Media Sosial Perlu Dikasih 'Makan'
Belum sempat menyeruput, dia sudah tahu mana angle yang paling estetik.

Sebelum mengaduk kopi, tangan Aji Ismawan (26) sibuk memotret latte art di gelas yang masih mengepulkan uap. Kamera ponselnya di utak-atik untuk mencari sudut pandang foto yang ciamik.
Secangkir kopi hangat telah jadi konten muncul di Instastory lengkap dengan stiker jam dan musik latar yang pas. Belum sempat menyeruput, dia sudah tahu mana angle yang paling estetik.
"Kayaknya tuh, kalau nggak update, kayak enggak ngapa-ngapain," cerita Aji dengan Merdeka.com, Selasa (9/6).
Baginya, media sosial bukan lagi sekadar tempat pamer, tapi ruang sosial, bahkan semacam diary publik. Ada keinginan untuk dilihat, didengar, dan terkoneksi. Namun di sisi lain, ada tekanan yang muncul diam-diam.
"Kalau sudah bikin konten tapi engagement-nya jelek, rasanya kaya kurang validasi gitu," kelakarnya.
Tidak bisa dimungkiri, media sosial telah menjadi perpanjangan identitas. Menurut Aji, Apa yang diunggah menjadi versi publik dari diri sendiri.
Aji yang telah akrab dengan gawai di era kekinian berpandangan, eksistensi digital menjadi sama pentingnya dengan eksistensi fisik.
"Kalau dulu orang punya diary, sekarang orang bikin instastory, cuma bedanya, ini dibaca banyak orang," ucapnya.
Menurutnya, fenomena ini begitu lumrah di kalangan Gen Z yang besar di tengah gempuran notifikasi, algoritma, dan FYP (For You Page). Segala aktivitas, mulai dari sarapan, nonton konser, sampai ngerjain skripsi, seolah perlu dokumentasi.
Tapi bukan untuk arsip pribadi, melainkan untuk 'dikasih makan ke media sosial'.
"Kadang merasa yang penting bukan cuma momennya, tapi bagaimana momen itu kelihatan di story," kata Aji.
Tak hanya itu, Hafifah Lutfiana (25) turut rajin membuat konten reels dan instagram dari kegiatan sehari-hari. Dari outfit hari ini (OOTD), hingga 'a day in my life'.
Menurutnya, berbagi aktivitas ke media sosial bukan hanya soal eksistensi, tapi juga bentuk ekspresi diri.
"Itu juga cara membagikan momen ke sosial, yang informatif, dan ekspresi diri, Kadang, juga buat kasih tahu ke temen-temen, gue baik-baik aja, atau gue lagi seru-seruan," ucapnya.
"Tapi aku mulai belajar, mana yang aku bagikan karena pengin, mana yang aku bagikan karena tekanan," sambungnya.

Anggapan Narsis
Menurut Hafifah, anggapan narsisme atau dianggap mencari validasi eksternal. terhadap konten terasa tidak adil. Baginya, hal-hal kecil di media sosial bukan cuma soal pamer tapi bisa membangun koneksi.
"Narsis itu kan kalau lo merasa diri paling keren dan pengin diakui terus. Saya cuma ingin berbagi OOTD. Dan kalau itu bisa bikin orang lain terinspirasi, kenapa enggak?" ujarnya.
Namun, di balik semaraknya unggahan, ada juga kelompok yang lebih senyap. Mereka jarang memposting apa pun, tetapi aktif menonton. Seperti Aulia Nugraha (26) misalnya jadi penonton diam-diam dalam panggung yang tak pernah berhenti menampilkan pertunjukan.
Aulia pernah merasa canggung karena jarang update. Sperti ada yang 'kurang' dibanding teman-temannya.
"Kadang suka kepikiran, ‘Apa hidup gua nggak seru ya? padahal ya, hidup gue ya hidup aja," ucapnya sambil tertawa.
Di sela rutinitas harian, Aulia sesekali ikut mengunggah. Entah kopi, matahari pagi, gitaran atau dirinya dengan caption singkat di Instastory.
“Aku nggak selalu update, tapi hampir tiap hari pasti lihat-lihat story orang temen temen," kata Aulia.
Dia bilang, meski jarang posting, ia bisa merasa dekat dengan teman-temannya hanya dari melihat story mereka.
"Kadang, gue merasa tahu kabar mereka tanpa harus ngobrol langsung. Padahal, ya bisa jadi itu cuma highlight doang," ucapnya.
Aulia sempat merasa lelah dengan media sosial dengan melakukan deactivate. Namun belum tentu bisa lepas sepenuhnya.
"Pernah sih, uninstall sebentar. Tapi kayak ada yang hilang," ujarnya.
Aulia merasa media sosial menjadi sesuatu yang paradoks seperti tempat pelarian, sumber hiburan sekaligus kecemasan.
Kadang, dia memilih berhenti sejenak dengan hiruk pikuk jagat maya.
"Mungkin tak masalah sesekali memberi makan media sosial. Asal jangan lupa kita' juga perlu memberi 'makan diri sendiri' dengan keheningan, kejujuran, dan ruang untuk hidup tanpa penonton," tutupnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)

















