Daging Bebas Bau Belum Tentu Aman, Cek Dulu Ciri Kerusakannya!
Daging beku bisa tetap rusak meski tak berbau. Cek ciri fisiknya sebelum dimasak agar terhindar dari risiko kesehatan yang tak terlihat.

Membeli daging segar dalam jumlah besar saat momen tertentu seperti Idul Adha atau saat ada potongan harga di pasar swalayan memang menguntungkan secara ekonomi. Namun, menyimpan daging dalam freezer selama berminggu-minggu tanpa memperhatikan kualitas dan cara penyimpanan yang tepat dapat menjadi bumerang bagi kesehatan keluarga.
Banyak orang beranggapan bahwa daging beku otomatis aman dikonsumsi hanya karena tidak mengeluarkan bau busuk. Padahal, kerusakan daging tidak selalu disertai dengan bau menyengat, apalagi jika sudah lama disimpan di suhu rendah. Menurut ahli gizi RSUP Dr. Sardjito, Asri Arumawati, S.Tr.Gz., dalam Talkshow Keluarga Sehat Kemenkes, daging dalam freezer pun bisa mengalami penurunan kualitas hingga menjadi tidak layak konsumsi.
“Meskipun disimpan di freezer, bukan berarti otomatis tetap layak dikonsumsi,” tegas Asri. Ia mengingatkan bahwa ada sejumlah ciri fisik yang harus diperhatikan sebelum memasak daging beku. Jika abai, bukan tidak mungkin daging yang terlihat "baik-baik saja" justru menyimpan potensi bahaya mikrobiologis yang membahayakan tubuh.

Waspadai Ciri-Ciri Daging Beku yang Sudah Tidak Layak Konsumsi
Mendeteksi kerusakan daging beku tidak bisa hanya mengandalkan indra penciuman. Ada parameter tekstur dan penampakan fisik lain yang perlu diperhatikan. Beberapa tanda berikut bisa menjadi alarm bahaya meski daging tampak tidak berbau.
1. Tekstur Mengering dan Tidak Juicy Lagi
Salah satu tanda utama bahwa daging tidak lagi dalam kondisi optimal adalah hilangnya kelembapan alami. Daging beku yang terlalu lama disimpan sering kali mengalami proses dehidrasi internal, terutama jika tidak dikemas dengan benar.
Menurut Asri, daging dalam kondisi ini akan terasa kering saat disentuh, tidak lagi lentur dan juicy sebagaimana mestinya. “Kandungan air di dalam serat daging bisa menguap secara perlahan meskipun disimpan dalam suhu rendah, apalagi kalau tidak dalam wadah kedap udara,” jelasnya. Inilah yang sering disebut dengan freezer burn, yaitu kondisi di mana permukaan daging berubah warna dan kering karena kontak langsung dengan udara di freezer.
Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas nutrisi dan rasa daging. Daging yang mengering tidak hanya kehilangan cita rasa, tapi juga mulai mengalami kerusakan protein dan oksidasi lemak, yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko pencernaan apabila dikonsumsi dalam jumlah besar.
2. Lengket dan Berlendir Saat Dilelehkan
Proses thawing atau pencairan daging beku menjadi momen penting untuk menilai kesegarannya. Daging yang aman untuk dimasak akan terasa kenyal, segar, dan bebas lendir. Namun jika saat disentuh justru terasa licin, lengket, atau berlendir, maka ini adalah tanda kerusakan mikrobiologis yang serius.
Kondisi berlendir ini menandakan bahwa mikroorganisme seperti bakteri pembusuk telah berkembang, meskipun tidak terdeteksi oleh penciuman. Daging yang menunjukkan ciri ini tidak lagi aman untuk dikonsumsi, karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan, infeksi, hingga keracunan makanan.
Sayangnya, banyak masyarakat yang masih merasa sayang membuang daging hanya karena tampak "masih bisa dimasak". Asri mengingatkan bahwa keputusan semacam ini justru berisiko tinggi. “Jangan sampai karena eman-eman, kita justru mengorbankan kesehatan tubuh sendiri,” tegasnya.

Tips Aman Menyimpan dan Mengolah Daging Beku
Agar daging tetap aman, bernutrisi, dan layak konsumsi, tidak cukup hanya mengandalkan pendingin. Perlu pengetahuan dasar mengenai cara penyimpanan yang tepat serta tahapan mencairkan daging yang benar.
1. Gunakan Kemasan Kedap Udara yang Aman Makanan (Food Grade)
Menyimpan daging dalam plastik biasa atau membiarkannya terbuka di freezer bisa mempercepat proses kerusakan. Pilihlah wadah atau plastik vakum kedap udara yang mampu menghalangi kontak langsung daging dengan udara bebas. Dengan demikian, risiko penguapan air dan pertumbuhan mikroorganisme bisa ditekan secara maksimal.
Daging yang dikemas dengan baik dapat bertahan di freezer hingga 6 bulan, namun tetap disarankan untuk dikonsumsi dalam waktu maksimal 1–2 bulan agar kualitas dan nilai gizinya tetap optimal.
2. Tandai Tanggal Simpan dan Gunakan Prinsip FIFO
Satu kesalahan umum dalam penyimpanan daging beku adalah tidak mencatat tanggal masuk freezer. Hal ini membuat daging lama sering kali tertumpuk di bawah, sementara yang baru justru lebih dahulu dikonsumsi. Gunakan prinsip FIFO (First In First Out)—daging yang disimpan lebih dulu harus digunakan lebih dulu.
Tempelkan label tanggal di setiap kemasan daging beku untuk memudahkan pengawasan. Selain itu, rajinlah melakukan pengecekan isi freezer agar tidak ada daging yang terlupakan hingga berbulan-bulan.
3. Lelehkan Daging dengan Cara yang Benar
Proses thawing yang sembarangan justru dapat mempercepat kerusakan. Hindari mencairkan daging beku dengan merendamnya langsung dalam air panas atau membiarkannya terlalu lama di suhu ruang. Cara terbaik adalah:
- Pindahkan ke kulkas bagian bawah semalam sebelum digunakan.
- Gunakan microwave dengan mode defrost jika terburu-buru.
- Atau, rendam dalam air dingin dalam kantong tertutup, ganti air setiap 30 menit.
Cara-cara ini akan meminimalkan perkembangan bakteri selama proses pencairan, menjaga daging tetap aman sebelum diolah.

Dampak Kesehatan Jika Konsumsi Daging Rusak
Mengonsumsi daging yang tidak lagi layak konsumsi bisa berdampak langsung pada kesehatan. Bahaya paling umum adalah keracunan makanan akibat bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Listeria yang berkembang di daging rusak.
Gejalanya bisa berupa mual, muntah, diare, demam, kram perut, hingga dehidrasi berat, terutama pada anak-anak dan lansia. Dalam kasus yang lebih parah, kontaminasi mikrobiologis dapat menyebabkan infeksi saluran cerna, kerusakan organ dalam, hingga sepsis.
Selain itu, kandungan nutrisi seperti protein, zat besi, dan vitamin B12 pada daging yang sudah rusak akan mengalami penurunan signifikan, sehingga manfaat gizi yang seharusnya diperoleh menjadi tidak optimal. Alih-alih menjadi sumber energi dan pembangun sel, daging justru bisa menjadi sumber masalah.
Jangan Abaikan Kualitas Daging Beku
Daging yang tampak segar dan tidak berbau belum tentu aman untuk dikonsumsi. Penilaian kualitas daging harus mencakup tekstur, kelembapan, dan tampilan fisik secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan bau semata. Terlebih jika daging telah disimpan dalam freezer untuk waktu yang lama.
Dengan memahami ciri-ciri kerusakan daging, cara penyimpanan yang benar, serta bahaya kesehatan yang mengintai, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengelola stok makanan di rumah, terutama protein hewani seperti daging sapi, kambing, atau ayam.
Lebih baik membuang daging yang sudah rusak daripada mempertaruhkan kesehatan keluarga. Ingatlah bahwa penghematan sesaat tidak sebanding dengan risiko penyakit yang mungkin ditimbulkan. Sebagaimana ditegaskan oleh Asri Arumawati, “Kesehatan adalah investasi yang tak ternilai. Jangan kompromikan demi rasa sayang yang keliru.”





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481543/original/024998500_1769136804-1001542045.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481384/original/056287400_1769093956-147763.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481493/original/017421000_1769135268-000_34L79R7.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5315719/original/090106300_1755168093-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__14_of_75_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481427/original/032187300_1769130251-WhatsApp_Image_2026-01-23_at_08.01.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481035/original/045466500_1769074755-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_1.04.34_PM.jpeg)



















