Pilih Hidup Damai di Kolong Jembatan, Pria Paruh Baya Ini Ternyata Bukan Orang Sembarangan
Hafiz warga asli Jember, yang menghabiskan sembilan tahun terakhir hidupnya jauh dari kenyamanan

Di balik hiruk-pikuk kota, tepatnya di kolong jembatan yang ramai dilewati kendaraan, tinggal seorang pria paruh baya yang tidak biasa.
Namanya Hafiz warga asli Jember, yang menghabiskan sembilan tahun terakhir hidupnya jauh dari kenyamanan, rumah memilih tinggal di sebuah gubuk kecil yang dibangunnya sendiri bersama bantuan warga sekitar.
Namun siapa sangka, pria yang tampak seperti gelandangan ini menyimpan latar belakang yang mengejutkan. Hafiz adalah seorang mantan dokter spesialis THT, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat melanjutkan pendidikan spesialis di Singapura dan tinggal di Italia selama empat tahun.
"Saya S1-nya di UI kedokteran umum, dan dulu buka apotek juga di Jember. Tapi setelah semua kejadian itu, saya memutuskan untuk meninggalkan semuanya," ungkap Hafiz, dengan tatapan kosong, seperti dikutip dari kanal YouTube Sinau Hurip, Selasa (29/7).
Hafiz kehilangan istri tercinta sesama dokter asal Cianjur, Jawa Barat dan kemudian harus menerima kenyataan pahit saat satu-satunya anak semata wayangnya meninggal dunia dalam kecelakaan jelang wisuda di Jerman. Duka bertubi-tubi itu mengubah hidupnya.
"Istri meninggal habis itu anak kuliah mau wisuda di Jerman pulang ke Indonesia belum sampai ke rumah kecelakan dan meninggal nah dari situ saya frustrasi," ujar dia.
"Saya frustrasi. Rasanya semuanya habis. Di rumah ada yayasan pendidikan yang saya kelola dulu, tapi akhirnya saya serahkan ke saudara angkat saya. Saya pergi, pindah-pindah, sempat ke kampung istri di Jawa Barat, ke Singapura lagi, lalu kembali ke sini," kenangnya.
Ketika ditanya mengapa memilih hidup di kolong jembatan, Hafiz menjawab dengan tenang, "Lebih tenang rasanya. Kalau mematikan hasrat sepenuhnya saya belum bisa, masih butuh makan, masih butuh macam-macam. Tapi setidaknya, saya belajar hidup tanpa ambisi lagi," kata dia.
Di ujung percakapan dengan pemilik akun YouTube Sinau Hurip , ia menyampaikan satu hal yang sangat menyentuh, sebuah wasiat sederhana namun dalam maknanya.
"Saya sudah siapkan segalanya, saya siap. Karena Allah yang membawa saya. Apa gunanya saya salat 5 waktu, 24 jam hidup untuk-Nya, kalau saya tidak siap menghadapi mati? Inna Sholati Wanusuki Wamahyaya Wamamati Lillahi Robbil Alamin," ujarnya
Meski hidup sederhana, Hafiz telihat menjaga kebersihan dan membina hubungan baik dengan warga sekitar. Tiga saudara angkatnya sesekali menjenguk, namun ia memilih tetap tinggal di tempat yang menurutnya lebih damai.
Kini, gubuk kecil di bawah jembatan itu bukan sekadar tempat berteduh, tapi menjadi simbol perjalanan hidup seorang manusia yang jatuh, kehilangan, dan memilih jalan sunyi yang membuatnya merasa lebih utuh.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)











