Ternyata Ini Penyebab Banyaknya Kasus Bunuh Diri di Kalangan Remaja
Remaja lebih cenderung mendengarkan pendapat dari teman-teman mereka dibandingkan dengan orangtua.

Teman sebaya memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan remaja. Tekanan yang datang dari teman sebaya juga dikenal sebagai salah satu faktor yang memicu terjadinya bunuh diri di kalangan remaja.
Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Dia merujuk pada buku karya Gordon Neufeld, Ph.D., dan Gabor Mat, M.D., yang menekankan pentingnya keterikatan (attachment) antara orangtua dan remaja sebagai dasar yang perlu dijaga, terutama di tengah pengaruh kuat dari teman sebaya.
Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa remaja lebih cenderung mendengarkan pendapat dari teman-teman mereka dibandingkan dengan orangtua.
Namun, muncul pertanyaan apakah mereka benar-benar siap untuk menerima dan menyaring pengaruh tersebut?
Neufeld dan Mat menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi remaja saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tekanan dari lingkungan pertemanan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari tuntutan untuk mengikuti tren hingga dorongan untuk mengambil keputusan yang berisiko. Menariknya, sebagian besar kasus bunuh diri di kalangan remaja ternyata dipicu oleh tekanan dari teman sebaya.
Oleh karena itu, penting untuk membangun kembali dan memperkuat keterikatan yang mulai melemah. Orangtua perlu hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dengan cara mendengarkan, memahami, dan menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbagi cerita.
"Sebab, meskipun tubuh mereka (remaja) kini mungkin lebih tinggi dan kuat dari kita, mereka tetaplah anak-anak yang membutuhkan perlindungan, arahan, dan kasih sayang," ujar Isyana dalam keterangan resminya, Kamis (28/8).
Tantangan Dihadapi Remaja Saat Ini
Menurut Isyana, remaja saat ini tumbuh di tengah derasnya pengaruh media sosial, tekanan akademik, dan proses pencarian identitas diri. Mereka menghadapi berbagai tantangan yang mungkin belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya.
Di satu sisi, orangtua dituntut untuk bekerja keras dan meraih prestasi. Namun, di sisi lain, anak-anak memerlukan sosok yang hadir secara emosional, menjadi pendengar yang baik, serta menjadi teladan dalam bersikap.
Isyana mencerminkan fenomena sehari-hari yang umum terjadi, di mana perangkat gawai seolah telah menjadi anggota keluarga baru.
"Pertanyaannya, apakah kita (orangtua) masih menjadi tempat pulang dan bercerita yang paling nyaman bagi anak?" ujarnya.
Dia menekankan pentingnya bagi orangtua untuk memahami dunia anak, termasuk tren dan istilah populer yang berkembang di kalangan generasi saat ini. Orangtua tidak perlu memaksakan diri untuk meniru gaya hidup anak muda. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang kuat agar anak tetap menjadikan orangtuanya sebagai rujukan utama.
Dalam kesempatan tersebut, Isyana juga menekankan bahwa setiap keluarga memiliki dinamika dan tantangan yang berbeda. Tugas orangtua adalah mengenali kebutuhan anak secara tepat, menyesuaikan pendekatan pengasuhan, dan terus belajar.
"Kesibukan di kantor tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan kedekatan dengan anak. Karena hubungan yang hangat dan saling percaya adalah benteng terkuat menghadapi beratnya tantangan remaja di era ini," tambahnya.
Dengan demikian, orangtua diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung bagi anak-anak mereka, agar mereka merasa nyaman untuk berbagi cerita dan pengalaman. Hal ini akan membantu anak-anak untuk tumbuh dengan baik dan menghadapi berbagai tantangan yang ada di dunia modern ini.
Masalah Komunikasi Antara Remaja dan Orangtua
Menurut Aisha Tiara Pratiwi, seorang siswi di SMK Negeri 63 Jakarta Selatan, hasil survei yang ia lakukan menunjukkan beberapa kendala dalam komunikasi antara remaja dan orangtua. Beberapa masalah yang teridentifikasi adalah:
- Minimnya waktu yang dihabiskan bersama
- Ketakutan untuk dihakimi saat berbagi cerita
- Dominasi orangtua dalam percakapan.
Remaja berharap agar mereka dapat memiliki waktu berkualitas dengan orangtua, didengarkan tanpa gangguan, saling memahami, serta orangtua yang lebih terbuka terhadap pandangan mereka.
Dari perspektif orangtua, Herman Josis Mokalu, yang dikenal sebagai Yosi Project Pop, menekankan pentingnya memahami bahwa digitalisasi telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Ia menjelaskan bahwa nilai kesabaran dan proses menjadi semakin sulit untuk diterapkan, di mana komunikasi sering kali terganggu oleh perbedaan gaya bahasa, dan anak-anak mudah terpengaruh oleh informasi yang instan.
"Solusinya adalah menyambungkan bahasa komunikasi, memberi edukasi nilai dengan cara yang mereka mengerti, serta mengatur waktu agar prioritas keluarga tetap terjaga," ujarnya.
Kata Psikolog
Dalam penjelasan yang sama, psikolog Johana Rosalina K., Ph.D, menjelaskan bahwa remaja mengalami fase perubahan yang signifikan, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap kebingungan dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, paparan informasi melalui media sosial sering kali menambah tekanan, menyebabkan kebingungan identitas, dan bahkan memicu stres. Ia mendorong orangtua untuk menerapkan pendekatan pengasuhan positif: menciptakan hubungan yang kokoh, melakukan komunikasi yang demokratis, menerapkan disiplin yang konstruktif, dan memberikan teladan yang baik.
"Disiplin positif bukanlah tentang menundukkan anak, tetapi tentang membantu mereka mengembangkan kekuatan diri dan rasa tanggung jawab," jelasnya.
Orangtua juga disarankan untuk menggunakan "I message" agar kata-kata yang diucapkan dapat menjadi dorongan positif bagi anak. Membangun komunikasi yang harmonis dengan remaja bukanlah hal yang dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan merupakan proses panjang yang memerlukan kesabaran, kepekaan, dan komitmen.
Hal ini disampaikan dalam program Kelas Orang Tua Bersahaja yang diadakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Ditekankan bahwa setiap orangtua memiliki peran penting sebagai jangkar emosional bagi anak, terutama ketika dunia luar dipenuhi dengan kebisingan dan gangguan.
"Dengan memahami kebutuhan remaja, membuka ruang untuk dialog tanpa menghakimi, serta hadir secara emosional, kita dapat menanamkan rasa aman yang akan mereka bawa sepanjang hidup," tutup Isyana.
Layanan Bantuan
Bunuh diri bukanlah solusi atau jawaban atas berbagai masalah hidup yang sering menghimpit kita. Jika Anda, teman, saudara, atau anggota keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, merasa tertekan, atau memiliki dorongan untuk mengakhiri hidup, sangat penting untuk menghubungi dokter spesialis kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan terdekat, seperti Puskesmas atau Rumah Sakit.
Anda juga dapat mengunduh aplikasi Sahabatku melalui tautan berikut: Sahabatku. Selain itu, Anda bisa menghubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes di nomor 1500-567, yang siap melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran dari masyarakat.
Alternatif lain, Anda dapat mengirim pesan singkat ke nomor 081281562620, atau menghubungi melalui faksimili di (021) 5223002 dan 52921669. Anda juga bisa mengirim email ke alamat [email protected] untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477548/original/051022700_1768861609-IMG_20260120_011736.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4848901/original/076050200_1717138481-IMG20240531104427.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477505/original/010719300_1768833274-Prabowo_Mahasiswa_Papua.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477503/original/080786400_1768831286-Bocah_lima_tahun_asal_Sukabumi_jago_matematika.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477497/original/032473000_1768829852-Prabowo_Rapat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477493/original/012138900_1768829400-Rektor_nonaktif_UNM_Karta_Jayadi.jpg)




















