Kemeriahan Grebeg Suro di Lereng Semeru, Tradisi Sambut 1 Muharram
Selain warga lokal, Grebeg Suro juga menarik perhatian wisatawan dari luar kota hingga mancanegara.

Ribuan warga memadati kawasan wisata Hutan Bambu Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, untuk menyaksikan tradisi tahunan Grebeg Suro, Jumat (27/6).
Acara yang digelar dalam rangka menyambut 1 Muharram 1446 Hijriah atau 1 Suro dalam kalender Jawa ini menampilkan puluhan gunungan hasil bumi serta prosesi tanam kepala sapi.
Sebelum arak-arakan dimulai, peringatan Grebeg Suro diawali dengan upacara adat dan pertunjukan tarian tradisional khas Lumajangan. Kemeriahan mencapai puncaknya saat 26 gunungan yang berisi aneka hasil bumi seperti sayur dan buah diperebutkan warga.
“Senang bisa dapat rebutan gunungan ini. Tradisi seperti ini perlu dilestarikan karena saya yang tinggal di daerah perkotaan sudah susah menemukan tradisi masyarakat Jawa seperti ini,” ujar Yuli, warga asal Surabaya yang turut hadir.
Selain warga lokal, Grebeg Suro juga menarik perhatian wisatawan dari luar kota hingga mancanegara. Salah satunya Yuri Romano, turis asal Kuba, yang mengaku kagum dengan keunikan tradisi tersebut.
“Ini bukan pertama kali saya datang ke Lumajang. Tapi menyaksikan tradisi Grebeg Suro ini baru pertama kali, rasanya sungguh menakjubkan acara ini. Bagi saya dari luar negeri ini sangat memukau,” kata Yuri.
Prosesi Tanam Kepala Sapi, Simbol Tolak Bala Gunung Semeru

Salah satu prosesi sakral dalam tradisi Grebeg Suro adalah penanaman kepala sapi, yang diyakini sebagai bentuk permohonan agar warga terhindar dari bencana, terutama erupsi Gunung Semeru.
“Grebeg Suro ini tujuannya wujud rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan Allah SWT serta panen hasil bumi tahun ini. Kami juga meminta permohonan agar desa kami terhindar dari malapetaka,” jelas Kepala Desa Sumbermujur, Yayuk Sri Rahayu, yang memimpin langsung jalannya acara.
Tak hanya sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen, tradisi ini juga menjadi magnet budaya yang memperkuat identitas lokal dan berpotensi besar sebagai daya tarik wisata budaya.
Grebeg Suro di Lumajang menunjukkan bagaimana kearifan lokal tetap hidup dan diminati lintas generasi serta lintas negara.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)

















