Sering Dikomplain Warga, Anak Muda Lulusan SMP Sukses Budidaya Jamur Merang
Dia seringkali harus menelan pil pahit lantaran jamur merangnya tak tumbuh sesuai dengan harapan hingga datangnya berbagai komplain.

Di masa kini, bidang pertanian rasanya cukup memberi banyak peluang yang menjanjikan kepada generasi muda. Sadar demikian, seorang pria asal Gunungkidul, Yogyakarta ini menjajal peruntungannya untuk melakukan budidaya jamur merang.
Awalnya, banyak tantangan dan kegagalan yang datang silih berganti. Dia seringkali harus menelan pil pahit lantaran jamur merangnya tak tumbuh sesuai dengan harapan. Bahkan, dia juga pernah berhadapan langsung dengan banyaknya komplain dari para tetangga kanan dan kiri.
Meski demikian, dia tak kemudian menyerah. Ada berbagai usaha dilakukannya untuk membuat jamur merang miliknya membuahkan keuntungan maksimal. Terbukti, kini usaha miliknya mulai menunjukkan hasil yang manis. Berikut ulasan selengkapnya, dilansir dari kanal YouTube Agrotek.
Pemuda Pilih jadi Petani
Arif Sutopo asal Karangasem, Mulo, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta merupakan satu di antara banyaknya generasi muda yang memilih mencari peruntungan hidup dengan menjadi seorang petani. Di tangannya sendiri, dia berjibaku melakukan budidaya jamur merang, suatu produk yang disebutnya belum banyak dipilih petani lainnya.
Seperti halnya pemula pada umumnya, Arif juga sempat menemui kesulitan di masa awal budidaya. Namun lambat laun, dirinya kian terbiasa merawat jamur merang sendiri.
“Saya milih jamur merang karena dulu 10 tahun lalu belum ada yang usaha ini, enggak ada usaha orang lain yang sama dengan saya waktu itu. Awal mula itu dulu dikasih saran sama adik sepupu dan awal proses budidaya itu sulit, belum terbiasa mungkin ya,” katanya.
Kegagalan demi kegagalan pun pernah dialaminya. Namun, hal ini justru dijadikan Arif sebagai pecutan agar dirinya kian semangat dalam mengelola bisnis pribadi. Terbukti, pengalaman dan kegagalan itu justru membuat Arif bak ditempa. Dia kian mengenal sifat dan karakter dari jamur merang sendiri.
“Kalau gagal pernah, sering sekali. Dulu belum bisa mengatur suhu, bisa juga karena faktor cuaca dan lingkungan. Ada juga karena faktor pengomposan salah. Saya dulu belajarnya pakai media kapas. Tapi lama-lama kapas enggak pakai lalu beralih ke jerami,” terangnya.

Sering Dikomplain & Hadapi Tantangan
Di tengah upayanya melakukan budidaya jamur merang secara maksimal, Arif pun juga turut mendapat tantangan lainnya. Dia mengaku sempat mendapat berbagai komplain dari tetangga kanan dan kiri.
Diakuinya, komplain tersebut datang lantaran para tetangga seringkali merasa risih dengan bau yang ditimbulkan dari budidaya jamur merang.
Dengan sekuat tenaga dan gerak cepat, Arif menanggapi. Dia kemudian memindahkan tempat budidayanya ke sejumlah tempat hingga ke tepi sungai. Namun nyatanya, di sana dia justru pernah mengalami nasib apes. Seluruh tanaman budidayanya justru kebanjiran.
“Dulu sering dikomplain, ya karena bikin usaha di rumah kemudian dibilang kotor dan membuat bau. Akhirnya pindah tempat lalu ada yang komplain dan pindah lagi ke pinggir sungai. Tapi di sana kalau hujan sering kebanjiran, akhirnya pindah lagi,” sebutnya.

Kini Mulai Membuahkan Hasil Manis
Seiring berjalannya waktu, kegagalan dan tantangan dalam bertani pun telah menjadi sahabat dekat Arif. Meski demikian, terbukti jika proses dan waktu membuat dirinya semakin kuat.
Hingga saat ini, budidaya jamur merang telah berhasil mengantarkan pemuda pekerja keras ini kepada kesuksesan. Dalam sekali panen, dia menyebut bisa menghasilkan lebih dari 15 kg jamur merang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Meski hasilnya tak fantastis, Arif mengaku begitu bersyukur.
“Sampai saat ini, kalau sekali panen bisa dapat 15 sampai 20 kg. Hasilnya ya alhamdulillah, cukup,” katanya.
Bagi Arif yang mengaku tamat SMP, menjadi petani merupakan profesi yang menjanjikan. Namun dia memberi penegasan, keberhasilan bisa saja diraih setiap petani yang menekuni pekerjaan mereka dengan sepenuh hati.
“Menurut saya, profesi petani itu menjanjikan asal ditekuni dengan sepenuh hati. Jujur, latar belakang saya dulu hanya (berpendidikan) sampai SMP, memilih petani ya karena lihat kakak usaha itu kok sepertinya gampang dan asyik. Jadinya ikut-ikutan,” tegasnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480126/original/052038900_1769043330-PHOTO-2026-01-21-23-03-35.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480091/original/039488600_1769035304-IMG_5560.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480103/original/031715700_1769041871-IMG_5557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5480102/original/000777200_1769041088-pulang-dari-inggris-prabowo-kantongi-komitmen-investasi-rp90-triliun-3fab93.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480101/original/078910000_1769040935-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_07.13.03.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5382314/original/023006700_1760577182-WhatsApp_Image_2025-10-15_at_23.02.34.jpeg)

















