Ilmuwan Teliti Mumi Buaya Berusia 3.000 Tahun dari Mesir Kuno, Isi Perutnya Bikin Takjub
Mumi buaya sepanjang 2,1 meter itu disimpan di Museum dan Galeri Seni Birmingham, Inggris.

Ilmuwan berhasil mengungkap kisah tak terduga dari seekor buaya berusia 3.000 tahun yang diawetkan pada era Mesir Kuno.
Studi terbaru menunjukkan bahwa hewan ini bukan sekadar predator Sungai Nil, tetapi bagian dari ritual pengorbanan yang rumit untuk dewa buaya, Sobek. Temuan ini dipaparkan dalam laporan yang dikutip dari popularmechanics.com, Kamis (11/12/25).
Buaya sepanjang 2,1 meter yang disimpan di Museum dan Galeri Seni Birmingham itu dikenal sebagai spesimen 2005.335 menjadi kunci memahami praktik ritual Mesir Kuno.
Organ buaya tetap utuh

Tidak seperti mumifikasi manusia yang mengharuskan pengangkatan organ, para pemuja Sobek justru membiarkan organ buaya tetap utuh.
Keunikan inilah yang memberi peluang bagi arkeozoolog Universitas Manchester untuk menelusuri penyebab kematian dan metode penangkapannya.
Menggunakan teknologi sinar-X dan CT-scan, para peneliti mengintip isi perut buaya tanpa merusak mumi.
Mereka menemukan gastrolit batu kecil yang biasa ditelan buaya untuk membantu pencernaan serta seekor ikan utuh lengkap dengan kail perunggu masih tertancap.
Detail ini menunjukkan bahwa buaya tersebut kemungkinan besar ditangkap tak lama setelah melahap makanan terakhirnya, sengaja disiapkan untuk upacara persembahan.
Kail perunggu
“Teknik radiografi 3D memberi kami kemampuan melihat ke dalam tanpa harus membuka atau merusak artefak berharga seperti ini,” ujar Lidija McKnight, ahli arkeozoologi Universitas Manchester yang terlibat dalam penelitian, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Tak hanya menganalisis, tim peneliti juga merekonstruksi secara virtual kail perunggu kuno tersebut untuk kebutuhan pameran.
Menurut McKnight, teknik pembuatannya menuang logam cair ke dalam cetakan tanah liat yang dipanaskan tidak jauh berbeda dengan metode modern yang digunakan dalam proses replikasinya.
Simbol kekuatan
Buaya memang memegang peran penting dalam budaya Mesir Kuno. Selain dianggap simbol kekuatan, hewan ini juga dipuja karena sisi kelembutannya terhadap anak-anaknya.
Namun pemujaan ini melahirkan praktik ekstrem. Arkeolog menemukan ribuan buaya mumi di Fayoum, pusat kultus Sobek, termasuk bayi-bayi buaya yang diyakini dibudidayakan khusus untuk ritual.
Berabad-abad kemudian, pengorbanan itu justru membuka jendela pengetahuan. Lewat teknologi modern, rahasia yang tersimpan dalam perut buaya mumi ini akhirnya tersingkap, menghadirkan potongan sejarah yang selama ini terkubur.
Reporter Magang: Ahmad Subayu





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)






















