, absen, dan pulang malam,” jelas Yayat.
Dalam sistem kerja yang makin cair seperti WFA (work from anywhere) atau kerja digital, gaya hidup ini mungkin bisa dijalani. Tapi tidak bagi pekerja yang harus hadir fisik, seperto buruh, kasir, sopir, pelayan, atau tenaga layanan publik.
Kenyataannya, banyak warga kota besar terpaksa tinggal jauh dari pusat karena tekanan ekonomi. Waktu tempuh dua hingga tiga jam ke tempat kerja jadi harga mahal yang harus dibayar demi bertahan hidup.
Mimpi untuk hidup tenang di tengah Jakarta yang tak pernah diam tampaknya bukan hal mustahil. Tapi, menurut Yayat, mimpi itu hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang memiliki satu syarat utama, pendapatan di atas rata-rata.
“Ngekos di tengah kota, kerja dekat, income bagus, mereka bisa santai, jalan kaki ke kantor, hidupnya nyaman. Itu yang bisa slow living,” ujar Yayat.
Bagi kelompok ini, hidup terasa ringan. Tak perlu berkutat dengan kemacetan atau bangun subuh hanya untuk mengejar waktu absen. Mereka tinggal dekat kantor, bisa olahraga pagi, bahkan ngopi sore sebelum pulang.
Namun, bagi kebanyakan warga Jakarta, apalagi yang bergaji pas-pasan, slow living terasa seperti kemewahan yang jauh dari jangkauan.
“Anak-anak sekarang tuh takut TBC, Tekanan Batin Capek deh. Karena rumah jauh, gaji pas-pasan, akhirnya kerja enggak dinikmati,” tambah Yayat.
Solusinya? Menurut Yayat, pemerintah perlu mulai berpikir kreatif. Salah satunya dengan menyulap gedung-gedung perkantoran kosong jadi hunian yang dekat dengan pusat kerja. Konsep compact city, kota ringkas yang semuanya bisa diakses dalam 10 menit, bisa jadi jalan keluar.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485778/original/023618300_1769553619-Kapolres_Metro_Depok_Kombes_Abdul_Waras_memberikan_sepeda_motor_kepada_penjual_es_kue_jadul_Sudrajat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485777/original/055743200_1769552699-KPK_geledah_rumah_Ketua_PBSI_Madiun.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482923/original/084488100_1769287691-virgil_van_dijk_semangat_bournemouth_liverpool_ap_ian_walton.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5322252/original/039243200_1755738000-taa.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485727/original/030145200_1769526863-IMG-20260127-WA0073.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484783/original/018265600_1769484757-1000162338.jpg)


















