AS Hadapi Risiko Besar Jika Selat Hormuz Ditutup Iran
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika berbuntut panjang dengan rencana penutupan Selat Hormuz.

Iran membalas tindakan ilegal Amerika Serikat yang membom tiga situs nuklir, dengan ancaman menutup Selat Hormuz. Selat ini sangat penting bagi dunia, lantaran menjadi rute utama dalam perdagangan minyak.
Dengan kedalaman dan lebar yang memadai, Selat Hormuz mampu dilayari oleh kapal-kapal terbesar di dunia, menjadikannya titik chokepoint paling strategis bagi distribusi energi global.
Penutupan selat ini seidikitnya akan berdampak terhadap Amerika. Merujuk data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) tahun 2023, Amerika masih mengimpor minyak 0,5 juta barel per hari dari negara-negara Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Jumlah ini mencakup 8 persen dari total impor minyak dan kondensat AS, serta sekitar 2 persen dari konsumsi cairan minyak bumi nasional. Angka impor ini telah berkurang separuh sejak 2018 seiring meningkatnya produksi dalam negeri AS.
Tak hanya minyak, gas alam cair (LNG) juga mengalir deras melalui selat ini. Qatar, sebagai eksportir utama, mengirimkan sekitar 9,5 triliun kaki kubik LNG per hari melalui Selat Hormuz pada 2023.
Sementara itu, Uni Emirat Arab mengekspor sekitar 0,6 triliun kaki kubik per hari, dan Kuwait mengimpor LNG dalam jumlah kecil dari jalur yang sama. Namun, jalur ini sangat rentan terhadap gangguan geopolitik.
Negara yang Memiliki Rute Alternatif
Jika Selat Hormuz ditutup, hanya Arab Saudi dan UEA yang memiliki alternatif melalui jaringan pipa darat. Saudi Aramco mengoperasikan jaringan pipa Timur-Barat berkapasitas 5 juta barel per hari, yang sempat ditingkatkan menjadi 7 juta barel pada 2019 dengan memodifikasi sebagian jaringan pipa gas.
Di sisi lain, UEA memiliki jalur pipa dari ladang minyak darat menuju terminal ekspor di Fujairah di Teluk Oman dengan kapasitas 1,5 juta barel per hari.
Diperkirakan, sekitar 2,6 juta barel per hari kapasitas minyak cadangan dari jaringan pipa Saudi dan UEA dapat dialihkan melewati selat jika terjadi gangguan besar.
Iran sendiri meresmikan jaringan pipa Goreh-Jask pada Juli 2021, dengan kapasitas awal 0,3 juta barel per hari yang langsung tersambung ke terminal ekspor minyak Jask di Teluk Oman. Namun, sejak peluncuran kargo perdana, Iran belum kembali menggunakan jalur ini secara aktif.
Meski ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak November 2023 akibat serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah, hingga April 2024, aliran energi melalui Selat Hormuz tetap berjalan normal. Namun demikian, ketergantungan dunia terhadap selat ini tetap menimbulkan kekhawatiran global setiap kali muncul potensi konflik.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/4848901/original/076050200_1717138481-IMG20240531104427.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477505/original/010719300_1768833274-Prabowo_Mahasiswa_Papua.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477503/original/080786400_1768831286-Bocah_lima_tahun_asal_Sukabumi_jago_matematika.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477497/original/032473000_1768829852-Prabowo_Rapat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477493/original/012138900_1768829400-Rektor_nonaktif_UNM_Karta_Jayadi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477488/original/030082500_1768828543-Mapolres_Kudus.jpeg)























