Dua Sisi Lain Soeharto dari Mata Orang-Orang Dekatnya
Soeharto cuma manusia biasa. Dia bisa marah, guyon, perhatian, sedih, kecewa. Termasuk ketika Soeharto dilengserkan.

Kamis 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Di depan publik, Soeharto mungkin bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya. Namun, dari cerita yang disampaikan orang disekitarnya, tergambar jelas bahwa Soeharto cuma manusia biasa. Dia bisa marah, sedih, dan kecewa. Termasuk ketika Soeharto dilengserkan.
Pakar Ekonomi Prof Priyono Tjiptoherijanto beberapa kali bertemu dengan Soeharto setelah lengser. Dia berketmu di kediaman pribadi Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Soeharto saat itu masih sehat dan berkomunikasi dengan lancar.
Priyono melihat dengan jelas betapa bencinya Soeharto dengan bekas menteri-menterinya. Priyono sempat menanyakan siapa menteri yang datang mengunjungo Soeharto setelah lengser. Dari sini terungkap Soeharto sakit hati. Para bekas menteri-menterinya bahkan tak berkunjung menemuinya.
"Siapa, Mas, saya kan orang hina. Orang yang Dihina!," kata Soeharto menjawab pertanyaan itu.
"Ya, saya bilang, habis ini negara! Ini dendamnya Bukan Main!," kata Pak Harto marah, bahkan sampai dua kali mengatakan soal dendam itu.
Kekecewaan dan Kemarahan Soeharto
Kekecewaan dilengserkan juga digambarkan sesaat setelah Soeharto mengumumkan pengunduran diri di Istana Negara. Mantan pengawal khusus Soeharto bernama Maliki Mift menceritakan, saat di jalan raya Soeharto dengan tegas menolak mendapat pengawalan dari kepolisian. Padahal, fasilitas pengawalan terhadap mantan presiden merupakan hal yang lumrah diberikan oleh negara.
"Saya tidak usah dikawal. Saya sekarang masyarakat biasa, jadi kasih tahu polisinya," kenang Maliki dalam buku 'Pak Harto The Untold Stories’.
Mendengar permintaan tersebut, Maliki memutar otak lebih keras. Agar tetap dapat mengawal mantan Presiden Soeharto demi alasan keamanan. Maliki akhirnya berkoordinasi dengan polisi dengan meminta agar pengawalan hanya dilakukan dari belakang. Tetapi tetap saja pria yang akrab disapa Pak Harto menyadari hal tersebut dan kembali melayangkan protes.
"Itu polisi kenapa ikut di belakang? Tidak usah," ucap Maliki mengutip pernyataan Pak Harto.
Tak kehabisan akal, Maliki bersama rekan kembali memutar otak agar tetap dapat mengawal Pak Harto. Antara lain meminta petugas kepolisian menghijaukan lampu lalu lintas saat kendaraan Soeharto melintas.
Lagi-lagi, trik tersebut kembali diketahui Soeharto. Dia merasa aneh lampu lalu lintas terus menyala hijau saat iring-iringan kendaraan membelah jalanan.
"Ini lampu kenapa hijau terus? Polisi tidak usah diberi tahu. Sudah, saya rakyat biasa, kalau lampu merah, ya merah saja," ujar Maliki menirukan protes Soeharto.
Mendengar itu, Maliki hanya terdiam. Namun, dia dan tim bersikeras untuk menjalankan tugasnya memberi pengawalan kepada sang mantan presiden.
Presiden Soeharto dikenal sebagai sosok pemarah dan dendam. Bahkan wakil presiden pun tak terkecuali membuat Soeharto tidak senang. Wakil Presiden Try Sutrisno pernah menyinggung bisnis anak dan cucu Soeharto. Sebuah sikap yang sangat berani. Pada tahun 1997, Soeharto berkunjung ke Mesir. Try yang berada di tanah air tiba-tiba mengeluarkan penyataan mengejutkan. Try menegaskan anak pejabat jangan pakai nama bapak jika berbisnis.
Ucapan Try membuat Soeharto tersinggung. Hal itu lantaran anak dan cucu Soeharto banyak yang terjun menjadi pebisnis. Sejak itu, hubungan Soeharto dan Try merenggang, seperti diceritakan dalam buku Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung halaman 527.
Soeharto juga marah dengan Jenderal kesayangannya. Dalam buku Benny Moerdani, Tragedi Seorang Loyalis, hubungan keduanya merenggang karena Benny berani mengkritik bisnis anak-anak Presiden Soeharto. Sikap Soeharto berubah dingin sejak itu. Peran Benny pun mulai dipinggirkan. Keduanya saat itu sedang main di Jalan Cendana. Benny mengatakan untuk menjaga keamanan pribadi presiden cukup dengan satu batalyon Paspampres.
"Tetapi untuk pengamanan politik presiden, mutlak harus didukung oleh keterlibatan keluarga dan juga presidennya sendiri," kata Benny.
Saat menyinggung soal anak-anaknya, Soeharto berhenti main dan meninggalkan Benny sendiri. Menurut Laksamana Sudomo, hanya Benny pula yang berani menyarankan untuk mundur sebagai Presiden setelah 20 tahun menjabat.
Soeharto juga pernah marah pada para menterinya. Gara-gara anggaran pembangunan bendungan tak kunjung cair. Buku berjudul 'Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa' karya Tjipta Lesmana, diceritakan, Indonesia dan Jepang bekerja sama untuk pembangunan bendungan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Wakil Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal A.R. Soehoed mendengar anggaran untuk staf proyek Asahan tidak turun. Kondisi itu sempat ditanyakannya kepada beberapa menteri, akan tetapi tidak kunjung direspon. Soehoed kemudian mengadu kepada Presiden Soeharto. Soehoed dipanggil menghadap Soeharto di kediamannya di Cendana, Jakarta Pusat. Dalam benak Soehoed saat itu apakah dirinya melakukan kesalahan.
Akan tetapi, ketika Soehoed tiba di kediaman Soeharto. Sudah ada jajaran menteri berkaitan ekonomi termasuk Wakil Presiden. Di hadapan para menteri, Soeharto marah.
"Saudara harus sadar, bahwa proyek Asahan ini penting sekali. Ini proyek jangka panjang dan perlu ditunjang dengan anggaran yang cukup, semua perhatikan ini!" kata Soeharto.
Dalam buku yang itu, semua para menteri yang hadir tersentak diam. Semua menundukkan kepala, nyaris tidak ada yang berani melihat wajah Soeharto. Soehoed mengaku amat terperanjat melihat presiden membentak-bentak para menterinya.

Soeharto dan Pengawalnya
Para pengawal dan ajudan Soeharto justru punya cerita lain. Bukan kemarahan dan kekecewaan, tapi justru sisi Soeharto yang lebih humanis. Jenderal (Purn) Kunarto menceritakan saat masih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Dalam sebuah acara mereka berada di Padang, Sumatera Barat. Dalam jamuan makan malam, ada menu ikan bilih. Semacam ikan kecil yang hanya bisa diperoleh di Danau Singkarak.
Soeharto ternyata sangat menyukai ikan goreng tersebut. Wader atau ikan teri memang makanan kesukaan Soeharto. Kunarto segera membungkus Ikan Bilih itu untuk dibawa ke Jakarta. Ikan bilih yang sudah dibungkus diserahkannya kepada seorang pengawal. Kunarto tahu Pak Harto biasa ngemil wader goreng di sore hari. Kisah ini ditulis Jenderal (Purn) Kunarto dalam buku Pak Harto The Untold Stories.
Benar Saja Saat di Cendana, Pak Harto mencari Kunarto. Pertanyaannya Singkat.
“Wader Yang Kemarin Mana?” tanya Pak Harto.
"Aneh," pikir Kunarto.
Ikan itu sudah diserahkannya pada pengawal, tapi kenapa malah tidak disajikan. Kunarto pun segera mencari pengawal presiden itu. Kunarto Menanyai Pengawal itu. Awalnya Dia Diam Saja.
Akhirnya setelah didesak, Paspampres tersebut mengaku sudah memakan habis ikan yang kemarin dibungkus. Waduh, Kunarto kebingungan. Bagaimana ini?
"Saya pun membawanya ke depan Pak Harto, agar dia bilang sendiri," kata perwira menengah Polri itu.
Dengan tegang keduanya menghadap Soeharto. Namun melihat mereka tegang, Soeharto malah tersenyum geli.
"Enak yo wadernya?" canda Pak Harto.
"Iya Pak, Enak Sekali," Jawab Pengawal itu Malu-Malu.
Mendengar jawaban itu, Ibu Tien malah ikut bercanda.
"Yang dimakan ikan wadernya presiden, ya pasti enak tho?" kata Bu Tien dengan jenaka.
Suasana tegang berubah menjadi penuh tawa. Kunarto dan pengawal itu lega Pak harto dan Bu Tien tak marah.
Cerita lain datang jelang peringatan HUT RI. Sudah tradisi setiap tanggal 16 Agustus, Presiden RI akan menyampaikan pidato dalam sidang paripurna DPR. Seperti biasa, Presiden akan didampingi ajudan yang bertugas mendampingi di Gedung DPR/MPR.
Celakanya, sang ajudan malah kena asam urat. Saat itu Presiden Soeharto melihat Kolonel Supandi sedang meringis kesakitan. Soeharto bertanya penyakit sang ajudan.
"Ini Pak, kaki saya bengkak sebelah. Saya khawatir, besok tidak bisa mendampingi Bapak," kata Supandi. Kisah ini dituliskan Mayjen (Purn) Syaukat Banjaransari dalam buku Pak Harto The Untold Stories.
Pak Harto rupanya mengerti pengobatan tradisional. Dia minta dicarikan daun sigli di Istana. Kebetulan pohonnya tumbuh di dekat sana. ”Pohon yang daunnya kecil-kecil, kalau nggak salah ada dekat jendela kamar ajudan." kata Syaukat.
Daun sigli segera dibawa. Pak Harto sendiri yang menghaluskannya disaksikan Syaukat dan Supandi. Rupanya Ibu Tien Soeharto melihat kesibukan para pria itu. Dengan Bahasa Jawa dia meminta mengambil alih tugas tersebut.
"Rene, aku wae. Neng wong wedhok kan luwes (Sini aku saja, kalau wanita yang mengulek kan luwes," kata Ibu Tien.
Sepanjang sejarah, mungkin ini penyakit asam urat terheboh. Tak kurang dari Presiden RI, Ibu Negara hingga Sesmil Presiden sampai turun tangan. Menurut Syaukat seperti inilah gambaran kedekatan Soeharto dengan para ajudannya.
Racikan daun sigli yang sudah diulek Ibu Tien kemudian dioleskan ke kaki Kolonel Supandi oleh Soeharto. Pak Harto juga yang membebatkan perban ke kaki ajudannya itu.
"Moga-moga kamu bisa sehat kembali," doa Soeharto.
Alhmarhum Mayjen (purn) Eddie Nalapraya pernah menjadi Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden Soeharto. Selangkah menjaga di belakang orang nomor satu itu, Eddie hapal betul kebiasaan Soeharto.
"Setiap pagi kalau mau berangkat ke kantor, pasti tasnya dibawa keluar oleh ajudan masuk mobil. Baru Pak Harto keluar," kata Eddie saat berbincang dengan merdeka.com tahun 2022.
Ceritanya, sekitar tahun 1972, pagi-pagi Letnan Kolonel (Letkol) Eddie melapor pada Soeharto hendak mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando di Fort Leavenworth, Amerika Serikat. Menerima laporan Eddie, Soeharto langsung memanggil ajudan. Minta tasnya yang sudah berada di mobil dibawa masuk rumah.
"Pak Harto kemudian mengambil uang dari tas. Saya dikasih uang saku USD7.500. Jumlah yang besar saat itu. Bisa untuk beli mobil," kata Eddie sambil tertawa.

Soeharto yang Biasa Saja
Selama menjadi Presiden, Soeharto tidak tinggal di Istana Negara. Dia memilih tinggal di rumah pribadinya di Jalan Cendana. Pertimbangannya karena faktor keluarga. Menurut Soeharto, jika tinggal di istana akan sangat sulit untuk keluarganya bisa bergaul dengan masyarakat. Di Cendana, walaupun dijaga ketat, masih lebih longgar ketimbang orang harus masuk Istana.
Rumah Cendana memang tidak seperti Istana. Seorang menteri yang datang ke Jalan Cendana pun terkejut disuguhi makanan ala anak kos. Kisah ini diceritakan Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas era Orde Baru, JB Sumarlin.
Suatu sore, JB Sumarlin menemui Presiden Soeharto di kediamannya, Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Presiden Soeharto Meminta Disiapkan Makanan Ringan Untuk Dia dan Tamunya Sumarlin bertanya-tanya, apa kira-kira menu makanan ringan seorang Presiden.
Betapa terkejutnya dia ketika pegawai dapur datang membawa dua cup mie instan. Pegawai itu lalu membuka plastik mie cup tersebut dan menuangkan air panas.
"Setelah menunggu sekitar tiga menit, baru mie instan itu diaduk. Kami pun menyeruput kuahnya dan makan bersama," kenang Profesor ekonomi itu.
Sumarlin sendiri mengaku inilah kali pertama dia makan mie instan cup. Menurut Sumarlin, orang bakal mengira makanan yang disuguhkan Presiden Soeharto itu mewah dan mahal. Ternyata tidak. Pak Harto santai saja makan mie instan. Seperti masyarakat kebanyakan. Mie instan ini sering diidentikan dengan makanan anak kos di tanggal tua.
Kisah Lain Dituturkan Menteri Haryono Suyono di Istana. Saat itu Haryono mendadak diminta menghadap ke Istana Merdeka oleh Presiden Soeharto. Di tengah perbincangan, tiiba-tiba pelayan Istana datang membawakan kudapan.
Haryono melihat makanan yang disuguhkan: Singkong rebus. Ada juga beberapa makanan sederhana ala masyarakat pedesaan. Pak Harto dengan riang mempersilakan menterinya itu mencicipi singkong rebus dan kopi panas.
"Ini makanan kesukaan saya di Istana," kata Presiden. Demikian dikisahkan dalam buku Pak Harto The Untold Stories.
Makanan lain yang selalu dibawa Pak Harto adalah sambal teri dan kering tempe buatan Ibu Tien. Di awal Orde Baru, Presiden Soeharto sering blusukan ke desa-desa terpencil. Mereka tidak pernah makan di restoran. Rombongan kecil itu membawa beras dan lauknya adalah masakan tahan lama yang dibuat Ibu Negara.
Pak Harto benar-benar menikmati saat-saat itu kata Jenderal (Purn) Try Sutrisno.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5520708/original/035499600_1772630964-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5523131/original/041507200_1772791429-260306-dw-situasi-iran-memanas-prabowo-kumpulkan-mantan-presiden-dan-wapres-dc10ba.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523103/original/022669700_1772790028-IMG_8837.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3682204/original/057170700_1639445976-265547044_106946938433659_8086737765779574838_n.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5517444/original/022492900_1772428380-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523045/original/080298600_1772786847-IMG_8826.jpeg)


















