Imigrasi Palu Karantina 15 WNA Filipina Terdampar, Siap Dipulangkan
Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu mengkarantina 15 WNA Filipina yang terdampar di perairan Buol. Proses identifikasi dan koordinasi dengan Konsulat Filipina dilakukan sebelum pemulangan ke negara asal.

Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Sulawesi Tengah, saat ini tengah mengkarantina 15 warga negara Filipina. Mereka sebelumnya terdampar di perairan Kabupaten Buol dan kini menjalani proses identifikasi sebelum dipulangkan ke negara asalnya. Proses karantina ini memastikan seluruh kebutuhan para WNA terpenuhi, termasuk makanan dan pakaian, sambil menunggu kelengkapan data.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, menjelaskan bahwa selama masa karantina, pihaknya juga mengambil keterangan dan melakukan berita acara pemeriksaan (BAP). Hal ini dilakukan untuk memastikan identitas serta status kewarganegaraan mereka secara akurat. Belasan WNA tersebut dijemput petugas imigrasi dari Buol dan tiba di Kantor Imigrasi Palu sekitar Pukul 10.00 Wita.
Pemeriksaan mendalam dilakukan untuk memverifikasi apakah seluruhnya benar merupakan warga negara Filipina, atau terdapat kemungkinan warga negara lain yang mampu berbahasa Filipina. Setelah proses ini selesai, Imigrasi Palu akan segera berkoordinasi dengan Konsulat Filipina di Manado, Sulawesi Utara, untuk kelancaran proses pemulangan. Upaya percepatan deportasi menjadi prioritas utama pihak imigrasi.
Proses Karantina dan Identifikasi WNA Filipina
Sebanyak 15 warga negara Filipina yang terdampar di perairan Kabupaten Buol kini berada dalam karantina di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu. Proses karantina ini bukan hanya untuk menampung, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti makanan dan pakaian. Muhammad Akmal, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, menegaskan komitmen pihaknya dalam memastikan kesejahteraan para WNA selama proses ini.
Selama karantina, petugas Imigrasi Palu secara intensif melakukan pengambilan keterangan dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Langkah ini krusial untuk mengidentifikasi secara pasti identitas dan status kewarganegaraan masing-masing individu. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti untuk menghindari kesalahan identifikasi, mengingat kemungkinan adanya warga negara lain yang fasih berbahasa Filipina.
Petugas imigrasi menjemput ke-15 WNA tersebut langsung dari Buol sebelum membawa mereka ke Kantor Imigrasi Palu. Kedatangan mereka di Kantor Imigrasi Palu tercatat sekitar Pukul 10.00 Wita. Tahap identifikasi ini merupakan fondasi penting sebelum langkah selanjutnya dalam proses pemulangan dapat diambil.
Koordinasi Pemulangan dengan Konsulat Filipina
Setelah seluruh proses pemeriksaan identitas dan status kewarganegaraan selesai, Imigrasi Palu akan segera berkoordinasi dengan Konsulat Filipina yang berada di Manado, Sulawesi Utara. Koordinasi ini bertujuan untuk memfasilitasi dan mempercepat proses pemulangan para WNA Filipina ke negara asal mereka. Keterlibatan konsulat sangat penting dalam prosedur deportasi internasional.
Muhammad Akmal menyatakan bahwa pihaknya akan mengupayakan agar para WNA tersebut dapat segera dipulangkan setelah koordinasi dengan konsulat dilakukan. Kecepatan dalam penanganan kasus ini menjadi perhatian utama Imigrasi Palu. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia dalam memberikan penanganan yang cepat dan tepat bagi warga negara asing yang mengalami musibah.
Kerja sama antara Imigrasi Palu dan Konsulat Filipina diharapkan dapat memperlancar seluruh tahapan administrasi dan logistik pemulangan. Proses ini mencakup verifikasi dokumen perjalanan dan pengaturan transportasi kembali ke Filipina. Semua pihak berupaya agar para WNA dapat kembali ke keluarga mereka secepat mungkin.
Kisah Perjuangan WNA Filipina Terdampar
Salah satu WNA Filipina bernama Banjir menceritakan pengalaman pahitnya terombang-ambing di laut selama 13 hari. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada masyarakat dan pihak Imigrasi Indonesia atas bantuan yang telah diberikan. Kisah ini menyoroti betapa sulitnya situasi yang mereka alami sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.
Banjir mengaku bahwa selama 13 hari di laut, mereka hanya memiliki satu bungkus biskuit untuk bertahan hidup. “Saya tidak makan, hanya udang-udang saja supaya semua bisa bertahan hidup,” ujarnya, menggambarkan perjuangan ekstrem untuk bertahan. Kondisi ini menunjukkan betapa kritisnya situasi yang mereka hadapi di tengah lautan.
Sebelumnya, 15 WNA Filipina ini dilaporkan terdampar di perairan Buol saat dalam perjalanan pulang ke Filipina. Mereka diketahui bekerja di wilayah Semporna, Sabah, Malaysia. Perahu yang mereka tumpangi mengalami kerusakan parah setelah dihantam ombak besar di tengah perjalanan, menyebabkan mereka terkatung-katung di laut lepas.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482699/original/032773600_1769240464-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483246/original/046687900_1769348296-Longsor_Cisarua_Bandung_Barat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482402/original/054602000_1769182507-lula_lahfah.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482931/original/031161800_1769293929-Kantong_jenazah_korban_terdampak_bencana_longsor_di_Pasirlangu__Cisarua__Kabupaten_Bandung_Barat.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5315876/original/091197500_1755174852-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__61_of_75_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483153/original/003296600_1769334824-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_16.47.24.jpeg)







