Hati-Hati, Ini Dampak Pemakaian Viagra Palsu
Viagra mengandung sildenafil sitrat, namun banyak produk palsu yang tidak mencantumkan kandungan tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan bahwa Viagra sering kali dipalsukan. Obat palsu ini dapat menimbulkan risiko serius bagi individu yang mengonsumsinya.
Dalam kanal Komunikasi Risiko Obat Palsu yang baru diluncurkan oleh BPOM, dijelaskan secara mendetail mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh Viagra palsu serta obat-obatan lainnya yang tidak asli.
Dijelaskan bahwa Viagra seharusnya mengandung sildenafil sitrat, tetapi sering kali, kandungan tersebut tidak diperhatikan dalam produk palsu. Sildenafil sitrat berfungsi untuk mengatasi disfungsi ereksi.
Penggunaan sildenafil sitrat tanpa pengawasan dari tenaga kesehatan dapat mengakibatkan efek samping yang serius dan tidak terkontrol, sehingga membahayakan kesehatan bahkan dapat berujung pada kematian.
"Dampak pada sistem kardiovaskular yaitu picu stroke, gagal jantung, dan kematian," demikian kutipan dari kanal Komunikasi Risiko Obat Palsu BPOM, Selasa (30/12).
Selain itu, dampak pada sistem hormon dan reproduksi dapat berdampak pada kadar testosteron, gangguan fungsi penglihatan (retina), serta priapismus (ereksi yang berkepanjangan).
Penggunaan sildenafil sitrat yang tidak sesuai dengan dosis terapi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit menular seksual. Hal ini bisa mengganggu kehidupan sosial pengguna.
Di samping itu, dampak psikologis juga dapat muncul, karena terdapat potensi ketergantungan terhadap obat tersebut.
Dari sudut pandang ekonomi, penggunaan produk palsu dapat menambah biaya kesehatan, mengingat perlunya pengobatan ulang untuk mencapai terapi yang diinginkan, diagnosis ulang, atau terapi lanjutan.
Ciri-Ciri Viagra Asli

Kanal Komunikasi Risiko Obat Palsu BPOM menjelaskan ciri-ciri Viagra yang asli agar konsumen tidak terjebak oleh produk palsu.
Obat yang asli dipasarkan dengan nama merek Viagra dari produsen Fareva Amboise dan terdaftar di Pfizer Indonesia. Kandungan obat tersebut meliputi:
- Sildenafil Sitrat ~ Sildenafil 25 mg
- Sildenafil Sitrat ~ Sildenafil 50 mg
- Sildenafil Sitrat ~ Sildenafil 100 mg
Obat ini umumnya digunakan untuk mengatasi masalah disfungsi ereksi dan tersedia dalam bentuk tablet salut selaput.
Kemasan Viagra terdiri dari dus yang berisi satu blister dengan empat tablet salut selaput. Pada kemasan juga terdapat nomor izin edar (NIE) sebagai berikut:
- DKI1990401417C1 (25 mg)
- DKI1690401417A1 (50 mg)
- DKI1690401417B1 (100 mg)
Viagra (Sildenafil Sitrat) berfungsi sebagai inhibitor phosphodiesterase-5 (PDE5) yang ditujukan untuk mengobati disfungsi ereksi. Penting untuk dicatat bahwa Viagra adalah obat keras yang penggunaannya harus mengikuti resep dokter.
Ciri-Ciri Viagra Palsu
Produk Viagra palsu yang berhasil ditemukan oleh petugas BPOM adalah barang yang dijual di kios atau toko ilegal, bahkan di gerobak yang berada di pinggir jalan.
Biasanya, kios atau gerobak tersebut dilengkapi dengan identitas atau papan nama yang mencolok, seperti "OBAT KUAT, PERKASA, JANTAN, VITALITAS."
Penjualan produk ini juga merambah ke media daring, termasuk platform e-commerce dan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.
Modus operandi penjualan Viagra palsu di internet sering dilakukan melalui sarana yang tidak resmi, yang tidak terdaftar dalam Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi (PSEF).
Sering kali, iklan untuk Viagra palsu ini menggunakan nama produk yang disamarkan dengan angka atau singkatan, contohnya seperti Vgra, v14gra, dan v14gr4.
Hal ini menunjukkan bahwa pelaku penjualan berusaha untuk mengelabui konsumen agar tidak menyadari bahwa mereka membeli produk ilegal.
Selain itu, penjualan melalui media sosial dan e-commerce semakin memudahkan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan produk tersebut, meskipun tanpa jaminan kualitas dan keamanan.
Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk lebih berhati-hati dan teliti sebelum melakukan pembelian obat-obatan secara daring.
Obat Palsu Justru Membahayakan
Ancaman obat palsu terhadap kesehatan masyarakat masih sangat serius. Obat palsu berpotensi mengandung bahan yang tidak sesuai, baik dari segi komposisi maupun dosis, bahkan mungkin tidak mengandung zat aktif sama sekali.
Dalam beberapa kasus, obat palsu dapat mengandung zat berbahaya yang dapat merugikan kesehatan penggunanya. Dampak negatif dari obat palsu ini mencakup keracunan, kegagalan dalam pengobatan, resistansi terhadap obat, dan dalam kasus yang parah, dapat berujung pada kematian.
Penggunaan obat dengan dosis yang tidak tepat pada jenis obat tertentu juga dapat menyebabkan ketergantungan serta mendorong perilaku penggunaan obat yang berisiko.
Selain itu, peredaran obat palsu dapat menyebabkan peningkatan biaya medis, termasuk biaya perawatan kesehatan akibat kebutuhan untuk pengobatan ulang, serta biaya tidak langsung yang berasal dari hilangnya produktivitas.
Hal ini dapat memicu masalah ekonomi dan sosial yang lebih besar serta menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyedia layanan kesehatan.
Oleh karena itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membeli obat agar terhindar dari risiko obat palsu dan dampak yang merugikan kesehatan.
"Mari bersama kita wujudkan 3S: Sadari bahaya obat palsu, Simak informasi dalam komunikasi risiko obat palsu, dan Sudahi peredaran obat palsu di Indonesia," ajak Taruna Ikrar dalam keterangan resmi, Senin (29/12/2025).





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481230/original/049211900_1769082328-4b8c9517-f363-47ab-a579-7af0a5c6bc32.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478784/original/010546900_1768923115-14.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5481220/original/043105500_1769082118-20260122-langkah-prabowo-terhenti-di-swiss-disambut-hormat-sosok-presiden-pbb-asal-indonesia-ab67cc.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481205/original/076246700_1769081246-pedri_lukas_provod_slavia_praha_barcelona_AP_Photo_Petr_David_Josek.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477032/original/082753400_1768806624-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_10.44.42.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481219/original/085811300_1769081532-1001539773.jpg)















