Dinas Perikanan Malang Usulkan Hilirisasi Garam untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Dinas Perikanan Kabupaten Malang berupaya keras mengusulkan hilirisasi garam di Pantai Modangan kepada pemerintah pusat, sebuah langkah strategis untuk meningkatkan nilai jual dan kesejahteraan petani garam di wilayah tersebut.

Dinas Perikanan Kabupaten Malang tengah gencar mengusulkan program hilirisasi untuk potensi garam yang melimpah di Pantai Modangan. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai jual produk garam dan mendorong kesejahteraan para petambak garam di wilayah tersebut. Usulan ini disampaikan langsung kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), demi mendapatkan dukungan anggaran yang diperlukan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menyatakan bahwa pihaknya sedang aktif melobi KKP untuk merealisasikan program hilirisasi ini. Victor menjelaskan bahwa pengolahan garam menjadi produk akhir akan secara signifikan meningkatkan harganya, sehingga memberikan dampak positif bagi pendapatan petani. Fokus utama hilirisasi saat ini adalah di Pantai Modangan karena potensi produksinya yang sangat besar.
Dengan adanya hilirisasi garam, diharapkan akan terbangun fasilitas pengolahan berskala kecil yang mampu menampung dan mengolah hasil panen. Produk olahan tersebut nantinya dapat berupa garam konsumsi siap pakai atau bahan baku penting untuk industri makanan dan minuman. Kualitas garam dari Pantai Modangan yang sudah dikenal baik menjadi modal kuat untuk pengembangan produk hilirisasi ini.
Potensi Besar Garam Pantai Modangan
Pantai Modangan di Kabupaten Malang memiliki potensi besar dalam produksi garam, terutama melalui metode tunnel. Garam yang dihasilkan saat ini masih dalam bentuk garam krosok, dengan volume panen mencapai tiga hingga empat ton setiap 20 hari sekali. Produksi ini berasal dari pemanfaatan 40 unit tunnel yang telah tersedia di lokasi tersebut.
Harga jual garam krosok dari Pantai Modangan saat ini berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per kilogram. Dengan adanya hilirisasi, nilai jual ini diharapkan dapat meningkat drastis, memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. Kualitas garam Modangan yang baik menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Distribusi garam krosok dari Pantai Modangan saat ini masih terbatas pada skala lokal, mencakup beberapa daerah di sekitar Kabupaten Malang. Wilayah seperti Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung menjadi pasar utama bagi produk garam dari Modangan. Perluasan pasar akan menjadi salah satu target setelah proses hilirisasi terealisasi.
Manfaat Hilirisasi untuk Kesejahteraan Petani
Hilirisasi garam menawarkan prospek cerah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petambak garam. Dengan mengubah garam krosok menjadi produk bernilai tambah, petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk olahan yang memiliki harga jual lebih tinggi. Ini akan mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga garam mentah di pasaran.
Victor Sembiring menegaskan bahwa tujuan utama lobi ke Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah agar garam dapat menjadi final product. Proses pengolahan ini akan memastikan bahwa petani mendapatkan keuntungan maksimal dari hasil kerja keras mereka. Pembangunan pabrik pengolahan kecil di lokasi akan menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal.
Selain Pantai Modangan, daerah lain di Kabupaten Malang seperti Desa Sidoasri juga menghasilkan garam dengan sistem tunnel. Namun, produksi di Sidoasri masih lebih rendah, sekitar empat hingga lima kuintal per panen, karena kondisi angin dan panas yang tidak seoptimal di Modangan. Oleh karena itu, fokus awal hilirisasi akan diprioritaskan pada wilayah dengan produksi terbesar seperti Modangan.
Dukungan Pemerintah dan Akademisi dalam Pengembangan Garam
Pemerintah Kabupaten Malang, melalui Dinas Perikanan Kabupaten Malang, berkomitmen penuh untuk terus memberikan pendampingan dan pemantauan kepada para petambak garam. Dukungan ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan produksi dan kesuksesan program hilirisasi. Pendampingan mencakup aspek teknis produksi hingga pemasaran produk.
Dalam upaya pengembangan ini, Dinas Perikanan Kabupaten Malang menggandeng Universitas Brawijaya (UB) Malang. Kolaborasi dengan akademisi diharapkan dapat memberikan inovasi dan solusi teknologi dalam proses pengolahan garam serta peningkatan kualitas produk. Keterlibatan pihak universitas juga akan membantu dalam penelitian dan pengembangan pasar.
Upaya kolektif dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan institusi pendidikan ini menunjukkan keseriusan dalam mengoptimalkan potensi garam di Kabupaten Malang. Hilirisasi garam bukan hanya tentang peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat dan penciptaan kemandirian ekonomi di sektor kelautan dan perikanan.
Sumber: AntaraNews



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)








