Bagaimana Astronot Berpuasa di Luar Angkasa?
Astronot Muslim berhasil menjalankan ibadah puasa di luar angkasa meski menghadapi tantangan unik terkait siklus siang dan malam.

Berpuasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim di seluruh dunia. Namun, bagaimana jika ibadah tersebut dilakukan di luar angkasa?
Astronot Muslim menghadapi tantangan yang sangat signifikan ketika menjalankan ibadah puasa di lingkungan yang tidak biasa, seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Di luar angkasa, siklus matahari terbit dan terbenam berlangsung setiap 90 menit, jauh berbeda dengan yang dialami di Bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: kapan waktu imsak dan berbuka puasa yang tepat?
Dalam situasi yang unik ini, para astronot Muslim tidak hanya harus beradaptasi dengan kondisi mikrogravitasi, tetapi juga harus mencari solusi praktis untuk menjalankan ibadah puasa mereka.
Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk memastikan bahwa mereka tetap dapat melaksanakan kewajiban agama meskipun berada di luar angkasa.
Dukungan dari para ulama dan komunitas ilmiah menjadi sangat penting dalam proses ini, memberikan panduan yang dibutuhkan untuk menjalankan ibadah dengan benar.
Sejarah mencatat bahwa salah satu astronot Muslim pertama yang berpuasa di luar angkasa adalah Sultan bin Salman Al Saud, pangeran Arab Saudi yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada tahun 1985.
Ia mengikuti waktu puasa Mekkah selama berada di pesawat ulang-alik Discovery. Keberanian dan komitmen Sultan bin Salman membuka jalan bagi astronot Muslim lainnya untuk menjalankan ibadah puasa di luar angkasa, meskipun tantangan yang dihadapi sangat berbeda.
Tantangan Berpuasa di Luar Angkasa
Tantangan utama yang dihadapi astronot Muslim saat berpuasa di luar angkasa adalah perbedaan signifikan dalam siklus siang dan malam. Di ISS, satu hari terdiri dari 16 kali matahari terbit dan terbenam, yang membuat penentuan waktu imsak dan berbuka menjadi sangat rumit.
Oleh karena itu, para ulama telah memberikan fatwa yang mengizinkan para astronot untuk menyesuaikan waktu puasa mereka dengan mengikuti waktu di suatu lokasi di Bumi, seperti Mekkah.
Sultan Al-Neyadi, astronot dari Uni Emirat Arab, juga berencana untuk berpuasa saat menjalankan misi luar angkasa. Meskipun sebagai musafir, puasa sebenarnya tidak diwajibkan, namun ia tetap berkomitmen untuk menjalankannya. Ini menunjukkan dedikasi dan kepatuhan yang tinggi terhadap ajaran agama, meskipun dalam situasi yang tidak biasa.
Sheikh Muszaphar Shukor, astronot Muslim pertama dari Malaysia, juga menghadapi tantangan serupa saat berada di ISS. Ia berkoordinasi dengan 150 ulama dan ilmuwan untuk mendapatkan fatwa yang membimbingnya dalam menjalankan ibadah selama di luar angkasa. Fatwa tersebut mencakup penentuan waktu sholat berdasarkan lokasi peluncuran dan cara melakukan sholat dalam kondisi mikrogravitasi.
Adaptasi dan Inovasi Astronot Muslim
Astronot Muslim menunjukkan kemampuan luar biasa dalam beradaptasi dengan kondisi unik di luar angkasa. Dengan mengikuti pedoman agama yang disesuaikan, mereka tetap dapat menjalankan ibadah puasa dan sholat meskipun dengan cara yang berbeda. Inovasi menjadi kunci dalam menjalankan ibadah di lingkungan yang tidak biasa ini.
Para astronot tidak hanya mencari panduan dari para ulama, tetapi juga berinovasi dalam cara mereka menjalankan ibadah. Misalnya, mereka harus menemukan cara untuk melaksanakan sholat dalam kondisi mikrogravitasi, di mana setiap gerakan harus disesuaikan agar tetap dapat dilakukan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berada jauh dari Bumi, komitmen untuk menjalankan ajaran agama tetap menjadi prioritas.
Dengan berbagai tantangan yang ada, astronot Muslim tetap bertekad untuk menjalankan ibadah puasa dan sholat. Mereka membuktikan bahwa iman dan dedikasi tidak mengenal batas, bahkan di luar angkasa.
Komunitas Muslim di Bumi juga memberikan dukungan moral yang sangat penting bagi mereka, menunjukkan bahwa ikatan spiritual tetap terjaga meskipun jarak fisik memisahkan.
Kesimpulannya, astronot Muslim telah menunjukkan bahwa meskipun berada di luar angkasa, mereka tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan berbagai penyesuaian yang diperlukan. Dengan dukungan dari para ulama dan inovasi dalam praktik ibadah, mereka membuktikan bahwa iman dapat bertahan dalam kondisi apa pun.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)




















