Satu Dekade Kemenkeu Mengajar: Refleksi Keteladanan Relawan Keuangan Negara dalam Mencerdaskan Bangsa
Program Kemenkeu Mengajar genap 10 tahun, menunjukkan keteladanan relawan keuangan negara dalam mengedukasi generasi muda tentang pengelolaan APBN dan integritas. Simak dampaknya!

Tahun 2016 menandai lahirnya gerakan mulia bernama "Kemenkeu Mengajar", sebuah inisiatif dari sekelompok kecil pegawai Kementerian Keuangan. Kegiatan ini tumbuh dari keyakinan kuat bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk membentuk generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dan berdaya saing.
Dalam pelaksanaannya, seluruh pegawai Kemenkeu, termasuk Menteri Keuangan, turut serta menjadi relawan pengajar. Mereka hadir di berbagai sekolah dengan tujuan memberikan pemahaman mendalam tentang konsep kebijakan fiskal dan dampaknya terhadap pembangunan nasional.
Kini, program Kemenkeu Mengajar telah genap berusia satu dekade pada tahun 2025. Selama kurun waktu tersebut, ribuan relawan telah kembali ke ruang kelas, membagikan pengetahuan dasar mengenai pengelolaan keuangan negara, peran APBN, pentingnya pajak, serta nilai-nilai integritas dan etika pelayanan publik, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Meningkatkan Literasi Keuangan dan Motivasi Siswa
Data resmi penyelenggaraan Kemenkeu Mengajar di tahun 2025 mencatat partisipasi luar biasa, dengan lebih dari 10.000 relawan mengajar di 1.200 sekolah di seluruh Indonesia. Angka ini berhasil menjangkau lebih dari 350.000 siswa secara langsung, menjadikannya capaian terbesar sepanjang sejarah program dan menunjukkan kuatnya semangat pengabdian di kalangan pegawai publik.
Dampak signifikan terhadap literasi siswa terlihat dari hasil evaluasi internal tahun 2024 dan 2025. Sebanyak 83% siswa menyatakan baru pertama kali memahami apa itu APBN dan peran pajak dalam pembangunan, sementara 78% siswa mampu menjelaskan kembali fungsi utama APBN (alokasi, distribusi, stabilisasi) setelah sesi pembelajaran. Lebih lanjut, 72% siswa berhasil mengidentifikasi contoh pengeluaran negara yang mereka nikmati dalam kehidupan sehari-hari, dan di daerah 3T, peningkatan literasi keuangan negara bahkan mencapai 40%.
Tidak hanya literasi, kehadiran relawan juga meningkatkan motivasi murid, sebagaimana disampaikan oleh para guru di sekolah mitra. Hasil survei pasca-kegiatan menunjukkan bahwa 90% guru merasakan siswa menjadi lebih antusias memahami hubungan antara belajar dan masa depan karier, dan 87% guru menyatakan metode pembelajaran yang digunakan relawan, seperti berbasis permainan, studi kasus, simulasi APBN, dan cerita inspiratif, sangat membantu pemahaman siswa terhadap topik yang dianggap sulit.
Sebanyak 75% guru berpendapat bahwa kegiatan Kemenkeu Mengajar melengkapi kurikulum Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, khususnya tema institusi negara dan pengelolaan keuangan publik. Hal ini membuktikan bahwa literasi tentang keuangan negara bukanlah materi yang terlalu "berat" bagi pelajar, melainkan dapat disampaikan secara efektif melalui pendekatan visual, interaktif, naratif, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Memahami Makna Pengabdian: Refleksi Relawan dan Guru
Program Kemenkeu Mengajar memperlihatkan satu hal penting: mengajar adalah aktivitas yang selalu bersifat dua arah. Relawan mungkin datang dengan tujuan menyampaikan konsep tentang keuangan negara, namun pulang dengan membawa pelajaran yang jauh lebih besar, yakni memahami makna pengabdian total yang selama ini dijalankan para guru.
Bagi banyak relawan, berdiri di depan kelas menjadi refleksi yang menggugah hati, di mana mereka merasakan sendiri betapa melelahkannya mengajar sehari dibandingkan bekerja di kantor sepanjang minggu. Pengalaman ini membuka mata mereka terhadap kompleksitas menjaga fokus murid, mengelola dinamika kelas, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menyadarkan bahwa tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membentuk karakter dan membangun harapan.
Di sinilah titik temu nilai antara relawan dan guru menjadi begitu nyata, dengan integritas yang ditanamkan guru melalui teladan keseharian diperkuat oleh relawan yang memperlihatkan bagaimana seorang ASN menjaga kepercayaan publik dalam mengelola uang negara. Kesabaran dan keikhlasan, yang menjadi fondasi profesi guru, juga menjadi refleksi bagi relawan bahwa mengajar adalah bentuk pengabdian kepada bangsa, bukan sekadar pekerjaan administratif.
Pertemuan nilai-nilai ini memperkaya pengalaman kedua belah pihak; banyak relawan kembali bekerja dengan perspektif baru bahwa setiap kebijakan fiskal dan pelayanan publik bermuara pada wajah-wajah kecil yang mereka temui di kelas. Para guru pun memperoleh manfaat serupa, menerima materi baru yang memperkaya proses belajar mengajar, khususnya tentang kenegaraan dan keuangan publik, serta mendapatkan contoh nyata bagaimana aparatur negara bekerja.
Inspirasi dan Langkah ke Depan untuk Pendidikan Indonesia
Satu dekade Kemenkeu Mengajar adalah perjalanan panjang bagi sebuah gerakan berbasis kerelawanan yang digerakkan oleh semangat individual pegawai negara. Program ini tetap hidup dan mengakar karena menyentuh inti karakter bangsa, yaitu keinginan untuk berbagi, di mana relawan datang dengan niat memberi dan pulang dengan kesadaran bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Indonesia.
Ke depan, sejumlah langkah penting perlu dilakukan agar kolaborasi antara relawan dan guru semakin kuat. Ini meliputi:
- Perluasan ke daerah 3T menjadi agenda utama, memanfaatkan digitalisasi dan model hybrid untuk mengatasi keterbatasan akses fisik.
- Literasi keuangan negara sudah selayaknya terintegrasi dalam kurikulum karakter, agar pemahaman tentang APBN, pajak, dan peran pemerintah diajarkan sejak dini.
- Sinergi dengan pemerintah daerah penting diperkuat, terutama dengan program literasi fiskal berkelanjutan di tingkat lokal.
- Evaluasi mendalam atas dampak jangka panjang harus mulai dilakukan, agar manfaatnya dapat semakin dioptimalkan.
- Keteladanan harus menjadi poros perubahan, di mana relawan membawa semangat integritas ASN, sementara guru membawa keteladanan pendidik, melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral kuat.
Pada akhirnya, program ini mengingatkan Indonesia bahwa pendidikan tidak hanya dibangun oleh kebijakan atau fasilitas, tetapi oleh manusia-manusia yang bersedia hadir dan memberi inspirasi. Relawan keuangan negara, melalui Kemenkeu Mengajar, melakukan sebagian kecil dari tugas mulia itu, tetapi cukup untuk menyalakan imajinasi siswa, membuka cakrawala baru tentang negara, dan membuat mereka bermimpi lebih besar. Warisan terbesar dari satu dekade program ini adalah nilai yang ditanamkan: generasi muda yang memahami bagaimana negara bekerja, percaya pada integritas pelayanan publik, dan memiliki mimpi untuk ikut membangun Indonesia.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)








