Gua Batu Hapu: Pesona Warisan Geologi Meratus yang Memukau Dunia
Jelajahi keindahan Gua Batu Hapu, warisan geologi berusia jutaan tahun di Pegunungan Meratus, yang kini menjadi destinasi wisata nasional dan internasional yang memukau.

Gua Batu Hapu, sebuah situs geologi menakjubkan, menyambut setiap pengunjung dengan ketenangan dan keindahan alamnya. Terletak di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, gua ini menawarkan pengalaman wisata yang unik. Cahaya matahari yang menembus celah alami gua menciptakan suasana sakral dan memukau.
Terbentuk dari batu gamping Formasi Berai, Gua Batu Hapu diperkirakan berusia antara 16 hingga 36,5 juta tahun, dari periode Oligosen hingga Miosen awal. Pada masa itu, wilayah ini merupakan laut dangkal, kurang dari 30 meter dalamnya. Keunikan geologisnya menjadikan Gua Batu Hapu sebagai warisan alam yang tak ternilai harganya.
Kini, Gua Batu Hapu tidak hanya menjadi daya tarik lokal, tetapi juga bagian penting dari Geopark Meratus yang telah diakui UNESCO Global Geopark pada Juni 2025. Pengelolaan yang terorganisir oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) telah meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Destinasi ini memadukan keindahan alam, edukasi geologi, dan warisan budaya lokal.
Pesona Geologi dan Keunikan Gua Batu Hapu
Nama "Hapu" sendiri berasal dari bahasa setempat yang berarti putih, merujuk pada warna dominan dinding gua yang pucat. Dengan ketinggian puncak sekitar 120 meter di atas permukaan laut, gua ini memiliki mulut yang besar dan ruang dalam yang lapang. Interiornya dihiasi dengan berbagai ornamen karst seperti stalaktit, stalagmit, dan tirai gua yang terbentuk alami selama jutaan tahun.
Proses pembentukan Gua Batu Hapu yang berasal dari batu gamping Formasi Berai menunjukkan sejarah geologi yang panjang. Wilayah ini dulunya adalah laut dangkal, memberikan petunjuk penting tentang evolusi Bumi di kawasan tersebut. Keunikan ini menjadikan Gua Batu Hapu sebagai laboratorium alam yang berharga untuk penelitian geologi.
Selain keindahan formasi batunya, Gua Batu Hapu juga menjadi habitat penting bagi ribuan kelelawar yang bergelantungan di langit-langit gua. Kelelawar ini, yang terdiri dari setidaknya tiga warna (putih, cokelat kemerahan, dan hitam), membentuk ekosistem yang masih terjaga. Keberadaan mereka turut berkontribusi pada kesuburan tanah di sekitar gua melalui kotorannya.
Dari Pemanfaatan Lokal hingga Destinasi Wisata Unggulan
Sebelum dikenal sebagai objek wisata, Gua Batu Hapu telah lama dimanfaatkan oleh warga setempat. Para petani secara tradisional mengambil kotoran kelelawar dari dasar gua untuk dijadikan pupuk alami. Pemanfaatan ini menunjukkan hubungan erat antara masyarakat dan lingkungan gua selama bertahun-tahun.
Perkembangan fungsi gua sebagai tempat rekreasi mulai terlihat sejak kedatangan warga transmigran pada sekitar tahun 1980-an. Seiring waktu, kawasan ini dilirik sebagai lokasi hiburan rakyat, bahkan pernah menjadi tempat pertunjukan orkes melayu. Pardiyana, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gua Batu Hapu, bersama warga lain telah merintis dan menjaga gua ini sejak 1987.
Sejak tahun 2022, pengelolaan wisata Gua Batu Hapu dilakukan lebih terorganisir oleh Pokdarwis yang beranggotakan 16 orang. Mereka aktif merawat kawasan, menjaga kebersihan, dan mendampingi wisatawan. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, termasuk dari Australia, Italia, Portugal, dan India, terjadi setelah aparat desa membangun taman dan fasilitas pendukung. Dengan tiket masuk Rp5.000, Gua Batu Hapu menawarkan wisata alam yang terjangkau.
Selain gua utama, Desa Batu Hapu juga memiliki potensi wisata lain yang menarik. Terdapat dua gua dengan mata air dan sungai bawah tanah, serta satu gua khusus kelelawar untuk penelitian dan pendidikan. Kawasan panjat tebing yang dikenal sebagai gua gunung juga kerap digunakan para pecinta alam.
Gua Batu Hapu dalam Jaringan Geopark Meratus
Nilai strategis Gua Batu Hapu semakin menguat setelah ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Meratus. Pada tahun 2018, situs ini bersama 53 situs lainnya resmi menjadi Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia. Gua Batu Hapu tercatat sebagai situs ke-44 dan berada di jalur utara, merepresentasikan proses pembentukan Pegunungan Meratus.
Pengakuan dunia internasional datang ketika UNESCO menetapkan Geopark Meratus sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp). Sertifikat pengakuan tersebut diterima oleh Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin, didampingi Duta Besar Indonesia untuk Prancis Mohamad Oemar, di Paris, Prancis, pada 3 Juni 2025. Status geopark ini membawa dampak positif yang signifikan bagi Desa Batu Hapu, meningkatkan popularitasnya di kancah global.
Kepala Desa Batu Hapu, Mardiono, menyatakan bahwa status geopark telah membuat Gua Batu Hapu semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Meskipun demikian, tantangan permodalan masih dihadapi untuk pengembangan lebih lanjut. Mardiono berharap Geopark Meratus dapat menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga warisan geologi dan budaya ini.
Gua Batu Hapu juga menyimpan legenda lokal tentang Nini Kudampi, seorang janda miskin yang mengutuk anaknya menjadi kapal yang pecah dan membentuk gua. Kisah ini hidup berdampingan dengan fakta ilmiah tentang proses geologi jutaan tahun silam. Di perut Pegunungan Meratus, Gua Batu Hapu menjadi saksi bisu perjalanan Bumi, menyatukan alam, sejarah, dan budaya yang harus dirawat bersama.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477548/original/051022700_1768861609-IMG_20260120_011736.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4848901/original/076050200_1717138481-IMG20240531104427.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477505/original/010719300_1768833274-Prabowo_Mahasiswa_Papua.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477503/original/080786400_1768831286-Bocah_lima_tahun_asal_Sukabumi_jago_matematika.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477497/original/032473000_1768829852-Prabowo_Rapat.jpg)












