OPINI: Algoritma Perubahan
Pekerjaan besar yang menanti kita semua adalah mengubah arah pendidikan untuk menguasai AI dari sekedar membuat perintah, menjadi pembuat algoritma.

Oleh: Totok Amin Soefijanto, Rektor IMDE (Institut Media Digital Emtek) di Jakarta
Perubahan itu mutlak. Dia terjadi terus menerus, tidak peduli kita siap atau tidak. Tanpa kecuali, siapapun akan terkena dampaknya. Kehadiran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam ruang kelas dan belajar kita menjadi suatu keniscayaan. Tidak bisa ditolak, apalagi dilarang. Pendidik harus menerima kehadirannya, merangkulnya, dan menguasainya untuk selanjutnya menjadikannya sebagai alat dalam pengajaran mereka sehari-hari.
Ibarat koki yang memasak sop buntut, maka mesin pencari seperti Google itu ibarat menyediakan bumbu masak, bahan-bahan mentah yang mau dimasak, dan tatacara memasaknya; sedangkan AI itu ibarat mesin yang menyediakan sop buntut yang sudah jadi. Berbeda bukan?
Di tahap mesin pencari, kita sebagai manusia yang memasak. Di tahap AI, kita sebagai manusia yang menerima masakan yang sudah jadi. Nah, sebenarnya masih ”setengah jadi” kalau kita sebagai koki yang kreatif. AI membantu kita memasak lebih baik, karena tidak mulai dari nol. Tidak mulai dari bahan mentah.
Di sinilah kita sebagai pendidik perlu memberi pengertian yang mencerahkan bagi anak didik. Tidak perlu meneruskan kabar hoaks atau disinformasi mengenai AI.
Esensi dari AI sebenarnya proses mengolah data yang sangat besar melalui algoritma yang diciptakan manusia. Semua repositori pengetahuan yang ada saat ini dikumpulkan dan diolah dengan tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini yang secara teknis disebut 'prompt' (diterjemahkan sebagai perintah). Prompt atau perintah adalah instruksi atau pertanyaan spesifik yang diberikan kepada model AI untuk mendapatkan respons yang diinginkan. Sekarang banyak riset dan pelatihan yang mengasah kemampuan menyusun prompt yang efektif.
Ini perlu dalam mendorong anak didik dan kalangan masyarakat awam menguasainya semakin baik agar dapat memanfaatkan AI dengan maksimal. Menurut studi yang dilakukan Nils Knoth, Antonia Tolzin, Andreas Janson, Jan Marco Leimeister (2024) dari Jerman, kepiawaian anak didik dan pendidiknya dalam teknik penyusunan prompt (sekarang bahkan ada disiplin baru namanya 'prompt engineering' seperti 'electrical engineering' dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas dari produk yang dihasilkan AI.
Bagaimana dengan algoritma? Algoritma adalah prosedur langkah demi langkah untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan tugas. Model AI menggunakan algoritma untuk memproses perintah yang diterima dan menghasilkan keluaran yang diharapkan.
Rekayasa perintah (prompt engineering) adalah seni menyusun perintah efektif yang memanfaatkan algoritma dasar model AI untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sementara rekayasa perintah berfokus pada interaksi pengguna dengan AI, algoritma adalah logika inti yang memungkinkan AI memahami dan menanggapi interaksi tersebut.
Kuncinya ada di logika. Maka, anak didik dapat dibimbing untuk menguasai AI dengan meningkatkan cara mereka menggunakan logika. Logika pada dasarnya adalah tentang penalaran, yang merupakan proses menarik kesimpulan atau simpulan dari informasi.
Contohnya, kalau seorang pengendara sepeda motor mau menyingkat waktu tempuh, maka dia akan berusaha mencari jalan yang paling singkat. Oleh sebab itu, pemotor di Jakarta termasuk yang paling logis, karena mereka suka melawan arus.
Pekerjaan Besar Menanti

Pejabat pemerintah yang memerintahkan pembelajaran AI sejak TK tidak salah, tetapi harus diterapkan di lapangan dengan bijak. Esensi dari AI, kemudian prompt, algoritma, dan logika adalah mengasah kemampuan kita semua dalam bernalar. Tidak hanya itu, kita harus mampu berfikir inovatif, mencari terobosan, dan selalu reflektif terhadap hal-hal yang sudah dilakukan. Mana yang berhasil, mana yang gagal. Mana yang memberi manfaat, mana yang memberi keburukan.
Sudahkah anak-anak didik kita dibiasakan berfikir logis? Kalau sudah, berfikir logis saja tidak cukup. Kita harus melengkapinya dengan etika dan moral. Dalam kasus pemotor yang melawan arus lalu lintas di atas, mereka itu logis, tetapi tidak menjunjung etika dan moral.
Hal mendasar dari semua pergulatan kita saat ini dengan AI adalah membuat anak didik dan pendidik berkurang atau bahkan berhenti berfikir. Studi yang dilakukan oleh Ying Xu dari Harvard Graduate School of Education (2024) menunjukkan kebiasaan menggunaka AI mengurangi kemampuan berfikir kritis.
Studi yang lebih intensif oleh Nataliya Kosmyna dkk (2024) dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) Media Lab menunjukkan hal yang sama. Studi ini membagi 54 subjek—berusia 18 hingga 39 tahun dari wilayah Boston—menjadi tiga kelompok, dan meminta mereka untuk menulis beberapa esai SAT menggunakan ChatGPT milik OpenAI, mesin pencari milik Google, dan tidak menggunakan apa pun sama sekali.
Para peneliti menggunakan EEG untuk merekam aktivitas otak para penulis di 32 wilayah, dan menemukan bahwa dari ketiga kelompok tersebut, pengguna ChatGPT memiliki keterlibatan otak terendah dan 'secara konsisten berkinerja buruk pada tingkat saraf, bahasa, dan perilaku'.
Selama beberapa bulan, pengguna ChatGPT menjadi lebih malas dengan setiap esai berikutnya, sering kali menggunakan teknik salin-tempel di akhir studi.Para peneliti AI terdepan dunia menyarankan agar konten pendidikan AI harus diintegrasikan ke dalam kurikulum saat ini untuk memungkinkan lahirnya 'masyarakat cerdas hibrida', di mana anak didik dapat secara efektif menggunakan alat AI generatif seperti ChatGPT.
Pemerintah, akademia, pendidik, pengusaha, dan para profesional di tanah air harus bekerjasama untuk menemukan formula yang paling tepat dalam meningkatkan kemampuan anak-anak didik kita dalam menguasai AI. Benar bahwa penguasaan AI penting, tetapi lebih penting lagi adalah membiasakan anak didik berfikir kritis, menggunakan logika, kepekaan sosial, dan penerapan etika moral.
Kegagalan kita dalam menangkap angin perubahan dari hadirnya AI ini akan membuat anak-anak gen Z, Alpha, dan seterusnya makin malas berfikir. Kita akan memiliki lapisan generasi muda yang konsumtif dalam gaya hidup dan konsumtif dalam berfikir.
Pekerjaan besar yang menanti kita semua adalah mengubah arah pendidikan untuk menguasai AI dari sekedar membuat perintah, menjadi pembuat algoritma yang siap dengan semua perubahan yang datang silih berganti. Kita siap, karena kita bangsa yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, meskipun biasanya karena dipaksa keadaan.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5187168/original/083476600_1744683863-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475935/original/081315100_1768698227-115771.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475841/original/087878400_1768663052-000_932Q8KW.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5197520/original/095088500_1745476635-IMG-20250424-WA0038.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475932/original/049906700_1768695353-115507.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475928/original/032653900_1768693499-IMG-20260117-WA0238.jpg)







