Mumia: Sejarah Kelam Obat dari Sisa Jasad Manusia yang Sempat Jadi Primadona
Mumia, obat yang terbuat dari sisa jasad manusia, sempat menjadi primadona di Eropa pada abad pertengahan hingga abad ke-18, menyembuhkan berbagai penyakit.

Di masa lalu, upaya penyembuhan penyakit mendorong manusia melakukan praktik medis yang kini dianggap mengerikan dan tak etis. Salah satu contohnya adalah penggunaan 'mumia' sebagai obat. Istilah ini merujuk pada sisa-sisa jasad manusia yang diolah menjadi serbuk atau ramuan, dan dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Praktik ini berlangsung selama berabad-abad, terutama di Eropa, dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Dari abad pertengahan hingga abad ke-18, 'mumia' menjadi komoditas yang diperdagangkan dan digunakan secara luas. Apoteker menjualnya sebagai bahan baku obat, dan masyarakat mengonsumsinya untuk mengatasi berbagai penyakit. Keyakinan akan khasiat 'mumia' begitu kuat, sehingga praktik ini terus bertahan meskipun muncul keraguan dan kritik.
Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah kelam penggunaan 'mumia' sebagai obat. Kita akan menelusuri asal-usul praktik ini, bagaimana 'mumia' diproduksi dan diperdagangkan, penyakit apa saja yang diklaim dapat disembuhkan, serta kontroversi dan dampak etis yang menyertainya. Mari kita selami lebih dalam kisah mengerikan di balik 'obat' yang terbuat dari jasad manusia ini.
Asal Usul dan Definisi Mumia
Praktik meresepkan sisa-sisa manusia atau produk sampingannya untuk penyembuhan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Louise Noble, seorang dosen senior di University of New England, Australia, dalam bukunya berjudul "Medicinal Cannibalism in Early Modern English Literature and Culture," menunjukkan bahwa beberapa tokoh penting dalam dunia kedokteran, seperti Galen dan Paracelsus, mendukung penggunaan sisa-sisa manusia untuk pengobatan.
Galen, seorang dokter dan filsuf Romawi yang hidup pada abad kedua, mengakui efek kuratif dari ramuan tulang manusia yang dibakar untuk mengobati epilepsi dan arthritis. Paracelsus, seorang alkemis dan dokter Swiss yang hidup dari tahun 1493 hingga 1541, menyatakan bahwa obat terbaik untuk manusia adalah tubuh manusia itu sendiri. Ia juga mempromosikan kekuatan obat dari 'mumia', darah manusia, lemak, sumsum, kotoran, dan tengkorak dalam pengobatan berbagai penyakit.
Antara abad ke-12 dan ke-17, dan bahkan hingga abad ke-18 menurut Noble, 'mumia' banyak digunakan sebagai obat di negara-negara Eropa. Dalam dunia medis pada masa itu, istilah 'mumia' memiliki makna yang berbeda-beda. Dalam tulisan medis awal dari Timur Tengah, kata 'mumiya' merujuk pada mineral pitch alami.
Namun, seiring waktu, istilah ini memiliki serangkaian makna yang berbeda bagi para pemikir dan dokter di Eropa. Menurut risalah farmasi abad ke-18 oleh Dr. Robert James, istilah tersebut dapat merujuk pada berbagai zat yang diekstrak dari sisa-sisa manusia yang dibalsem. Dr. James menjelaskan bahwa di bawah nama 'mumia' terdapat tiga jenis, yaitu 'mumia' dari Arab, Mesir, dan 'mumia' yang dikeringkan di bawah pasir.
Mumia Sebagai Panacea: Klaim dan Kegunaan Medis

Dr. James juga menjelaskan jenis penyakit apa saja yang dapat diobati dengan 'mumia'. Dia mencantumkan berbagai kegunaannya sebagai pengencer darah, penghilang rasa sakit, penekan batuk, anti-inflamasi, bantuan menstruasi, dan sarana untuk meningkatkan penyembuhan luka. Bagian lain dari sisa-sisa manusia juga bisa berguna. Dalam risalahnya, Dr. James juga merekomendasikan kulit mayat untuk persalinan yang sulit dan gangguan histeris, lemak untuk meredakan nyeri dan melembutkan pengerasan bekas luka, serta tulang untuk mengobati pilek, fluks menstruasi, disentri, dan diare.
Berikut adalah daftar klaim pengobatan menggunakan 'mumia':
- Pengencer darah: "Mumia melarutkan darah yang menggumpal."
- Penghilang rasa sakit: "Dikatakan efektif dalam membersihkan kepala, melawan nyeri limpa."
- Penekan batuk: "Efektif melawan batuk."
- Anti-inflamasi: "Efektif melawan inflasi tubuh."
- Bantuan menstruasi: "Efektif melawan obstruksi menstruasi."
- Penyembuhan luka: "Bermanfaat untuk menyatukan luka."
Namun, Richard Sugg, Ph.D., seorang dosen di University of Durham, Inggris, mencatat bahwa tidak semua orang menyukai pengobatan dengan 'mumia', bahkan ketika 'obat' ini berada di puncak popularitasnya. Beberapa dokter abad ke-16 dan ke-17 sangat khawatir bahwa banyak obat 'mumia' bukanlah barang asli, melainkan palsu yang diperoleh dari mayat penjahat yang baru dieksekusi.
Ahli bedah kerajaan Prancis, Ambroise Paré, pada tahun 1585 menyesalkan bahwa mereka terpaksa menelan partikel-partikel busuk dari mayat orang-orang Mesir yang paling hina, atau orang-orang yang digantung. Hal ini menunjukkan bahwa praktik penggunaan 'mumia' sebagai obat tidak sepenuhnya diterima oleh semua kalangan medis pada masa itu.
Kontroversi dan Permasalahan Etis
Sejarah pengobatan dengan 'mumia', obat mayat, dan kanibalisme medis sangat berakar pada ketidaksetaraan sosial dan stereotip rasial. Orang Romawi kuno percaya bahwa darah yang diminum panas-panas dari luka seorang gladiator dapat menyembuhkan epilepsi. Karena sebagian besar gladiator adalah budak, gagasan meminum darah mereka menekankan jurang pemisah sosial yang lebar. Mereka yang tidak memiliki hak warga negara menyediakan hiburan mengerikan di arena dan bahan obat yang seharusnya terlarang.
Pada abad ke-16 dan ke-17, apoteker dan dokter, atau lebih tepatnya, pencuri mayat bayaran, mungkin mencuri mayat segar yang tidak diklaim dari penjahat yang dieksekusi. Beberapa mayat tersebut mungkin menjadi sumber ekstrak obat. Dr. Paré mengecam apoteker Prancis yang mencuri mayat orang yang digantung pada malam hari dan membalsemnya dengan garam dan di dalam oven untuk menjualnya sebagai 'mumia' asli.
Sugg menunjukkan bahwa tuduhan kanibalisme digunakan sebagai penghinaan yang efektif terhadap masyarakat suku di Amerika dan Australasia. Namun, selama berabad-abad, orang Eropa tidak ragu untuk mengonsumsi sisa-sisa manusia untuk kesehatan, terutama jika sisa-sisa itu berasal dari makam kuno di Timur Tengah. Praktik ini mulai menghilang pada abad ke-18. Mumi Mesir tetap menjadi pusat perdagangan Eropa yang intens selama sekitar seratus tahun lagi, karena warna coklat mumi, pigmen yang diperoleh dari sisa-sisa mumi, terus populer di kalangan pelukis di Barat.
Akhirnya, kanibalisme medis benar-benar ketinggalan zaman, sebagian berkat perubahan sikap terhadap sisa-sisa manusia, yang pada abad ke-20 menjadi jauh lebih tidak menyenangkan bagi masyarakat luas. Richard Sugg berpendapat bahwa bukan hanya bukti ilmiah yang akhirnya menghapus 'mumia' dari praktik medis arus utama. Praktik ini menjadi korban ideologi kemajuan dan pencerahan yang lebih umum, serta kehalusan baru, di mana tubuh manusia (hidup atau mati) jauh lebih mudah menimbulkan rasa jijik.
Warisan dan Refleksi
Beberapa aspek sejarah medis mungkin tampak mengejutkan dan menjijikkan, tetapi memperhitungkannya berarti memperhitungkan perubahan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, serta siapa yang dapat memperoleh manfaat dari perawatan kesehatan. Ke depan, merefleksikan sisi sejarah medis yang lebih gelap dan tidak biasa ini dapat memberikan informasi tentang pemahaman yang lebih adil dan komprehensif tentang praktik kesehatan.
Sejarah penggunaan 'mumia' sebagai obat memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kepercayaan dan praktik medis dapat berubah seiring waktu. Praktik ini juga menyoroti pentingnya etika dalam praktik medis dan perlunya bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim pengobatan. Dengan memahami masa lalu, kita dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang perawatan kesehatan di masa depan.
Sebagai penutup, mari kita renungkan kata-kata Richard Sugg: “Apa yang dapat kita pelajari dari sejarah pengobatan mayat yangSurprisingly diabaikan? Kita dapat menyimpulkan bahwa bukan hanya bukti ilmiah yang akhirnya menghapus mumi dari praktik medis arus utama. Tampaknya telah menjadi korban, sebagian, dari ideologi kemajuan dan pencerahan yang lebih umum, serta jenis kesantunan baru, di mana tubuh manusia (hidup atau mati) jauh lebih mudah menimbulkan rasa jijik.”





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)












