Harga Emas Dunia Nyaris Sentuh USD 3.900, Analis Ramal Bisa Tembus USD 4.000
Kenaikan harga emas dipicu oleh derasnya aliran dana yang keluar dari dolar AS menuju aset aman.

Harga emas dunia terus menunjukkan tren penguatan tajam dan kini mendekati level psikologis USD 3.900 per ons. Penguatan ini terjadi di tengah penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran investor atas kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.
Dikutip dari Kitco.com, Minggu (5/10), pada perdagangan terakhir pekan ini, harga emas spot tercatat di USD 3.885,05 per ons, naik 0,74% dalam sehari dan 3,68% sepanjang pekan.
Level ini menjadi titik tertinggi sejak pertengahan tahun, memperpanjang reli kenaikan emas selama tujuh minggu berturut-turut.
Kenaikan harga emas dipicu oleh derasnya aliran dana yang keluar dari dolar AS menuju aset aman.
Shutdown pemerintahan AS membuat pasar kekurangan data ekonomi resmi, sementara ketegangan geopolitik di Eropa dan Timur Tengah menambah sentimen negatif terhadap mata uang utama dunia tersebut.
Investor Global Kompak Optimistis, Targetkan Emas ke USD 4.000
Survei mingguan Kitco News menunjukkan sentimen bullish yang kuat di kalangan pelaku pasar.
Dari 12 analis Wall Street yang disurvei, 92% memperkirakan harga emas akan terus naik pekan depan. Sementara di sisi investor ritel, 74% juga memprediksi tren penguatan berlanjut.
“Emas sudah naik tujuh minggu berturut-turut dan hanya turun sekali sejak akhir Juli,” ujar Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler.
Ia menilai level USD 3.800 menjadi dukungan kuat bagi harga emas, dan menilai USD 4.000 per ons tidak lagi terasa jauh Senada, Darin Newsom, analis senior di Barchart.com, mengatakan kondisi ekonomi global yang tidak stabil membuat bank sentral dan investor institusional terus menambah cadangan emas.
“Ketika kepercayaan terhadap dolar AS menurun, emas selalu menjadi tempat pelarian," ujar Newsom.
Sementara itu, beberapa analis menilai tren kenaikan ini masih panjang. Daniel Pavilonis, broker senior di RJO Futures, bahkan memperkirakan harga emas bisa mencapai USD 8.000 hingga USD 10.000 per ons pada 2030 jika situasi ekonomi global tidak membaik.
Fokus Pasar Beralih ke The Fed dan Dolar
Pekan depan, pasar keuangan global diperkirakan bergerak hati-hati karena terbatasnya data ekonomi AS akibat shutdown.
Investor akan menantikan rilis notulen rapat kebijakan moneter The Federal Reserve pada Rabu, serta Survei Sentimen Konsumen University of Michigan pada Jumat.
Meski begitu, sejumlah analis menilai data tersebut tidak akan banyak mengubah arah pasar. Kepala Strategi Pasar di SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, mengatakan bahwa penutupan pemerintahan AS justru menurunkan daya tarik dolar AS sebagai aset aman.
“Modal global kini beralih ke emas karena investor mulai sadar bahwa Amerika Serikat tidak seaman yang mereka kira," ujar Cieszynski.
Selain itu, arus investasi ke Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada September.
Bank-bank besar seperti Goldman Sachs dan Deutsche Bank bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi naik hingga USD 5.000 per ons dalam jangka menengah.
“Kesalahan pengelolaan keuangan global, suku bunga rendah, hingga melemahnya dolar semuanya berpihak pada emas. Dalam kondisi seperti sekarang, hampir semua lampu hijau menyala bagi emas," kata Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523413/original/016886200_1772813353-4771.jpg)























