Harga Emas Pecah Rekor Termahal Sepanjang Sejarah, Sekarang Dibanderol Segini
Pada saat itu, harga logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi di angka USD 3.646,29 per ounce.

Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi baru di atas USD 3.600 per ounce pada perdagangan yang berlangsung pada Selasa (9/9). Kenaikan harga emas ini disebabkan oleh meningkatnya harapan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yang dikenal sebagai Federal Reserve (The Fed), akan segera melakukan pemangkasan suku bunga.
Langkah pemangkasan suku bunga ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan adanya pelemahan yang cukup signifikan.
Menurut laporan dari CNBC, harga emas di pasar spot mengalami kenaikan sebesar 1,2 persen menjadi USD 3.632,51 per ounce, sedangkan emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Desember meningkat 0,7 persen menjadi USD 3.680,30.
Pada saat itu, harga logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi di angka USD 3.646,29 per ounce.
Peter Grant, yang menjabat sebagai Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyatakan bahwa momentum kenaikan harga emas masih memiliki potensi untuk berlanjut.
"Melemahnya pasar tenaga kerja yang berkelanjutan dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang berlanjut hingga awal 2026 dapat memberikan dukungan berkelanjutan bagi emas batangan," ujarnya.
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada bulan Agustus menunjukkan adanya pelambatan yang tajam dalam pertumbuhan lapangan kerja.
Berdasarkan informasi dari CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sebesar 88 persen untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed di bulan September ini, serta kemungkinan 12% untuk pemangkasan yang lebih besar, yaitu sebesar 50 basis poin.
Harga Emas Naik 38 Persen Sepanjang 2025

Penurunan suku bunga menjadikan emas semakin menarik, karena hal ini mengurangi biaya peluang untuk menyimpan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Sepanjang tahun 2025, harga emas mengalami kenaikan sebesar 38 persen, setelah sebelumnya naik 27 persen di tahun 2024.
Kenaikan harga ini didorong oleh beberapa faktor, seperti melemahnya dolar AS, akumulasi emas oleh bank sentral, kebijakan moneter yang cenderung dovish, serta adanya ketidakpastian di tingkat global.
Data terbaru menunjukkan bahwa bank sentral China telah memperpanjang pembelian emasnya selama 10 bulan berturut-turut hingga bulan Agustus. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan mendekati level terendah dalam lima bulan terakhir. Keadaan ini menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga emas, karena investor mencari aset yang lebih aman di tengah fluktuasi pasar.
Peringatan Analis

Di masa mendatang, para investor akan memperhatikan rilis data harga produsen AS yang dijadwalkan pada hari Rabu dan data harga konsumen pada hari Kamis. Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan yang akan diambil oleh The Fed.
"Jika pelemahan data AS berlanjut, maka momentum bullish emas yang sedang berlangsung juga akan berlanjut, karena dolar AS dan imbal hasil terus turun," ungkap Fawad Razaqzada, seorang analis dari City Index dan FOREX.com.
Namun, dia juga memperingatkan, jika data AS justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan, emas bisa terkoreksi dari level tinggi saat ini.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482441/original/024948900_1769210307-1001544126.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482440/original/041593200_1769209602-154379.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482439/original/097662000_1769208475-IMG-20260124-WA0005.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482423/original/007306000_1769187020-1000017452.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481427/original/032187300_1769130251-WhatsApp_Image_2026-01-23_at_08.01.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482422/original/066428100_1769187014-IMG-20260123-WA0194.jpg)























