Pertanian Ladang dan Kerajinan Tenun: Pilar Utama Ekonomi Masyarakat Badui
Mengungkap dua sektor kunci yang menjadi tulang punggung ekonomi Masyarakat Badui, yaitu pertanian ladang dengan sistem tumpang sari dan kerajinan kain tenun yang telah diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Badui, yang mendiami pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, secara turun-temurun mengandalkan dua sektor utama sebagai penopang kehidupan ekonomi mereka. Kedua sektor tersebut adalah pertanian ladang dengan sistem tumpang sari dan kerajinan kain tenun tradisional. Model ekonomi ini telah menjadi bagian integral dari budaya dan keberlangsungan hidup mereka sejak dahulu kala, sesuai dengan warisan leluhur.
Tetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menegaskan bahwa mata pencarian ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Badui. Pernyataan ini disampaikan saat menerima kunjungan wartawan dalam kegiatan Kemah Budaya Wartawan. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang diselenggarakan di Lebak.
Sistem pertanian ladang yang diterapkan oleh kaum lelaki Badui sangat beragam, mencakup penanaman padi gogo, jagung, sayuran, palawija, kencur, jahe, hingga tanaman keras. Sementara itu, kaum perempuan Badui memiliki peran penting sebagai perajin kain tenun dan berbagai aksesoris. Kedua aktivitas ini secara sinergis menghasilkan pendapatan yang berkontribusi pada kesejahteraan keluarga.
Pertanian Ladang Berbasis Adat dan Keberlanjutan
Pertanian ladang masyarakat Badui dilakukan di lahan darat dengan mengadopsi sistem tumpang sari, sebuah praktik yang sesuai dengan pedoman adat leluhur yang telah dipegang teguh. Kaum lelaki Badui bertanggung jawab penuh dalam mengelola pertanian ini, memastikan pasokan pangan dan komoditas lainnya tetap terjaga. Metode bercocok tanam ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan memenuhi kebutuhan hidup.
Berbagai jenis tanaman dibudidayakan, menunjukkan keragaman hasil pertanian mereka yang kaya. Komoditas utama meliputi padi gogo, jagung, sayuran, dan palawija, yang merupakan sumber pangan pokok. Selain itu, tanaman rempah seperti kencur dan jahe, serta tanaman keras, juga turut ditanam untuk keperluan konsumsi dan perdagangan lokal.
Siklus panen dari hasil pertanian ini bervariasi, mulai dari tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, hingga dua belas bulan, memungkinkan adanya panen berkelanjutan sepanjang tahun. Hal ini sangat mendukung stabilitas ekonomi keluarga Badui, mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas. Pengembangan pertanian ini tidak hanya terbatas pada tanah hak ulayat adat, tetapi juga meluas ke luar wilayah tersebut.
Beberapa lokasi di luar hak ulayat adat yang dimanfaatkan untuk pertanian antara lain Cileles, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik, dan Cirinten. Aktivitas bercocok tanam ini dilaksanakan setiap setahun sekali, mengikuti kalender adat yang telah ditetapkan, menunjukkan ketaatan mereka terhadap tradisi. Produksi panen pertanian ladang ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Badui.
Kerajinan Tenun dan Produk Adat sebagai Sumber Penghasilan
Selain pertanian, kerajinan tangan memegang peranan vital sebagai sektor ekonomi lain yang menopang masyarakat Badui. Kaum perempuan Badui memiliki peran sentral sebagai perajin kain tenun dan berbagai asesoris, menunjukkan keterampilan dan kreativitas yang tinggi. Proses pengerjaan kerajinan ini umumnya dilakukan di balai-balai rumah mereka, menciptakan suasana kerja yang komunal dan produktif.
Berbagai jenis kerajinan dihasilkan, mencerminkan kekayaan budaya dan keunikan Suku Badui. Produk-produk tersebut meliputi kain tenun khas, lomar atau ikat kepala, baju kampret, dan selendang, yang masing-masing memiliki nilai estetika dan fungsi. Keunikan serta kualitas produk-produk ini menjadikannya daya tarik tersendiri bagi pembeli, baik dari kalangan wisatawan maupun kolektor.
Harga produk kerajinan Badui sangat bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga mencapai Rp750 ribu, tergantung pada jenis, bahan, dan tingkat kerumitan pembuatannya. Jaro Oom mengungkapkan rasa syukurnya bahwa dari hasil bercocok tanam dan kerajinan ini, kehidupan ekonomi masyarakat Badui secara umum relatif baik. Ini menunjukkan efektivitas model ekonomi tradisional mereka.
Salah satu contoh keberhasilan datang dari Atim, seorang warga Badui Luar, yang melaporkan peningkatan pendapatan signifikan dari penjualan produk kerajinan adat. Dalam dua bulan terakhir, omzet pendapatannya bahkan mencapai Rp14 juta. Atim menjelaskan bahwa produk yang dijualnya sebagian besar merupakan hasil kerajinan istrinya, dan sebagian lainnya diambil dari perajin lain, menunjukkan adanya jaringan ekonomi yang saling mendukung di antara mereka.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482441/original/024948900_1769210307-1001544126.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482440/original/041593200_1769209602-154379.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482439/original/097662000_1769208475-IMG-20260124-WA0005.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482423/original/007306000_1769187020-1000017452.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481427/original/032187300_1769130251-WhatsApp_Image_2026-01-23_at_08.01.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482422/original/066428100_1769187014-IMG-20260123-WA0194.jpg)


















